JAKARTA - Mimpi buruk mungkin terdengar sepele, namun penelitian terbaru menemukan sering mengalaminya bisa menjadi tanda bahaya bagi kesehatan jangka panjang. Hal ini terungkap dari penelitian yang dipresentasikan pada European Academy of Neurology Congress pada bulan Juni.
Penelitian menyebut orang dewasa yang melaporkan mengalami mimpi buruk setiap minggu memiliki risiko tiga kali lipat untuk meninggal sebelum usia 70 tahun dibandingkan dengan mereka yang jarang atau tidak pernah mengalaminya.
Selain itu, para penderita mimpi buruk juga menunjukkan tanda-tanda penuaan biologis yang lebih cepat. Hal ini diukur melalui panjang telomer yaitu bagian kecil dari DNA yang menjadi indikator penuaan sel serta melalui jam epigenetic. Jam epigenetic adalah penanda molekuler yang menunjukkan seberapa cepat tubuh menua.
"Frekuensi mimpi buruk mingguan merupakan prediktor kematian dini yang lebih kuat dibandingkan merokok, obesitas, pola makan buruk, atau gaya hidup tidak aktif," kata penulis utama studi tersebut, Dr. Abidemi Otaiku, seorang ahli saraf dari Imperial College London, dikutip dari laman TODAY.
Jika mimpi buruk begitu berbahaya, mengapa tubuh kita justru memiliki mekanisme yang dapat merugikan kesehatan? Dr. Otaiku mengatakan belum ada kesepakatan mengenai alasan seseorang bisa bermimpi, apalagi mengalami mimpi buruk.
"Mimpi buruk sangat mengganggu atau menimbulkan tekanan emosional," katanya.
Otak yang sedang tidur tidak dapat membedakan antara mimpi dan kenyataan, sehingga mimpi buruk dapat memicu respon 'fight-or-flight' (melawan atau lari) dan meningkatkan kadar kortisol, hormon stres yang berkaitan dengan percepatan penuaan sel.
Efek fisik dari mimpi buruk sangat nyata. Efek dirasakan adalah jantung berdebar cepat, napas terengah-engah, tubuh berkeringat hingga beberapa orang terbangun sambil menangis.
"Bagi mereka yang sering mengalami mimpi buruk, stres kumulatif ini bisa berdampak besar terhadap proses penuaan," jelas Dr. Otaiku.
"Selain itu, mimpi buruk mengganggu kualitas dan durasi tidur. Ini hal yang penting bagi proses pemulihan dan perbaikan sel tubuh," tambahnya.
Kombinasi beracun antara stres kronis dan kurang tidur ini diyakini menjadi penyebab utama penuaan yang lebih cepat. Menurut American Psychological Association, mimpi buruk juga dapat meningkatkan kecemasan, menurunkan suasana hati, hingga meningkatkan risiko bunuh diri.
Penelitian terbaru ini melibatkan lebih dari 183 ribu orang dewasa yang dilacak hingga 19 tahun, berdasarkan seberapa sering mereka mengalami mimpi buruk. Lebih dari 2.400 anak-anak juga ikut serta, dan hasilnya menunjukkan anak-anak yang sering bermimpi buruk juga mengalami penuaan biologis yang lebih cepat.
Menurut National Library of Medicine, mimpi buruk dapat dipicu oleh berbagai faktor, seperti peristiwa traumatis, stres, obat-obatan tertentu, konsumsi alkohol berlebihan, penyakit, dan depresi.
Kebiasaan makan sebelum tidur, misalnya mengonsumsi keju bagi orang yang intoleran terhadap laktosa juga bisa menjadi penyebabnya.
Mimpi buruk yang paling umum seperti dikejar seseorang, mengalami kekerasan fisik, jatuh dari ketinggian, atau kematian orang tercinta.
"Baik mimpi buruk maupun mimpi erotis sebenarnya adalah hal yang universal, setiap orang pasti pernah mengalaminya," kata Dr. Rahul Jandial, ahli bedah otak dan ahli saraf.
BACA JUGA:
Pada anak-anak, mimpi buruk biasanya berkurang seiring bertambahnya usia. Namun pada orang dewasa, jika mimpi buruk terjadi sering dan terus-menerus, hal itu bisa menjadi tanda peringatan.
"Jika mimpi buruk sering muncul dan terasa baru, itu bisa dianggap seperti nyeri yang tidak kunjung hilang, artinya ada sesuatu yang perlu diperiksa,” ujar Jandial dalam wawancara dengan TODAY tahun 2024.
Ia menambahkan hal ini bisa menjadi gejala penyakit fisik seperti Parkinson atau lupus.
Beberapa ilmuwan berpendapat meskipun mimpi normal bermanfaat, seperti membantu mengatur emosi atau memecahkan masalah. Tetapi mimpi buruk adalah bentuk dari proses tersebut dan tidak memiliki tujuan yang jelas.
Namun, teori lain menyebutkan bahwa mimpi buruk mungkin berfungsi sebagai simulasi dunia berbahaya, tempat manusia berlatih menghadapi ancaman secara aman.
"Ini mungkin memberi keuntungan bertahan hidup bagi nenek moyang kita yang hidup di lingkungan berbahaya," kata Dr. Otaiku.
"Namun di dunia modern yang relatif aman, biaya jangka panjang dari mimpi buruk tampaknya lebih besar daripada manfaatnya," tambahnya.
Mimpi buruk bisa dicegah dan diobati. Dr. Otaiku menyarankan beberapa langkah berikut:
1. Hindari menonton film menakutkan sebelum tidur.
Terapkan kebiasaan tidur yang baik, seperti menjauh dari layar sebelum tidur, tidak makan atau minum terlalu dekat waktu tidur, dan menjaga suhu kamar tetap sejuk.
2. Kelola stres.
Sebaiknya belajar untuk mengelola stres jika mengalami kecemasan atau depresi. Bagi orang yang tetap sering mengalami mimpi buruk dan merasa kualitas hidupnya terganggu, disarankan untuk berkonsultasi dengan spesialis tidur.
Dr. Otaiku menambahkan pemeriksaan kesehatan rutin sebaiknya juga mencakup pertanyaan tentang frekuensi mimpi buruk.
"Sebab penelitian telah menunjukkan mengobati mimpi buruk dapat memperbaiki kualitas tidur dan kesehatan mental dan kemungkinan besar juga berdampak positif pada kesehatan fisik," ucapnya.
Salah satu metode psikologis yang terbukti efektif adalah Imagery Rehearsal Therapy (IRT), di mana pasien diajarkan untuk menulis ulang mimpi buruk mereka dan membayangkan versi baru dari mimpi itu di siang hari.
"Ini menarik karena mimpi buruk berasal dari imajinasi kita, dan pengobatannya juga menggunakan imajinasi, tetapi diarahkan ke arah yang lebih positif," tutup Jandial.