JAKARTA - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang melaksanakan imunisasi kejar serentak atau catch-up campaign (CUC) campak di 16 titik dengan jumlah target sasaran 1.400 anak, Senin.
Kepala Dinkes Kota Malang dr Husnul Muarif di Kota Malang, Jawa Timur, menyatakan seribuan lebih target sasaran CUC tersebut merupakan anak berusia antara 9 bulan sampai 59 bulan yang belum menerima imunisasi lengkap.
"Kegiatan imunisasi kejar serentak atau catch up campaign sasarannya adalah anak dengan usia 9 sampai 59 bulan. Yang menjadi sasaran kami adalah 1.400 anak," kata dr Husnul.
Dia menjelaskan Pelaksanaan CUC ini bertujuan untuk mencegah penyebaran campak dan mengejar target minimal imunisasi di angka 95 persen guna membentuk kekebalan kelompok. Dari total 1.400 target sasaran tersebut, sebanyak 700an anak telah diimunisasi per Jumat (3/4).
Diharapkan target tersebut sudah bisa terealisasi paling cepat hari ini dan paling lama, pada Selasa (7/4).
"700an anak itu sudah diimunisasi measles rubella (MR) 1 maupun MR 2. Kami masih menunggu laporan sementara dari rumah sakit dan teman-teman di puskesmas," ujar dia.
Husnul turut menyampaikan, menghadapi banyak tantangan dalam melaksanakan imunisasi campak meski beberapa waktu lalu telah melakukan outbreak response immunization (ORI).
Tantangan yang dihadapi, kata dia, seperti target sasaran yang tidak hadir ke lokasi imunisasi hingga masih adanya keengganan orang tua dalam mengikutsertakan anaknya di dalam program tersebut.
BACA JUGA:
Dinkes Kota Malang telah mempersiapkan langkah strategis untuk mengatasi persoalan ini, yakni dengan melakukan metode jemput bola ke rumah anak yang telah menjadi target imunisasi.
Diharapkan strategi tersebut mampu merealisasikan target capaian imunisasi di angka 95 persen.
Selain itu, Dinkes Kota Malang juga mencatat pada 2026 terdapat 61 kasus suspek campak yang telah terdeteksi.
Husnul menyampaikan sampel suspek campak telah dikirimkan ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) di Kota Surabaya, Jawa Timur untuk dilakukan penelitian.
Hingga kini pihaknya masih menunggu mengenai hasil penelitian suspek campak yang dilakukan di BBLKM.
"Kalau ada indikasi akan dibawa ke Pusat Laboratorium Kesehatan Masyarakat di Jakarta untuk dilakukan pemeriksaan whole genome sequencing (WGS)," ujarnya.