JAKARTA - Di tengah kesibukannya sebagai aktris, Tara Basro tetap menyisihkan waktu untuk satu kegemaran lamanya, yakni membaca buku. Bagi Tara, membaca bukan sekadar hobi, tapi juga bentuk eksplorasi kreatif sekaligus cara untuk memperdalam pemahaman tentang bahasa, sejarah, dan budaya Indonesia.
Saat ditemui dalam pembukaan toko buku di Jakarta beberapa waktu lalu, Tara dengan semangat berbagi kisah tentang rutinitas membacanya, buku-buku yang sedang ia lahap, hingga daftar panjang bacaan yang belum tersentuh di rumah.
"Masih banyak PR,” ujar Tara seperti dikutip ANTARA.
Ia mengaku sedang menahan diri untuk tidak membeli buku baru sebelum menyelesaikan yang lama meskipun godaan tetap ada.
"Makanya aku foto-foto dulu. Biar enggak langsung beli.”
Salah satu buku yang sedang ia baca ulang adalah Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer. Baginya, karya-karya Pramoedya seperti mesin waktu yang membawa pembaca ke masa lalu dan memberi pemahaman baru tentang sejarah Indonesia.
"Aku suka karena bisa belajar tentang situasi negara kita di masa tertentu,” katanya.
Ketika berbincang, Tara terlihat memegang Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Meski sudah menonton film adaptasinya, ia belum membaca versi bukunya. Tara mengaku penasaran dan ingin tahu perspektif yang ditawarkan dalam tulisan aslinya.
Selain itu, Tara juga sengaja memprioritaskan karya-karya klasik Indonesia sebelum menyelami tulisan-tulisan dari penulis generasi baru.
"Menurut aku, penulis-penulis ini adalah inspirasi besar untuk generasi sekarang. Jadi aku ingin tahu gambaran utuhnya," tutur aktris berusia 35 tahun itu.
BACA JUGA:
Kebiasaan membaca Tara bukan hanya untuk kesenangan pribadi. Ia juga kerap membagikannya ke publik, terutama lewat siaran langsung membaca buku di TikTok.
Di sana, ia berdiskusi dengan para pengikutnya dan sering menerima rekomendasi bacaan dari mereka. Salah satu favoritnya adalah Aroma Karsa karya Dewi Lestari.
Tara memiliki cara unik dalam menyelesaikan buku. Ia sering membaca beberapa buku secara bersamaan dan memanfaatkan waktu luang termasuk saat terjebak kemacetan.
"Di jalan macet, itu waktu yang tepat untuk baca,” ungkapnya.
Meski banyak orang memilih membaca sebelum tidur, Tara justru menghindarinya. Kata dia, kebiasaan yang satu ini justru malah tidak efektif karena kerap tertidur daripada membaca sampai habis.
Biasanya, ia membaca ketika butuh suntikan inspirasi, terutama saat ide-ide kreatif mulai buntu. Soal preferensi, Tara tanpa ragu memilih buku fisik.
"Enggak bikin mata capek, bisa dipegang, bisa dicium wangi bukunya. Apalagi kalau kertasnya bagus, aku sangat menghargai itu," ucapnya.
Kegemaran Tara Basro terhadap buku menjadi contoh nyata bagaimana literasi bisa tumbuh dan menginspirasi lewat sosok publik figur. Di tengah industri hiburan yang serba cepat, Tara menunjukkan bahwa membaca tetap relevan bukan hanya sebagai aktivitas personal, tapi juga sebagai bentuk penghargaan terhadap budaya dan cerita bangsa.