JAKARTA - Keberhasilan pengobatan tuberkulosis (TBC) sangat bergantung pada kedisiplinan pasien dalam menjalani terapi hingga tuntas. Putus pengobatan di tengah jalan tidak hanya membahayakan kondisi kesehatan pasien, tetapi juga berpotensi memperpanjang rantai penularan penyakit di masyarakat.
Dinas Kesehatan mengingatkan pasien TBC agar tidak menghentikan pengobatan sebelum waktunya, mengingat dampak serius yang dapat ditimbulkan, baik bagi pasien maupun lingkungan sekitarnya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Jambi, Rini Kartika, mengatakan bahwa pengobatan yang tidak diselesaikan sesuai ketentuan berisiko memicu terjadinya TBC resisten obat. Kondisi ini membuat pasien harus menjalani pengobatan dengan jenis obat yang lebih banyak dan durasi yang jauh lebih lama.
"Pengobatan TBC yang terputus sangat berbahaya, karena dapat menyebabkan terjadinya kasus TBC resisten obat, yang jauh lebih sulit diobati akibat membutuhkan lebih banyak jenis obat, waktu pengobatan yang lebih lama, serta tetap berpotensi menjadi sumber penularan bagi lingkungan sekitarnya," kata Rini Kartika.
BACA JUGA:
Berdasarkan data Dinkes Kota Jambi, selama tahun 2025 tercatat sebanyak 1.972 pasien TBC menjalani pengobatan. Dari jumlah tersebut, 648 pasien dinyatakan sembuh atau telah menyelesaikan pengobatan, 104 pasien tercatat mengalami putus obat atau Loss to Follow Up (LFU), 134 pasien meninggal dunia, satu pasien mengalami gagal pengobatan, dan 1.085 pasien masih dalam proses pengobatan.
Untuk menekan angka penularan dan memastikan pasien mendapatkan terapi sedini mungkin, Dinkes terus memperkuat upaya penemuan kasus secara aktif. Langkah tersebut dilakukan melalui investigasi kontak dan kunjungan rumah, terutama terhadap individu yang memiliki riwayat kontak erat dengan pasien TBC.
Rini menjelaskan pengobatan TBC memiliki tantangan tersendiri karena durasinya yang cukup panjang, yakni sekitar enam bulan dan dapat lebih dari satu tahun pada kondisi tertentu.
Oleh karena itu, dalam terapi TBC terdapat peran Pengawas Menelan Obat (PMO) yang umumnya berasal dari anggota keluarga pasien, guna mencegah terjadinya putus obat.
"TBC pada orang dewasa umumnya diawali dengan gejala batuk berdahak selama lebih dari dua minggu, sementara pada bayi, balita, dan anak dapat ditandai dengan berat badan yang tidak bertambah atau pertumbuhan yang tidak sesuai usia, sehingga pasien dianjurkan menjalani pengobatan hingga tuntas, menggunakan masker selama hasil pemeriksaan dahak masih positif, meningkatkan asupan gizi keluarga, serta memastikan kondisi rumah memiliki ventilasi yang memadai," kata Rini Kartika.