Review Film <i>Surga yang Tak Dirindukan 3</i> Makin Dewasa, Makin Mengena di Jiwa
Surga yang Tak Dirindukan 3 (Foto: MD Pictures)

Bagikan:

JAKARTA - Film Surga yang Tak Dirindukan 3 produksi MD Pictures sudah bisa ditonton di  Disney+ Hotstar sejak 16 April. Sekuel ketiga ini masih berpusat pada kisah peliknya poligami yang dilakukan Pras (Fedi Nuril), Arini (Laudya Chyntia Bella), dan Meirose (Marsha Timothy menggantikan Raline Shah). Bahkan ketika Arini sudah tiada, kenangannya masih menjadi poros kuat dalam rumah tangga Pras dan Meirose. 

Meskipun tak ada penjelasan mengapa Raline harus digantikan oleh Marsha, namun karakter Meirose yang berubah menjadi sabar, sayang keluarga, menduplikasi karakter Arini rasanya keputusan menggantikan Raline bisa dipahami. Marsha tampil optimal dalam film ini. Apalagi ketika reka adegan Meirose di SYTD 1 dan 2 juga dibuat ulang dengan Marsha sebagai pemain, rasanya pas. 

Film yang diadaptasi dari novel karya Asma Nadia ini lebih mendalam menceritakan masalah rumah tangga. Seperti kehidupan yang sebenarnya, rumah tangga Pras dan Meirose mendewasa dengan persoalan yang harus mereka hadapi. Ketika pologami bukan menjadi isu penting, maka hadirlah persoalan ekonomi di keluarga Pras.

Pras ditipu oleh manager keuangannya sendiri. Mendapat protes dari pekerja, Pras dan Meirose berfikir untuk menjual rumah yang mereka tinggali. Rumah yang menyimpan kenangan besar Bunda Arini bagi Nadya. 

Di sisi lain, persoalan siapa sebenarnya ayah kandung Akbar akhirnya terjawab. Bagaimana Meirose putus asa dan akhirnya dinikahi Pras dimunculkan dalam kilas balik. Muncullah Ray Sastrowardoyo (Reza Rahadian), pria yang pernah menghamili kemudian meninggalkan Meirose tanpa alasan, yang merupakan ayah biologis dari Akbar. 

Benar, Anda tidak salah jika berfikir Reza adalah Dokter Syarif di jilid SYTD kedua. Sutradara Pritagita Arianegara sudah mencoba mengubah gaya rambut, gesture, hingga suara dua karakter yang diperankan Reza ini.

Apalagi ketika beberapa kali Meirose berusaha menghindari bertatap muka dengan Ray, adegannya terlalu mengada-ada seperti opera sabun. Agak terasa aneh di awal, tapi lanjutkan saja. Karena perfoma Reza tidak perlu diragukan, meskipun terlihat menahan kemampuan akting sebagai second lead, Reza mampu membuat Surga yang Tak Dirindukan 3 makin berkembang. 

Seperti dalam kehidupan nyata, pencarian sosok ayah kandung tidak bisa dihindari. Dalam SYTD 3 ceritanya hanya dipercepat saja, karena Ray diceritakan selalu mencari keberadaan Meirose. Mengetahui Akbar adalah anaknya, Rey tak sabar dan mencari celah untuk masuk. Celah itu adalah masalah ekonomi keluarga Pras. 

Pras senang ketika Ray menawarkan pinjaman tanpa bunga kepada Pras yang didemo para pekerja, menuntut pembayaran gaji. Tapi kehadiran Ray membuat Meirose syok. Pras curiga, dan ketika tahu Ray ayah kandung Akbar, dia merasa inferior berhadapan dengan Ray saat ekonominya berantakan. 

Pras tumbuh dari kisah awal pria baik-baik yang berpoligami untuk menyelamatkan nyawa Meirose diajak dialog dengan diri sendirin. Mencari jawaban bersama penonton, soal dugaan selingkuh dengan ulasan berbasis agama dan gender menjadi bagian yang asyik. Pras mendewasa, bertumbuh, dan 'menelan' karma. 

Yang membuat film SYTD 3 ini terasa berbeda adalah konflik yang semakin matang. Pras konsisten menjadi pribadi yang paling terburu-buru mengambil kesimpulan dan tindakan. Dan kali ini dia mendapat karmanya. Film SYTD 3 bisa jadi jawaban bagi ibu-ibu yang geram dengan keputusan poligami seorang suami. Bahwa poligami itu butuh pengorbanan, menyakiti, dan membutuhkan keikhlasan nampak terang benderang kali ini. 

Kejutannya adalah, Asma Nadia menghadirkan toleransi lebih luas di cerita ketiga ini. Persahabatan Pras dengan  Hartono (Tanta Ginting) dan Amran (Kemal Pahlevi) makin matang meskipun karakter mereka bersebrangan. Dara (Olin Mendeng) sebagai penyemangat Meirose. 

Yang paling menarik adalah karakter Kinan yang menjadi sahabat Nadya. Film ini keluar dari cangkang Islam yang konservatif ketika membicarakan poligami. Kinan dan Nadya yang diperkenankan berteman meskipun beda kelamin, dengan tetap memberi batasan, menunjukkan toleransi yang indah. Bahwa agama tak membatasi pergaulan, tapi mengatur cara bergaul yang baik. 

Secara visual, Ipung Rachmad Syaiful berhasil memanjakan mata meskipun syuting film ini sudah mulai dibatasi oleh PSBB karena Corona. Lokasi yang terbatas tidak mengurangi keindahan SYTD 3. Ada beberapa framing bangunan yang mampu ditampilkan Ipung untuk memperkaya dan mempertegas emosi cerita. 

Maaf, spoiler, Temukan adegan puncak kemarahan Pras pada Meyrose. Bukan dengan kata-kata kasar, bukan denagn tarikan urat syaraf, namun dengan memisahkan mereka lewat visual pembatas jendela yang zoom out keluar ruangan, dalam dan indah. 

Film berdurasi dua jam ini pada akhirnya mengajak semua penonton berfikir bahwa semua terjadi atas izin Allah. Semua masalah terjadi dengan alasannya masing-masing. Dan bagaimana cara kita menyelesaikan masalah adalah cara kita tumbuh dewasa. Ditutup dengan lagu Selamanya Cinta dari BCL, Surga yang tak Dirindukan 3 membuat hati terasa penuh usai menontonnya.