JAKARTA - Fedi Nuril menceritakan terkait beratnya karakter yang ia mainkan di dalam film drama terbaru berjudul 1 Imam 2 Makmum di mana di film ini ia bermain sebagai Armand, seorang suami yang harus ditinggal pergi untuk selamanya oleh sang istri dan dipaksa mencintai wanita lain saat masih berduka.
Kepada VOI, Fedi mengakui bahwa cukup melelahkan untuk memainkan karakternya tersebut. Pasalnya ia harus mendalami rasa duka yang dirasakan oleh Armand sehingga bisa terlihat natural di depan kamera meski tidak ingin hal ini terjadi di kehidupan nyatanya.
“Rasanya cukup seru tapi melelahkan juga. Jadi, memerankan orang yang masih berduka, membawa stres yang tinggi dengan dukanya itu cukup mempengaruhi fisik aku sebagai seorang aktor juga. Jadi, pengalaman yang seru tapi ya melelahkan,” kata Fedi Nuril di Tanah Abang, Jakarta Pusat.
“Rasa duka itu kan nggak nyaman, nggak enak, dan di saat harus berusaha memunculkan rasa duka di hati ya, supaya aktingnya terlihat natural. Ya itu sulit gitu. Itu stressful. Bagian yang tidak nyaman itu. Ya demi terlihat natural gitu di kamera dan penonton bisa ikut kebawa perasaan, ikut bersimpati gitu. Itu sulit tapi perlu dilakukan gitu,” sambungnya.
Untuk mengatasi hal ini, Fedi rela mendatangi ahli psikolog untuk mendalami perasaan duka yang dialami oleh karakternya. Karena terlalu menjiwai, karakter ini akhirnya membuat sosok Fedi Nuril terbawa perasaan stres.
“Sempat kebawa stres. Jadi, untuk pendalaman karakter Arman, aku konsultasi dengan psikolog supaya aku tau bagaimana kondisi psikologi seorang yang sedang berduka. Dan di konsultasi itu aku belajar kalau kehilangan pasangan, kehilangan orang tua, kehilangan anak atau kehilangan teman, ternyata stres tertinggi itu kalau kehilangan pasangan,” tutur Fedi Nuril.
“Nah, di saat sudah paham tentang kondisi psikologis orang yang berduka dan sebagai aktor mulai memunculkan rasa-rasa bagaimana orang berduka itu ya, kalau kita ngomong stres, gejala yang muncul itu bisa pusing, migren, atau bahkan vertigo, bisa sakit-sakit otot, bisa nggak nafsu makan, atau malah kebanyakan makan,” ucapnya.
“Cuma yang berasa di aku beneran saat itu ini sih, sakit leher. Jadi tanpa sengaja, di beberapa adegan di film itu ada gerakan aku kayak sakit leher yang secara nggak sengaja malah jadi ciri khas gitu. Yang penonton nanti akan notice berarti dia masih stres stres,” lanjutnya.Bukan jadi kali pertama memainkan karakter yang menikah lebih dari sekali, Fedi berusaha untuk memberikan sesuatu yang berbeda dari dirinya untuk film 1 Imam 2 Makmum ini salah satunya ialah kesetiaan seorang pria pada istrinya yang sudah tiada.
“Ya, jadi yang beda di 1 Imam 2 Makmum, kalau film sebelumnya itu kayak justru dianggap tidak setia karena punya istri kedua. Di sini justru memilih untuk setia tapi kepada orang yang sudah tidak ada. Di mataku sih itu spektrum yang cukup ekstrim ya. Yang mungkin orang melihat, loh kan sudah tidak ada. Mau nikah lagi ya tidak apa-apa. Tapi justru dia tetap setia gitu ke mendiang istrinya,” jelas Fedi.
BACA JUGA:
“Ya di satu sisi romantis, tapi di satu sisi ya hidupnya stuck gitu. Tidak jalan. Sedangkan Armand masih punya anak kecil umur 5 tahun yang masih butuh sosok ibu. Jadi dilema antara memegang janji setia ke mendiang istrinya yang bisa sangat terlihat romantis. Tapi di satu sisi bisa dianggap egois karena dia tidak mikirin anaknya yang masih kecil, masih butuh sosok ibu,” tandasnya.
Ingin Mainkan Peran Ekstrim
Fedi Nuril dikenal dengan perannya yang seringkali mengangkat isu poligami, ia mengaku kalau tidak merasa bosan dengan karakternya namun bukan berarti ia ingin terus menerus memainkan karakter yang mirip.
“Merasa bosan atau nyaman kalau dibilang bosan enggak, karena aku membatasi diriku sendiri tapi bukan berarti aku mau main lagi ya karena kan film-filmku yang ada isu poligaminya itu, menurutku penulis tetap bisa memunculkan sesuatu yang berbeda, isunya sama ada poligaminya, tapi jalan ceritanya itu beda,” kata Fedi Nuril.
“Dan kalau dibilang nyaman nggak juga, nggak nyaman itu karena kan filmku yang ada isu poligaminya itu kan aku menunjukkan suami yang stres punya dua istri bukan yang happy atau pamer ke orang-orang melihat istri kedua, dia stres karena dia merasa nggak mampu untuk adil ya dan berperan sebagai orang yang stres itu ya nggak nyaman jadi nggak ada rasa nyaman disitu,” sambungnya.
Meski seringkali ditawarkan dengan karakter yang mirip dan kental akan isu poligami, Fedi merasa isu seperti ini cukup diterima oleh penonton Indonesia karena ada kedekatan tersendiri dengan lingkungan masyarakat.
“Ya kalau yang nonton banyak, baru nyaman tapi pas proses syutingnya nggak nyaman karena kunci dari film atau genre drama itu adalah konflik dan kompleks dan isu itu pernah gak kompleks walaupun kita lihat di berita ada yang poligami dan kayaknya akur-akur aja seberani taruhan di rumah nggak seakur itu seberani taruhan gak seakur itu pasti ada konflik dan pasti kompleks jadi selama ada unsur itu,” beber Fedi.
Oleh karena itu Fedi tidak pernah merasa takut untuk terus mengambil karakter yang mengandung isu poligami karena ini menjadi salah satu bukti bahwa ia dipercaya oleh rumah produksi untuk memainkan karakter yang memang sudah mencari ciri khasnya.
“Nggak usah takut, itu udah kejadian sampai sekarang saya masih dapat tawaran yang ada isu poligaminya, cuma kalau saya nggak suka, saya tolak jadi ya, nggak takut orang kejadian kok, takut itu kan kita khawatir akan terjadi, tapi kejadian jadi ya, udah nggak takut lagi sudah image yang nempel sih,” tuturnya.
“Jadi aku bisa ngerti kalau ada PH mau membuat cerita dengan isu poligami pasti kan dimulai dari siapa yang kepikiran terus approach begitu misalnya nggak bisa secara jadwal bentrok atau memang aktor yang nggak mau karena ceritanya gak tertarik, baru kan mulai melebar pencariannya,” tambah Fedi.
Bukan berarti sosok Fedi yang melekat dengan karakter berbau isu poligami tidak memiliki keinginan memainkan karakter lain. Fedi menjelaskan kalau ia ingin sekali mencoba karakter yang keluar dari zona nyamannya tersebut.
“Aku pengin ini ya pengen jadi penjahat atau villain yang membuat kekacauan, aku ingin jadi setan di film horor tentunya pengin jadi superhero, setiap aktor pasti punya fantasi sekali-sekali lah jadi superhero jadi superhero juga penjahatnya juga pengen jadi apa ya sejauh ini baru itu sih kepikiran,” tutup Fedi Nuril.