Bagikan:

JAKARTA - Bryan Domani menjadi satu dari sekian banyak aktor di perfilman Indonesia yang dipilih untuk menjadi Duta Festival Film Indonesia yang diselenggarakan pada bulan November lalu. Bryan mengaku bahwa ini bukan sebuah hal yang pernah ia sangka sebelumnya, bahkan ia bercerita kalau membutuhkan waktu untuk mengambil keputusan ini.

“Jujur, enggak menyangka! Tapi pas Prilly telpon aku, terus dia menawarkan ini, aku bilang, you sure? Terus dia akhirnya nunjukin, nih, film kamu yang kamu semua udah mainin, kamu, you sure? Kita mau kamu gitu. Apalagi sekarang kan temanya merandai cakrawala cinema Indonesia. Dan memang konsep itu kayak lintas generasi gitu. Yang mana paling dewasanya Pak Slamet, terus Kak Dian, Kak Camilla, Lutesha, terus aku. Dan di generasi aku kan udah pada jadi duta semua tuh,” cerita Bryan Domani di kantor VOI, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa, 22 Oktober.

“Si Angga udah pernah jadi duta, si Jefri udah pernah jadi duta, jadi terus akhirnya aku yang dipilih, I was like, oh okay. I'm honored. Awalnya aku nggak mau, tapi aku sampe ngomong ke Prilly kayak, ‘kasih aku waktu mikir ya’, terus langsung, ‘oke boleh mikir, tapi jangan lama-lama ya’. Dan di hari yang sama, habis ngomong sama keluarga, akhirnya dia bilang, ‘ambil aja. Ini bakal jadi kesempatan buat kamu’. Dan ya, it was something. Aku bangga dan nggak nyesel sama sekali. Aku sangat bersyukur aku ambil kesempatan ini,” sambungnya.

Bryan Domani (Foto: Bambang E Ros, DI: Raga/VOI)

Pertama kali menjadi Duta FFI, Bryan mendapat banyak tugas-tugas yang harus ia lakukan contohnya mengenalkan soal perfilman Indonesia yang tidak kalah saing dengan film dari luar negeri ke beberapa kota di Indonesia.

“Banyak PR yang harus aku lakukan. Lebih tepatnya kayak, history perfilman Indonesia dan lain-lain. Siapa-siapanya juga. Karena kan, aku cinta sama film, tapi aku nggak cinephile, yang bener-bener tahu detail dan lain-lain. Dan mungkin itu kenapa alasan mereka memilih aku juga. Karena, dengan ini kan kita pengen, konsepnya itu lebih terbuka, lebih transparent, lebih laid back,” terang Bryan Domani.

“Dan itu jadi kerjaan kita sebagai duta, untuk menjelaskan, apa tuh festival film Indonesia. Apa pekerjaan kita, kenapa ada ini, dari kapan ada ini. Jadi, supaya, yang menghargai film, atau festival film Indonesia, itu bukan hanya cinephile, tapi juga orang-orang, awam yang, suka sama film, tapi belum cinta banget. Tapi dengan harapan mereka akhirnya cinta sama film Indonesia. Untuk nunjukin mereka kayak, nggak kalah kita film-film luar negeri, itu juga bagus, film Indonesia yang bagus. Jadi kayak, ya,” lanjutnya.

Bryan Domani (Foto: Bambang E Ros, DI: Raga/VOI)

Tak bisa dipungkiri oleh Bryan bahwa menjadi Duta FFI memotivasinya untuk menyebarkan rasa cinta terhadap perfilman Indonesia ke semua orang agar bisa lebih menghargai film-film karya anak bangsa agar bisa dikenal hingga ke jenjang internasional.

“Memotivasi aku, untuk lebih, menyebar, atau spread out the love, for the film of Indonesia. Menyebar kayak, kalian harus bangga juga loh, sama kreasi-kreasi anak bangsa, film-filmnya gitu. Masa kita, menghargai, itu kalah sama orang di luar negeri, masa orang di luar negeri, lebih menghargai film-film kita, dibanding kita sendiri gitu. Jadi, itu sih, aku juga akhirnya jadi, oke, terus mulai cek film-film yang, oh wow, ada kepikiran seperti itu. Ya mungkin, maaf, di bioskop, nggak terlalu menjual, tapi di festival menjual, dan akhirnya aku bisa nonton itu,” harapnya.

