YOGYAKARTA - Ada banyak tokoh sastrawan Indonesia yang telah memberikan kontribusinya dalam sejarah sastra Tanah Air.
Dalam artikel ini, akan dibahas biografi singkat tokoh sastrawan Indonesia, sehingga dapat menambah wawasan kita tentang perjalanan hidup sekaligus pengaruh mereka terhadap perkembangan sastra.
Tokoh Sastrawan Indonesia
Ajip Rosidi
Dilansir dari laman Badan Bahasa Kemdikbud, Ajip Rosidi adalah sastrawan, budayawan, dosen, redaktur penerbit sekaligus pendiri dan Ketua Yayasan Kebudayaan Rancage.
Dalam bidang sastra, Ia berhasil mengembangkan karir pada bidang sastra Indonesia dan sastra Sunda. Karir sastranya pun berawal pada usia muda yaitu sekitar tahun 1952, ketika dirinya berusia 14 tahun (SMP kelas tiga).
Tulisan pertama Ajip dimuat di majalah kebudayaan Mimbar Indonesia dan Zenith. Karya kreatif miliknya lahir terutama pada periode 1953-1960. H.B. Jassin memasukkan nama Ajip Rosidi ke dalam kelompok Angkatan 66.
Adapun karya-karya dari Ajip Rosidi antara lain, kumpulan puisi Ular dan Kabut (Pustaka Jaya, 1973), Ketemu di Djalan bersama Sobron Aidit dan S.M. Ardan (Balai Pustaka, 1956), Sajak-sajak Anak Matahari (Pustaka Jaya, 1979). Ada juga Novel Perjalanan Pengantin (Pembangunan, 1958) dan Anak Tanah Air (Gramedia).
Willibrordus Surendra Broto (W.S. Rendra)
W.S. Rendra terkenal sebagai penyair dan budayawan yang dijuluki "Si Burung Merak". Bakat sastranya sudah mulai ketika duduk di bangku SMP.
Pada saat itu, ia menulis puisi, cerpen, dan drama untuk berbagai kegiatan sekolahnya. Selain itu, ternyata dirinya juga memiliki keahlian di atas panggung dan mementaskan beberapa dramanya.
Pada tahun 1952, puisi pertamanya ia publikasikan ke media massa melalui majalah Siasat. Rendra dikenal memiliki kepribadian sastra yang independen, sehingga tidak digolongkan dalam angkatan tertentu.
W.S Rendra meninggal dunia pada 6 Agustus 2009, meninggalkan warisan puisi dan drama yang abadi. Beberapa karya terkenalnya antara lain Balada Orang-Orang Tercinta dan Blues untuk Bonie. Rendra juga mendapatkan banyak penghargaan, termasuk Anugerah Seni dari Pemerintah RI dan SEA Write Award.
Chairil Anwar
Chairil Anwar adalah penyair yang terkenal dengan puisi-puisi modernnya. Ia disebut sebagai pelopor angkatan 45 dalam Sastra Indonesia. Chairil Anwar juga diperhitungkan sebagai sastrawan yang melakukan pembaharuan puisi Indonesia.
Ia juga hidup hanya dari honor saat ia menulis sajak. Pengalaman menulis Chairil Anwar bermula pada tahun 1942, saat itu ia menulis sebuah sajak yang berjudul "Nisan".
Dia menulis sampai akhir hayatnya, yaitu pada tahun 1949. Beberapa sajak terkenalnya antara lain "Mirat Muda", "Chairil Muda", "Buat Nyonya N", "Yang Terhempas dan Yang Luput", "Derai-Derai Cemara", "Aku Berkisar Antara Mereka", dan "Aku Berada Kembali".
Kesungguhannya mendalami sajak-sajak para pujangga terdengar sampai luar negeri. Tak heran, sudah banyak sajak-sajak Chairil Anwar yang diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing.
Pramoedya Ananta Toer
Pramoedya Ananta Toer adalah salah satu sastrawan terkenal di Indonesia. Yang tulisan-tulisannya mewakili idealismenya mengenai keberpihakannya pada kaum bawah.
Karya-karya Pramoedya antara lain tetralogi Pulau Buru, Midah, Larasati, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu dan lainnya. Selain menulis fiksi, Pramoedya juga aktif dalam menghasilkan esai.
Sapardi Djoko Damono
Sapardi Djoko Damono adalah sastrawan Indonesia yang aktif dan berpengaruh di Indonesia. Karya Sapardi banyak bertemakan cinta dan kehidupan yang mampu memikat pembacanya.
Karya dari Sapardi yang terkenal antara lain puisi berjudul Aku Ingin, Hujan Bulan Juni, Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari Nanti dan lainnya. Sapardi menjadi sastrawan yang cukup aktif dalam penerjemahan karya-karya dari luar negeri seperti Giorgos Seferis.
BACA JUGA:
Taufiq Ismail
Ia populer sebagai penyair, penulis, dan aktivis budaya. Di masa kecilnya, Taufiq menghabiskan masa kanak-kanaknya di Pekalongan. Selanjutnya ia menyelesaikan pendidikan di berbagai kota, termasuk SMP di Bukittinggi dan SMA di Bogor, sebelum meneruskan ke Whitefish Bay High School di Wisconsin, AS.
Setelah menyelesaikan studi di Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan Universitas Indonesia pada 1963, Taufiq menyibukkan diri di berbagai organisasi kemahasiswaan.
Taufiq berkontribusi dalam dunia sastra sebagai pendiri dan pemimpin majalah Horison. Selain itu, ia juga ikut berperan dalam sejumlah lembaga kesenian di Jakarta dan menjadi anggota Badan Pertimbangan Bahasa.
Sejak 1970, dirinya sering mewakili Indonesia baca puisi dan festival sastra di 24 kota di Asia, Australia, Amerika, Eropa, dan Afrika. Sebagai seorang sastrawan di sepanjang kariernya, Taufiq mendapatkan berbagai penghargaan, termasuk Anugerah Seni dari Pemerintah RI dan South East Asia (SEA) Write Award.
Bahkan, karya Taufiq Ismail juga sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa.
Demikianlah ulasan mengenai tokoh-tokoh sastrawan Indonesia. Kunjungi VOI.id untuk mendapatkan informasi menarik lainnya.