Bagikan:

JAKARTA - Sebuah penelitian besar dari Mayo Clinic mengungkapkan temuan mengejutkan, yaitu serangan jantung pada perempuan muda ternyata sering kali disebabkan oleh hal-hal di luar penyumbatan pembuluh darah.

Penelitian ini menganalisis data lebih dari 15 tahun dan memberikan gambaran baru yang bisa mengubah cara dunia medis menangani pasien muda dengan serangan jantung.

Selama ini, serangan jantung identik dengan penyumbatan arteri akibat penumpukan plak. Namun hasil penelitian yang dipublikasikan di Journal of the American College of Cardiology menunjukkan lebih dari 50% serangan jantung pada wanita di bawah 65 tahun justru disebabkan oleh faktor nontradisional.

Beberapa faktor nontradisional yang ditemukan antara lain Spontaneous Coronary Artery Dissection (SCAD), yaitu robekan spontan pada dinding arteri koroner dan emboli.

Emboli adalah penyumbatan akibat bekuan darah yang berpindah serta kondisi medis lain seperti anemia atau infeksi yang dapat memicu stres pada jantung.

Menurut data, SCAD enam kali lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan pria. Masalahnya, kondisi ini sering salah didiagnosis sebagai serangan jantung biasa akibat plak.

Dr. Claire Raphael, ahli jantung intervensi di Mayo Clinic sekaligus penulis utama studi ini menegaskan pentingnya diagnosis yang tepat.

“Penelitian ini menyoroti penyebab serangan jantung yang selama ini kurang diperhatikan, terutama pada perempuan. Jika akar masalahnya tidak dipahami, perawatan yang diberikan bisa kurang efektif hingga berbahaya,” jelas Dr. Raphael, dikutip dari laman Healthline.

Kesalahan diagnosis dapat membuat pasien menerima prosedur yang tidak perlu, seperti pemasangan stent pada kasus SCAD. Padahal, langkah tersebut bisa menimbulkan komplikasi.

Dari 1.474 kasus serangan jantung, 68% disebabkan oleh penyumbatan plak, namun pada perempuan, penyebab nontradisional lebih dominan.

Serangan jantung akibat anemia atau infeksi menjadi penyebab paling mematikan dengan tingkat kematian lima tahun mencapai 33%. Kasus serangan jantung yang benar-benar tidak jelas penyebabnya sangat jarang, kurang dari 3% setelah ditinjau ulang.

Dr. Rajiv Gulati, Ketua Divisi Kardiologi Intervensi dan Penyakit Jantung Iskemik di Mayo Clinic, menambahkan temuan ini harus membuka mata dunia medis.

"Penelitian kami menegaskan perlunya cara pandang baru dalam menangani serangan jantung, khususnya pada perempuan muda. Dokter perlu lebih waspada terhadap kondisi seperti SCAD, emboli, dan pemicu stres. Pasien juga sebaiknya aktif mencari jawaban ketika merasa ada yang tidak beres,” ujar Dr. Gulati.

Penelitian ini menunjukkan memahami penyebab serangan jantung sama pentingnya dengan mengobatinya.

“Mengetahui kenapa serangan jantung terjadi bisa menjadi perbedaan antara pemulihan atau kambuh kembali.” tegas Dr. Raphael.