“It's, oke, ternyata emang, we can be international, or even, more than international standard, tapi hanya butuh waktu dan dukungan dari, kita semua gitu,” tandasnya.

Bryan Domani (Foto: Bambang E Ros, DI: Raga/VOI)

Bryan Domani membuktikan pernyataannya tersebut ketika beradu akting dengan Nadya Arina dalam sebuah film drama religi berjudul Pantaskah Aku Berhijab. Film karya sutradara Hadrah Daeng Ratu ini merupakan karya bersama rumah produksi Narasi Semesta dan Legacy Pictures.

Dalam film ini Bryan memainkan karakter Aksa yang memiliki sahabat kecil bernama Sofi dan setia menemani sahabatnya itu dalam segala kondisi suka duka kehidupan. Bryan merasa sosok Aksa memiliki karakter yang sangat berbeda dengan dirinya, khususnya soal kesabaran.

“Sabar banget ya menurut aku, kadang-kadang little bit too sabar. Aku Bryan nggak mungkin bisa kayak gitu, tapi ya.  Kalau kalian seperti Aksa sih top sih. Sabarnya hebat sih,” tutur Bryan Domani.

“Nggak, menurut aku sih nggak ya. Nggak tahu ya kalau orang yang nonton ya. Soalnya menurut aku untuk membandingkan karakter sama aku, itu lebih orang yang bisa lihat. Tapi kayaknya nggak deh. Aku orangnya lumayan nggak sabaran. Apalagi buat hal-hal yang aku tau kayaknya nggak pasti deh yaudahlah. Buat apa aku sabar? Why would I waste my time?,” sambungnya.

Beberapa kali bermain dalam drama yang mengandung romantisme, Bryan Domani mengatakan kalau di film ini ia mendapatkan hal baru yang membutuhkan waktu lebih dalam berdiskusi dengan sutradara dan juga lawan mainnya.

“Tantangannya itu lebih menjadi karakter yang lumayan reaktif, bukan aktif ya. Karakter yang terima apa aja, mengikuti si Sofi itu yang lumayan. Bukan menantang sih, baru. Tapi ya tantangan mungkin kayak biasa. Kayak per-scene cara menghidupkan scene-nya bersama Nadia,” jelas Bryan Domani.

Bryan Domani (Foto: Bambang E Ros, DI: Raga/VOI)

“Kalau dibilang kesulitan sih enggak. Tapi baru yang butuh banyak, jadi karena hal yang baru jadi banyak. Kita harus pas reading banyak pembahasan, banyak, ‘Oke gimana Nadia kamu ngomongnya gimana? Buat karakter kamu’. Terus dengan diskusi aja sih. Diskusinya lumayan banyak banget yang lumayan lama gitu. Jadi memang itu sih yang dibutuhkan baik diskusi. Tapi kalau sulit nggak terlalu sulit. Lebih kayak baru jadi sedikit rumit,” bebernya.

Meski harus kembali bermain dalam film drama romantis, Bryan Domani mengaku tidak masalah karena rasa cintanya pada film yang mengandung percintaan di dalamnya. Baginya percintaan menjadi konflik yang menarik di dalam sebuah film.

“Kayaknya hampir semua film Indonesia ada romansi. Kayaknya nggak ada, hampir semua pasti ada bumbu romance ya. Aku sih suka ya, aku suka film romansi ya. Aku bucin mampus jadi kayak suka yang ada unsur-unsur romancenya. Tapi untuk membedakannya itu, karena karakternya beda dengan situasi berbeda, pasti bentuknya juga bakal beda gitu. Jadi makanya emang pembentukan karakter sama diskusi antara pemainnya itu harus di buletin dulu. Ntar bentuknya seperti apa, romansi itu biasanya di lapangan bakal muncul sendiri,” terang Bryan Domani.

“Menurut aku romansi tuh salah satu hal, karena cinta tuh bukan hal yang simpel, cinta itu rumit. Jadi seru aja untuk mempelajari hal yang kita anggap sama, romance, tapi sebenarnya cara pandang setiap peran aku mainkan tuh beda-beda. Jadi aku nggak ada masalah. Kalau aku main romansi terus sampe nanti, aku nggak peduli, aku suka romansi. Aku suka romansi,” tandasnya.