JAKARTA - Generasi Z, kelompok muda yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, tampaknya memiliki frekuensi berhubungan seks yang lebih rendah dibanding generasi sebelumnya.
Fenomena ini sempat menjadi perhatian banyak pihak karena berbeda dari kebiasaan Millennials, Gen X, atau Baby Boomers.
Dr. Mark Perera, seorang dokter umum yang memiliki ketertarikan pada kesehatan seksual menjelaskan beberapa faktor yang mungkin menjadi penyebabnya. Dalam sebuah wawancara, ia mengaku sulit untuk benar-benar memastikan alasannya.
"Banyak faktor berkaitan dengan stres," jelas Dr. Perera, dikutip dari LADbible.
"Stres ekonomi, stres terkait tempat tinggal, tak memiliki lingkungan yang memungkinkan untuk menikmati berhubungan seks," tambahnya.
Ia juga menambahkan ada unsur pemahaman diri terkait kebutuhan pribadi dalam hal keintiman.
"Ini bukan soal mengikuti tren umum," bebernya.
"Tapi lebih kepada memutuskan, 'Apakah saya siap berhubungan seks?’, ‘Apakah saya ingin berhubungan seks?', 'Apakah libido saya sedang tinggi sehingga saya ingin melakukannya sekarang?'" lanjutnya.
BACA JUGA:
Dr. Perera meyakini salah satu alasan Gen Z berhubungan seks lebih sedikit adalah karena mereka lebih memahami diri mereka sendiri.
"Itu yang ingin saya percaya," tambahnya.
Sebuah studi sebelumnya dari perusahaan mainan seks asal UK, Lovehoney mengumpulkan data tentang seberapa sering setiap generasi berhubungan seks dalam setahun.
Hasilnya menunjukkan Baby Boomers (kemungkinan lahir antara 1946–1964) berhubungan seks sekitar 47 kali per tahun, atau sekitar 0,9 kali per minggu.
Sementara Gen X berhubungan seks rata-rata 1,2 kali per minggu, sehingga mereka yang berusia 46–60 tahun diperkirakan melakukan hubungan seks sekitar 62 kali per tahun.