Bagikan:

JAKARTA - Fenomena menarik muncul di kalangan generasi Z. Di tengah tingginya biaya hidup, pendidikan, hingga ketidakpastian kerja, banyak anak muda memilih untuk tidak mengeluarkan uang sama sekali untuk urusan kencan.

Laporan terbaru Bank of America menemukan bahwa sekitar 53% pria dan 54% wanita Gen Z (usia 18–28 tahun) tidak menghabiskan sepeser pun tiap bulan untuk kencan.

Generasi Z menghadapi tantangan finansial yang lebih berat dibanding generasi sebelumnya. Sewa tempat tinggal, harga kebutuhan pokok, hingga biaya kuliah yang kian melambung membuat mereka lebih memprioritaskan uang ketimbang percintaan.

"Mereka khawatir soal belanja kebutuhan, sewa rumah, sampai makan di luar. Jadi wajar kalau kencan dianggap bukan prioritas," ujar Will Smayda, Head of Financial Centers di Bank of America, dikutip dari laman Market Watch.

Pelatih kencan, Damona Hoffman, menyebut tren ini sebagai romance recession atau resesi cinta. Ia menilai, pandemi COVID-19 mempercepat penurunan aktivitas kencan, karena membuat anak muda terbiasa menjalin hubungan secara online.

"Kita melihat penurunan kencan yang cukup drastis. Banyak orang Gen Z bahkan menarik diri sepenuhnya dari dunia kencan karena merasa cemas, terutama kalau tidak punya cukup uang," kata Hoffman.

Meski begitu, bukan berarti Gen Z sama sekali tidak peduli pada cinta. Mereka yang tetap berkencan justru lebih berhati-hati mengatur pengeluaran. Michael Kaye, Direktur Brand Marketing OkCupid, menjelaskan pola kencan anak muda kini lebih terarah.

"Gen Z tidak mencari kepuasan instan. Mereka berkencan dengan tujuan, lebih mengutamakan kompatibilitas dan nilai bersama dibanding pengeluaran yang mewah," ujarnya.

Menariknya, banyak Gen Z yang merasa tidak pantas berkencan karena gaji kecil atau punya hutang. Menurut data OkCupid, 68% responden bersedia berkencan dengan seseorang yang berpenghasilan lebih rendah, asalkan orang tersebut punya motivasi atau tidak menjadikan uang sebagai prioritas dalam hubungan.

"Apa yang mereka tulis di aplikasi kencan kadang berbeda dengan kenyataan. Saat sudah terhubung secara emosional, faktor finansial biasanya tidak lagi jadi fokus utama," jelas Hoffman.

Akibat resesi cinta ini, banyak milestone hidup yang ikut tertunda. Data sensus AS menunjukkan, pada 1975 sekitar 45% orang usia 25–34 tahun sudah menikah, punya anak, dan rumah sendiri. Namun pada 2024, hanya 21% yang mencapai semua itu.

"Tonggak hidup mereka berbeda dengan generasi orang tua. Targetnya sudah bergeser," tambah Hoffman.

Meski begitu, para ahli menilai masih ada cara untuk meredakan tekanan soal kencan. Salah satunya dengan mengubah cara berpikir. Alih-alih melihatnya sebagai biaya kencan, mereka bisa menyebutnya sebagai biaya sosialisasi.

"Dulu pergi ke bar atau klub bukan selalu untuk kencan, tapi untuk bersenang-senang. Dari situ, hubungan bisa saja terbentuk. Saya rasa penting bagi anak muda untuk tetap membangun koneksi nyata, karena kemampuan komunikasi langsung semakin tergerus." ujar Hoffman.