YOGYAKARTA - Pada masa awal kelahiran, sebagian ibu mengkhawatirkan apakah bayinya sudah menerima ASI yang cukup atau belum. Produksi ASI yang belum lancar, bayi yang sering tidur, hingga berat badan yang turun tentunya dapat memicu kecemasan. Dilansir dari Antara, dokter Spesialis Anak dr. I Gusti Ayu Nyoman Partiwi, Sp.A, MARS, atau yang populer disapa dr. Tiwi ini menjelaskan bahwa salah satu parameter tanda menyusui efektif yaitu berat badan bayi. Simak ulasan selengkapnya di bawah ini.
Tanda Menyusui Efektif
Penurunan berat badan bayi harus diperhatikan
Dr. Tiwi mengungkapkan, penurunan berat badan pada hari pertama merupakan kondisi yang terjadi pada bayi baru lahir pada umumnya.
Namun, agar orangtua tidak salah menilai efektivitas menyusui, penurunan tersebut harus memiliki batas aman yang terus dipantau.
Untuk memahami hal ini, berat badan bayi harus dimonitor sejak hari pertama kelahiran. Pada 24 jam pertama, penurunan berat badan tidak boleh melebihi 5 persen dari berat lahir.
“Berat badan dimonitor. Hari pertama tidak boleh turun lebih dari 5 persen dari berat lahir,” ujarnya.
Ia selanjutnya menjelaskan cara menghitung batas penurunan berat badan tersebut secara sederhana. Jika bayi terlahir dengan berat 3 kilogram, maka penurunan maksimal yang masih dapat dikatakan aman yaitu sekitar 150 gram.
“Hitungnya caranya kan 3 kilo. Kalau 10 persen kan 300, 5 persen berarti 150. Jadi dia boleh turun, tapi enggak boleh lebih dari 150 di 24 jam pertama,” katanya.
Menurut dr. Tiwi, jika ASI memang belum keluar banyak, tetapi bayi terus menyusu dengan baik, penurunan berat badan umumnya masih dapat dikatakan dalam batas wajar dan tidak melebihi parameter tersebut.
“Kalau ASI-nya belum ada, tapi bayinya mengisap terus, coba besoknya itu enggak sampai 5 persen. Paling turun 2 persen, 3 persen,” ungkapnya.
BACA JUGA:
Dalam dua minggu, berat badan bayi harus kembali
Selain memantau penurunan berat badan di hari pertama, dr. Tiwi menekankan pentingnya memperhatikan kenaikan berat badan untuk jangka waktu selanjutnya. Jika setelah lahir ada penurunan berat badan, memasuki usia dua minggu, menurut dr.Tiwi seharusnya berat badan bayi sudah kembali ke berat lahir.
Jika setelah dua minggu berat badan bayi belum kembali ke berat lahir, kondisi tersebut harus dievaluasi lebih lanjut.
“Walaupun dia belum kembali, kita lihat. Mungkin dia posisi menyusui dan pelekatannya tidak benar,” jelasnya. Dalam kondisi seperti ini, dr. Tiwi menyarankan untuk melakukan kombinasi pendekatan, mulai dari memperbaiki posisi dan pelekatan menyusui hingga membantu asupan dengan ASI perah.
Bayi terlalu lama tidur bisa memengaruhi efektivitas menyusui
Selain itu, dr. Tiwi juga mengingatkan bahwa bayi yang terlalu lama tidur, terutama jika dipisahkan dari ibu, dapat berpengaruh terhadap efektivitas menyusui dan produksi ASI. Ia mencontohkan kondisi di rumah sakit saat bayi dikembalikan ke ruang bayi karena ibu sangat kelelahan.
Tiwi menjelaskan, jeda menyusui yang terlalu lama dapat mengganggu refleks mengisap bayi.
“Sudah tiga jam tidak menyusui. Biasanya itu yang membuat produksi ASI jadi turun. Karena bayinya akan banyak tidur, refleks mengisapnya ke ibu jadi berkurang,” tuturnya.
Dekatkan bayi ke dada ibu untuk mendukung keberhasilan menyusui
Agar proses menyusui dapat berhasil, dr. Tiwi menyarankan agar bayi lebih sering berada di dada ibu, khususnya pada masa awal kelahiran.
Ia juga menekankan, jika ibu masih kesulitan menyusui karena posisi atau pelekatan belum tepat, sebaiknya bayi tidak langsung diletakkan di kereta bayi.
“Makin lama di dada ibu, makin gampang bayinya menemukan puting. Jangan ditaruh di kereta bayi, taruh di dadanya ibu saja,” jelas dr. Tiwi.
Demikianlah ulasan tentang tanda menyusui efektif. Semoga bermanfaat. Kunjungi VOI.id untuk mendapatkan informasi menarik lainnya.