Bagikan:

JAKARTA - Pernah lihat orang tiba-tiba jatuh pingsan di tempat umum? Reaksi pertama biasanya panik. Tapi, tahukah Anda kalau ada tindakan cepat atau pertolongan pertama bisa jadi penentu hidup-mati seseorang?

Itulah pentingnya kita perlu memahami Bantuan Hidup Dasar (BHD). Menurut dr. Guiddo Ilyasa Purba dari Eka Hospital BSD, BHD pada dasarnya membuat kita jadi "jantung dan paru-paru" sementara bagi korban henti jantung.

Sejumlah caranya pun cukup sederhana, yakni dengan melakukan kompresi dada dan (jika mampu) memberi napas buatan.

"Setiap menit yang terlewat tanpa pertolongan, peluang korban selamat turun 10%. Jadi kecepatan pada tindakan BHD itu cukup penting,” jelas dr. Guiddo saat berkunjung ke kantor VOI Media di Jakarta, Rabu, 24 September 2025.

Pertolongan pertama saat kasus henti jantung

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk memberi pertolongan pada orang kolaps, atau pada kasus henti jantung. Berikut pemaparan selengkapnya, seperti disampaikan dokter Guiddo. 

  1. Cek dulu keadaan sekitar. Pastikan aman untuk diri sendiri, korban, dan orang lain.

  2. Posisikan korban di alas datar dan keras. Supaya kompresi dada bisa efektif.

  3. Tes respons korban. Caranya bisa dengan menepuk bahu atau cubit, kalau tidak ada reaksi lanjut ke langkah berikutnya.

  4. Cek nadi dan napas maksimal 10 detik. Sentuh leher bagian samping sambil rasakan napas.

  5. Panggil bantuan darurat. Kalau ada, minta tolong ambil AED (Automated External Defibrillator).

Mulai kompresi dada

Bantuan Hidup Dasar dari dr. Guiddo
Bantuan Hidup Dasar dari dr. Guiddo. (Dinno/VOI.id)

Pada dasarnya, Bantuan Hidup Dasar (BHD) melibatkan tindakan kompresi dada, yang meniru fungsi jantung dalam memompa darah ke seluruh tubuh. Berikut caranya.

  • Letakkan telapak tangan di tengah dada.
  • Luruskan siku, gunakan berat badan.
  • Tekan sedalam 5–6 cm dengan ritme cepat (100–120 kali per menit).
  • Usahakan tanpa jeda lebih dari 10 detik.
  • Kalau bisa, lakukan pola 150 kali tekan  dan beri 2 napas buatan. Kalau ragu, cukup lakukan hands-only CPR.

Recovery position 

Recovery position atau posisi untuk pemulihan pasien bisa dilakukan kalau korban mulai bernapas, miringkan tubuhnya ke kiri untuk mencegah sumbatan jalan napas atau muntah.

Setiap menit adalah golden period, yang artinya secepat mungkin diberikan pertolongan, maka peluang menyelamatkan korban jadi lebih tinggi.

"Otak manusia hanya bisa bertahan beberapa menit tanpa aliran darah dan oksigen. Itu sebabnya tindakan cepat di menit-menit awal sangat krusial. Kalau lewat golden period, risiko kerusakan otak makin besar walaupun korban berhasil diselamatkan,” kata dr. Guiddo.