YOGYAKARTA - Berapa derajat suhu dingin yang bisa diterima manusia sering menjadi pertanyaan, terutama saat cuaca ekstrem. Faktanya, tubuh manusia memiliki batas toleransi suhu tertentu sebelum muncul risiko kesehatan.
Paparan suhu dingin tidak hanya memengaruhi rasa nyaman, tetapi juga fungsi organ tubuh. Faktor lingkungan, pakaian, dan kondisi fisik sangat menentukan kemampuan tubuh bertahan.
Mengapa Suhu Dingin Mempengaruhi Tubuh Manusia?
Tubuh manusia bekerja menjaga suhu inti tetap stabil melalui mekanisme yang disebut termoregulasi. Ketika berada di lingkungan dingin, tubuh harus menghasilkan panas lebih banyak agar organ vital tetap berfungsi. Jika kehilangan panas lebih cepat daripada produksi panas, risiko gangguan kesehatan akan meningkat.
Faktor seperti angin, kelembapan, dan kurangnya asupan energi dapat mempercepat hilangnya panas tubuh. Inilah sebabnya suhu dingin terasa jauh lebih ekstrem ketika disertai angin kencang, yang dikenal dengan istilah wind-chill factor.
Berapa Derajat Suhu Dingin yang Masih Bisa Diterima Manusia?
Dilansir VOI dari laman University of Notre Dame, berdasarkan pengamatan ilmiah dan pengalaman ekspedisi militer serta kutub, manusia berpakaian lengkap masih dapat mentoleransi suhu hingga sekitar -29 derajat Celsius tanpa angin. Namun, batas ini sangat bergantung pada durasi paparan dan kecukupan makanan.
Tubuh sebenarnya mampu menghasilkan panas dalam jumlah cukup selama memiliki energi dari makanan. Karena itu, kelaparan dan hipotermia sering kali berjalan beriringan.
Perlu Anda ketahui, tanpa asupan kalori yang memadai, kemampuan tubuh untuk bertahan di suhu dingin akan menurun drastis.
BACA JUGA:
Batas Kritis dan Bahaya Suhu Dingin Ekstrem
Perlu Anda ketahui, pada suhu ekstrem sekitar -44 derajat Celsius, kulit manusia dapat membeku hanya dalam satu hingga dua menit. Kondisi ini dikenal sebagai frostbite atau radang dingin, yang terjadi ketika aliran darah ke ekstremitas berkurang.
Ironisnya, semakin banyak darah dialirkan ke tangan dan kaki, semakin besar panas tubuh yang hilang ke lingkungan. Akibatnya, tubuh harus memilih antara menjaga suhu inti atau melindungi ekstremitas.
Dalam kasus ringan, frostbite menyebabkan kulit memerah dan mengelupas. Pada tingkat lebih parah, kulit bisa melepuh, bahkan memerlukan amputasi akibat kerusakan jaringan permanen.
Baca juga artikel yang membahas Cari Tahu Penyebab Menggigil Setelah Melahirkan dan Cara Mengatasinya
Selain itu, saluran pernapasan tidak memiliki perlindungan optimal dari udara dingin dan kering. Dalam kondisi ekstrem, jaringan pernapasan dapat rusak dan terkelupas.
Bahkan suhu dingin ringan sekalipun dapat menurunkan fungsi saraf, mengurangi sensasi, dan melemahkan keterampilan motorik halus.
Risiko Hipotermia dan Faktor Pemicu
Hipotermia terjadi ketika kehilangan panas tubuh melebihi panas yang dihasilkan. Gejalanya meliputi menggigil hebat, mati rasa, denyut jantung melambat, hingga kondisi ekstrem yang dikenal sebagai “metabolic icebox”.
Risiko hipotermia meningkat drastis saat seseorang terendam air karena air merupakan penghantar panas yang sangat baik. Faktor lain seperti konsumsi alkohol, aktivitas fisik berlebihan, serta kurangnya makanan juga memperparah risiko ini.
Bagaimana Tubuh Beradaptasi dengan Suhu Dingin?
Saat menghadapi dingin, pembuluh darah akan menyempit dan mengalihkan darah hangat ke organ vital seperti jantung. Kemudian produksi urine meningkat akibat perubahan tekanan darah. Tubuh juga akan menggigil untuk menghasilkan panas tambahan.
Dalam jangka panjang, manusia dapat beradaptasi. Kelompok masyarakat seperti nelayan dan penduduk asli daerah dingin memiliki laju metabolisme lebih tinggi, sebagian karena pola makan tinggi protein yang membantu produksi panas tubuh.
Pertanyaan mengenai berapa derajat suhu dingin yang bisa diterima manusia, dengan demikian sangat bergantung pada kondisi tubuh, perlindungan, dan durasi paparan. Meski tubuh mampu bertahan di suhu ekstrem, risiko kesehatan serius selalu mengintai jika batas aman terlampaui.