Bagikan:

JAKARTA Pernahkah Anda melihat seseorang batuk di tempat umum lalu secara spontan menjauh dengan ekspresi tidak nyaman? Bagi sebagian besar dari kita, itu mungkin hanya refleks perlindungan diri. Namun bagi seorang pejuang Tuberkulosis (TBC), reaksi kecil tersebut bisa terasa seperti luka yang lebih perih daripada penyakitnya sendiri.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sulawesi Selatan menyadari bahwa musuh terbesar dalam penanggulangan TBC saat ini bukanlah sekadar kuman, melainkan stigma sosial. Rasa takut dikucilkan sering kali menjadi tembok besar yang menghalangi pasien untuk berani memeriksakan diri atau mengakui kondisinya.

Kekuatan Bahasa dalam Memulihkan

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P3) Dinkes Sulsel, Moh Yusri Yunus, menyoroti betapa pentingnya mengubah cara kita berkomunikasi. Stigma sering kali menyelinap melalui pernyataan ketus atau sikap tubuh yang merendahkan saat melihat orang sedang flu atau batuk.

“Mereka cenderung meminta penderita menyingkir dengan perkataan yang tidak nyaman didengar. Padahal, ada cara yang jauh lebih halus, misalnya dengan menawarkan atau meminta penderita menggunakan masker dengan nada bicara yang santun,” ujar Yusri seperti dilansir dari ANTARA.

Dengan mengubah cara bicara, kita sebenarnya sedang membukakan pintu bagi pasien untuk merasa diterima dan didukung dalam proses pengobatannya.

Kolaborasi dari Media hingga Mimbar Agama

Menyadari bahwa stigma tidak bisa hilang dalam semalam, Dinkes Sulsel meluncurkan strategi yang menyentuh berbagai lapisan masyarakat:

Gerakan Akar Rumput: Tim terpadu dari tingkat kabupaten hingga Puskesmas dikerahkan untuk melakukan sosialisasi langsung dan mengoptimalkan konten edukatif di media sosial.

Narasi Positif di Media: Menggandeng media massa untuk tidak hanya menyoroti kekurangan layanan, tetapi juga mengangkat inovasi dan kisah sukses kesembuhan sebagai inspirasi.

Sentuhan Religi: Menjelang bulan suci Ramadhan, Dinkes Sulsel bekerja sama dengan Kementerian Agama (Kemenag) untuk menyisipkan pesan hidup sehat dan kasih sayang sesama dalam tausiah serta ceramah keagamaan.

Memutus Rantai Penularan dengan Kasih Sayang

Upaya mengeliminasi stigma ini bukan hanya tentang sopan santun, tetapi tentang strategi kesehatan publik yang vital. Ketika stigma hilang, rasa takut pun pudar. Pasien tidak akan lagi bersembunyi; mereka akan datang ke fasilitas kesehatan dengan kepala tegak, menjalani pengobatan hingga tuntas, dan secara otomatis memutus rantai penularan di masyarakat.

Sulawesi Selatan kini sedang bergerak menuju masa depan di mana TBC bukan lagi sebuah aib yang harus ditutupi, melainkan tantangan kesehatan yang bisa dihadapi bersama dengan dukungan, masker, dan senyuman yang tulus.