Bagikan:

JAKARTA - Di tengah situasi ekonomi global yang penuh tantangan, generasi muda menghadapi realitas baru dalam dunia kerja. Menurut Astrid Suryapranata, Market Leader Mercer Indonesia, tren peluang kerja tahun mendatang menunjukkan adanya perlambatan. 

Hal ini pun membuat peluang kerja semakin sempit, yang mana persaingan untuk mendapatkan pekerjaan atau meningkatkan karier akan semakin ketat. Namun, peluang tetap ada bagi mereka yang mampu beradaptasi dengan perubahan.

Astrid menjelaskan, perlambatan ekonomi global berdampak pada pengurangan ekspansi tenaga kerja oleh perusahaan.

"Kesempatan memang ada, tapi perusahaan lebih cenderung menggantikan tenaga kerja yang ada dibandingkan menambah jumlah karyawan," ujarnya dalam media briefing bertema Total Remuneration Survey 2024 dari Mercer Indonesia di Jakarta, baru-baru ini. 

Hal seperti ini pun pada gilirannya seolah menuntut para pekerja untuk terus relevan dengan melakukan reskilling atau upskilling agar tetap kompetitif di dunia kerja.

Di sisi lain, peluang kerja sangat bergantung pada keterampilan yang dimiliki. Menurut Astrid, memiliki kemampuan yang dibutuhkan oleh industri menjadi kunci utama untuk tetap bersaing. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pasar menjadi semakin penting.

Astrid menekankan pentingnya learning ability atau kemampuan belajar, yakni kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi dalam menghadapi perubahan. Learning ability mencakup tiga aspek utama yang bisa dikembangkan generasi muda.

Tiga aspek itu antara lain keinginan untuk belajar, kesediaan mendalami hal baru, hingga terus mempelajari hal baru terkait kebutuhan kemampuan di dunia kerja.

"Jika kita tidak memiliki learning ability, kita akan mentok pada kemampuan yang sudah usang. Generasi muda dituntut untuk terus belajar agar dapat mengikuti perkembangan zaman, termasuk memanfaatkan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) sebagai mitra kerja," katanya.

Dalam hal ini, AI menjadi salah satu faktor yang akan memengaruhi dunia kerja di masa depan. Astrid mengingatkan AI seharusnya dilihat sebagai kawan, bukan ancaman.

Dengan memanfaatkan teknologi ini, pekerja dapat meningkatkan produktivitas dan mengembangkan keterampilan baru yang relevan. Generasi muda harus belajar untuk bekerja bersama AI dan menjadikannya alat untuk berkembang.

Di saat melihat kondisi ekonomi yang sulit, penting bagi karyawan muda untuk menjaga relevansi mereka di dunia kerja. Misalnya reskilling dan upskilling itu mencakup mengembangkan keterampilan baru atau meningkatkan kemampuan yang sudah dimiliki agar sesuai dengan kebutuhan pasar

Kemudian generasi muda juga diharapkan mampu beradaptasi terhadap perubahan, bersikap fleksibel dan terbuka terhadap peluang baru di luar zona nyaman.

Lalu yang tak kalah penting adalah tetap menjaga kesejahteraan individual, yakni keseimbangan fisik dan mental agar bisa lebih waras menghadapi tantangan dalam berkarier

"Situasi sulit ini bukan berarti tidak ada peluang sama sekali. Dengan pendekatan yang tepat, generasi muda dapat tetap berkembang dan menemukan posisi yang sesuai dengan kemampuan mereka," pungkasnya.