JAKARTA - Tak sedikit orang tua berpikir memberikan pendidikan terbaik untuk anak harus menyekolahkan mereka di sekolah mahal atau les privat eksklusif. Namun menurut Dr. Mary C. Murphy, seorang psikolog lulusan Stanford, rahasia anak pintar sebenarnya tidak selalu soal fasilitas mewah atau sekolah favorit.
Hal paling penting adalah bagaimana anak dibentuk untuk memiliki growth mindset, atau pola pikir berkembang. Ini adalah cara pandang yang membuat anak percaya kecerdasan dan kemampuan bisa ditingkatkan lewat usaha, ketekunan, dan pembelajaran dari kesalahan.
"Ketika anak-anak percaya bahwa kemampuan mereka bisa berkembang, mereka jadi lebih terbuka menghadapi tantangan, lebih berani mencoba, dan tidak takut gagal," ujar Dr. Mary Murphy, penulis buku Cultures of Growth.
Growth mindset adalah keyakinan kemampuan tidak bersifat tetap, tapi bisa ditingkatkan. Sebaliknya, fixed mindset (pola pikir tetap) membuat seseorang merasa bahwa dirinya "memang pintar" atau "memang bodoh", dan tidak bisa berubah.
Menurut Dr. Murphy, membantu anak untuk lebih sering menggunakan growth mindset bisa sangat berpengaruh pada sikap, motivasi, dan hasil belajar mereka. Berikut 5 cara orangtua membentuk anak jadi lebih cerdas, seperti dilansir dari CNBC Make It!
1. Ceritakan Kisah tentang Ketekunan
Sering kali anak merasa malu ketika gagal atau mengalami kesulitan, karena mereka pikir orang dewasa selalu berhasil tanpa usaha. Cerita nyata adalah cara yang kuat untuk menyampaikan pelajaran penting.
Seorang ibu bercerita bahwa anak perempuannya yang berusia 8 tahun cenderung perfeksionis. Ketika tidak paham pelajaran di sekolah, ia langsung kecewa.
Sang ibu lalu menceritakan sebagai penulis, ia selalu harus melalui banyak revisi dan draf sebelum karyanya selesai. Sang anak pun kaget dan lega mengetahui bahwa ibunya juga harus bekerja keras.
Cerita-cerita seperti ini membantu anak memahami bahwa setiap hal yang berharga biasanya membutuhkan perjuangan, terutama di awal.
2. Bahas Kesalahan Favorit
Anak yang punya growth mindset tidak takut membuat kesalahan, karena mereka melihatnya sebagai peluang untuk belajar, bukan sebagai cerminan dari kemampuan mereka.
Seorang guru pernah membuat papan besar bertuliskan “kesalahan favoritku” di kelas. Setiap murid menempelkan cerita tentang kesalahan yang dibuat dan pelajaran yang mereka ambil.
Orang tua bisa menerapkan hal serupa di rumah, misalnya saat makan malam. Ajak semua anggota keluarga untuk berbagi kesalahan kecil yang mereka alami hari itu, lalu apa pelajarannya.
Bisa saja ringan dan lucu ("Aku enggak seharusnya pakai baju putih karena makan siang tumpah semua!"), atau lebih dalam ("Hari ini aku tanpa sengaja menyakiti perasaan teman."). Melalui obrolan santai seperti ini, anak belajar bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar.
BACA JUGA:
3. Ingatkan Anak Sejauh Apa Mereka Sudah Maju
Anak-anak kadang terlalu fokus pada kegagalan yang sedang dialami, sampai lupa bahwa dulu mereka juga pernah menghadapi tantangan yang akhirnya bisa mereka atasi.
Kalau anak terlihat putus asa, ingatkan mereka, yakni "Ingat nggak dulu kamu susah banget belajar membaca? Sekarang kamu bisa baca buku cerita sendiri sampai habis!"
Tunjukkan tugas lama, foto, atau video saat mereka masih belajar untuk membuktikan bahwa perkembangan itu nyata dan butuh waktu. Anak-anak dari usia kecil sampai remaja biasanya senang mengingat masa lalu dan melihat perubahan positif yang telah dicapai.
4. Tanyakan Dukungan Apa yang Dibutuhkan
Sering kali anak tidak tahu cara meminta bantuan, atau tidak sadar bahwa mereka butuh dukungan. Coba tanyakan, "Kamu lagi menghadapi tantangan apa sekarang?".
Pertanyaan ini mengirim pesan bahwa semua orang sedang berjuang dengan sesuatu, dan itu normal. Orang tua juga bisa mulai dengan berbagi apa yang sedang mereka hadapi, agar anak merasa nyaman untuk terbuka.
Growth mindset bukan cuma soal menyuruh anak “jangan menyerah” atau “coba lagi”. Ini juga tentang memastikan mereka punya dukungan dan sumber daya yang dibutuhkan untuk berkembang.
5. Jadikan Belajar Sebagai Hal yang Menyenangkan
Menumbuhkan pola pikir berkembang tidak harus jadi hal berat. Coba buat kegiatan keluarga yang seru seperti membuat slogan bersama, misalnya "Belajar itu keren!”atau "Ayo tumbuh bareng-bareng!".
Saat anak melihat proses belajar dan bertumbuh sebagai sesuatu yang menyenangkan, mereka lebih termotivasi untuk berusaha.