Bagikan:

JAKARTA - Film KKN di Desa Penari menembus rekor baru. Setelah menjadi film Indonesia terlaris sepanjang masa. Jumat, 27 Mei, film produksi MD Pictures itu menyalip rekor film terlaris di Indonesia sepanjang masa, Avengers: Infinity War.

KKN di Desa Penari mendapat 8.378.359 penonton pada Jumat, 27 Mei, dikutip dari akun Twitter @yan_widjaya yang merupakan pemerhati film. Sementara Avengers: Infinity War yang dirilis pada 2018 sukses meraup 8.121.000 penonton di Indonesia.

Melansir data akun Twitter pemerhati film @bicaraboxoffice, film KKN di Desa Penari lebih dulu meninggalkan pendapatan Doctor Strange in the Multiverse of Madness alias Doctor Strange 2.

“Paling lambat besok KKN di Desa Penari akan melewati jumlah penonton Avengers: Infinity War di Indonesia. Selamat!” cuit akun Twitter pemerhati film @bicaraboxoffice, 24 Mei lalu.

Produser Manoj Punjabi merasa bangga karena film KKN di Desa Penari bisa menembus rekor film Inpor. Ini artinya film Indonesia telah menjadi raja di rumah sendiri.

"Target kita bukan film Indonesia. Kita bekerja sama untuk mendapat penonton, saling dukung untuk menunjukkan bahwa kita bisa menjadi pilihan utama penonton. Kita tunjukkan bisa jadi tuan rumah di negeri sendiri," ujar Manoj Punjadi di Kuningan, Jaksel, beberapa waktu lalu.

Manoj mengaku puas bukan cuma karena jumlah penonton yang banyak. Tetapi karena rekor ini didapatkan di masa pendemi COVID-19.

“Puasnya bukan hanya karena film ini terlaris, tapi film terlaris (yang terjadi) di pandemi Covid-19. Lebih puas lagi, terlaris saya bisa menang dari Doctor Strange 2. Film Indonesia bisa menang dari Marvel, belum pernah dalam sejarah,” katanya.

“Saya tahu di kemudian hari bakal ada film Indonesia lain yang terlaris lagi dan saya mau itu terjadi. Mudah-mudahan dari MD Pictures lagi. Kalau pun dari lain orang, it’s oke. Itu bagian dari kompetisi. Di atas langit ada langit, no problem,” ujar Manoj Punjabi.

Larisnya film KKN di Desa Penari membuat fenomena baru dalam pemberlian tiket. Manoj terharu mendengarnya. War ticket, jastip, hingga antre pakai helm, bahkan nonton sampai ke luar kota pun terjadi.

“Itu artinya, konten yang bicara. Dan ini film Indonesia, oh saya bangga dan puas. Tolong, film Indonesia punya standar yang tinggi. Bukan lagi dibilang film Indonesia untuk (kelas) bawah. Jakarta sambutannya luar biasa,” pungkasnya.