Bagikan:

JAKARTA - Seorang influencer kebugaran asal Rusia meninggal dunia setelah memaksakan diri mengonsumsi 10 ribu kalori setiap hari dalam sebuah tantangan ekstrem yang disebut sebagai 'food marathon'.

Dmitry Nuyanzin dikabarkan berencana menaikkan berat badan hingga sekitar 25 kilogram sebelum menurunkannya kembali sebagai bagian dari promosi program penurunan berat badannya.

Selama beberapa minggu, pria berusia 30 tahun ini terus mengonsumsi makanan cepat saji seperti pizza, burger, keripik, kue, hingga berbagai jenis pastry.

Seluruh proses itu dibagikan ke media sosial, termasuk pola makan harian berkalori tinggi yang dijalaninya.

"Saya sedang menaikkan berat badan untuk program weight loss saya dan ini adalah diet 10 ribu kalori per hari. Untuk sarapan, saya makan sepiring pastry dan setengah kue," ucap Dmitry dalam salah satu unggahan videonya, dikutip dari laman LADbible.

"Untuk makan siang, biasanya saya makan 800 gram pangsit dengan mayones. Sepanjang hari saya ngemil keripik dan makan malam saya makan burger serta dua pizza kecil," tambahnya.

Influencer yang memiliki lebih dari 43 ribu pengikut di Instagram itu berencana kembali menurunkan berat badannya dalam waktu singkat untuk menunjukkan efektivitas program yang ia buat.

Dalam sebuah unggahan pada 21 Oktober, ia mengajak pengikutnya ikut serta dalam kursus penurunan berat badan sambil menjanjikan hadiah menarik bagi peserta yang berhasil mencapai target.

Tak hanya itu, Dmitry menawarkan hadiah sekitar 100 Pound Sterling atau Rp2,2 juta untuk siapa saja yang memiliki berat lebih dari 100 kg dan mampu menurunkan 10 persen berat badan mereka sebelum Tahun Baru.

Namun tantangan ekstrem tersebut justru berujung tragis. Menurut laporan kanal Ostorozhno Novosti, jantung Dmitry gagal berfungsi saat tidur. Ia ditemukan tak bernyawa sehari setelah membatalkan sesi latihan dengan klien dan sempat memberi tahu teman-temannya bahwa ia merasa tidak enak badan. Ia disebut sudah berencana untuk memeriksakan diri ke dokter.

Menurut keluarga dan kerabatnya, jantung Dmitry berhenti berdetak saat tidur. Ia dimakamkan di kota Orenburg, tempat menempuh pendidikan di Orenburg Olympic Reserve School dan National Fitness University di St. Petersburg.

Pada awal tantangan, berat badan Dmitry berada di angka 92 kg. Namun pada 18 November, beratnya sudah mencapai 105 kg. Dalam unggahan terakhirnya di media sosial, ia terlihat memamerkan kenaikan berat badannya sambil memakan sebungkus keripik, disertai caption, "Saya menginginkannya dan saya bisa melakukannya!"

British Heart Foundation menjelaskan kenaikan berat badan berlebih dapat menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan jantung. Timbunan lemak dapat menyumbat arteri dan meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, serta diabetes tipe 2—yang semuanya merupakan faktor risiko penyakit jantung, serangan jantung, stroke, hingga demensia vaskular.

Sebuah video simulasi di YouTube menggambarkan apa yang terjadi jika dua orang kembar mengonsumsi jumlah kalori yang sama, tetapi dengan jenis makanan berbeda. Satu makan makanan utuh seperti ikan, telur, dan sayuran, sementara yang lain hanya makan junk food, soda, keripik, dan fast food.

Dalam simulasi itu, keduanya memang sama-sama menurunkan berat badan, namun kondisi tubuh mereka jauh berbeda. Si kembar yang makan junk food terlihat pucat dan lemah, sedangkan kembar yang makan makanan utuh terlihat bugar dan sehat.

Fenomena ini bukan hal baru. Beberapa tahun lalu, kembar identik asal Inggris, Ross dan Hugo Turner, terlibat dalam studi diet 12 minggu oleh King’s College London. Keduanya makan dengan jumlah kalori yang sama dan berolahraga dengan rutin.

- Hugo yang menjalani diet vegan, kehilangan 4–9 pon dan menurunkan persentase lemak tubuh dari 13% menjadi 12%.

- Ross yang menjalani diet tinggi daging, justru bertambah sekitar 10 pon, sebagian besar berupa lemak. Ia juga mengalami penurunan kontrol gula darah dan sering mengalami penurunan energi di sore hari.

Meski hasil penelitian ini tidak bisa dijadikan kesimpulan mutlak karena hanya melibatkan dua orang, para ahli kesehatan menyatakan bahwa hasilnya sejalan dengan banyak studi lain, yakni makanan utuh dan seimbang tetap menjadi pilihan terbaik untuk kesehatan jangka panjang.

Dua dokter dari UCLA Health, Elizabeth Ko dan Eve Glazier, menegaskan pentingnya pola makan yang terdiri dari protein tanpa lemak, makanan fermentasi, lemak sehat, dan berbagai macam sayuran serta buah-buahan. Kombinasi tersebut dinilai membantu kesehatan jantung, gula darah, mikrobioma usus, serta kesehatan secara keseluruhan.