Bagikan:

JAKARTA - Pemerintah India bergerak cepat untuk menahan penyebaran virus Nipah setelah 5 kasus infeksi dikonfirmasi dan hampir 100 orang menjalani karantina di negara bagian Benggala Barat, India timur.

Otoritas setempat melaporkan tiga kasus baru pada awal pekan ini, menambah dua kasus sebelumnya yang dialami oleh dua perawat, seorang pria dan perempuan yang lebih dulu dinyatakan positif. Kedua perawat tersebut bekerja di sebuah rumah sakit swasta di Barasat, dekat ibu kota negara bagian, Kolkata.

Menurut laporan kantor berita Press Trust of India, tiga kasus terbaru melibatkan seorang dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya.

Virus Nipah merupakan penyakit yang dapat menular antara hewan dan manusia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikannya sebagai patogen prioritas karena berpotensi memicu wabah besar. Hingga kini, belum tersedia vaksin untuk mencegah infeksi maupun obat yang dapat menyembuhkan penyakit ini.

Pejabat pemerintah setempat menyebut hampir 100 orang telah diminta untuk menjalani karantina mandiri di rumah setelah kasus pertama terungkap pada Senin, 19 Januari 2026.

Pasien dengan infeksi terbaru saat ini dirawat di rumah sakit khusus penyakit menular di Beleghata, Kolkata timur. Sementara itu, dua pasien sebelumnya masih dirawat intensif di unit perawatan intensif (ICU) sebuah rumah sakit swasta.

"Kondisi perawat pria menunjukkan perbaikan, tetapi pasien perempuan masih dalam kondisi sangat kritis. Keduanya dirawat di ICCU (Intensive Coronary Care Unit)," ujar pejabat senior Dinas Kesehatan Benggala Barat, dikutip dari laman independent.co.uk.

Para ahli di India, negara yang hampir setiap tahun menghadapi kasus virus Nipah mengingatkan masyarakat akan sifat zoonosis virus ini, yakni penyakit yang dapat berpindah dari hewan ke manusia.

Rajeev Jayadevan, mantan presiden Asosiasi Medis India di Cochin, menjelaskan virus Nipah ditemukan pada beberapa spesies kelelawar. Menurutnya, penularan pada manusia tergolong jarang dan biasanya terjadi akibat limpahan penularan secara tidak sengaja dari hewan ke manusia, terutama melalui konsumsi buah yang terkontaminasi oleh kelelawar.

"Risiko ini lebih besar di wilayah pedesaan dan daerah dekat hutan, di mana aktivitas pertanian meningkatkan kontak antara manusia dan kelelawar pemakan buah yang sedang mencari makanan." ujarnya.

Virus Nipah telah dikaitkan dengan kematian puluhan orang di negara bagian Kerala sejak pertama kali muncul di wilayah selatan India tersebut pada 2018.

Virus ini pertama kali teridentifikasi pada 1998 saat terjadi wabah penyakit di kalangan peternak babi di Malaysia dan Singapura. Penularan terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh kelelawar dan babi yang terinfeksi, serta dalam beberapa kasus, dari manusia ke manusia.

Para ilmuwan menduga virus Nipah telah lama ada pada kelelawar jenis flying fox selama ribuan tahun dan khawatir akan muncul varian bermutasi yang lebih mudah menular.

Penyakit ini dapat menyebar melalui cairan tubuh seperti air liur, urin, dan darah, sehingga upaya pencegahan dan pengawasan ketat menjadi sangat penting.