Eksklusif, Kusuma Ida Anjani: di Masa Pandemi Mustika Ratu Fokus pada Produk Kesehatan
Kusuma Ida Anjani. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

Bagikan:

Pandemi COVID-19 seperti badai yang menghantam apa dan siapa saja. Ada orang atau perusahaan yang jatuh dan ada juga yang bisa bertahan. Mereka yang bertahan biasanya karena menerapkan strategi yang pas sehingga tak tergerus dan karam dilanda badai. Mustika Ratu Tbk., yang bertumpu pada tiga pilar utama: beauty, natural health care dan wellness kata Kusuma Ida Anjani, Bcom, MBus, MAppFin selaku Direktur Pengembangan Bisnis dan Inovasi, melakukan inovasi dan refocusing dalam produksi di masa pandemi ini. Dan ternyata kiat ini membuat perseroan bisa menunjukkan pertumbuhan yang meyakinkan. Apa kiat dan strategi yang dia dilakukan? Kepada Tim VOI, dia berbagi cerita.

***

Mustika Ratu adalah perusahaan yang dirintis oleh BRA Mooryati Soedibyo di tahun 1975. Namun jauh sebelum itu sudah dimulai  dari berjualan jamu skala rumahan dan UMKM. Hingga kini perusahaan ini terus berkembang dan merambah banyak bidang. Namun tetap fokus pada beauty, natural health care dan wellness.

Di masa pandemi ini, saat banyak perusahaan terdampak pandemi, Mustika  Ratu, kata Kusuma Ida Anjani atau yang juga cucu dari Mooryati Soedibyo dan putri dari Presiden Komisaris Djoko Ramiadji, menujukkan perkembangan yang mengembirakan. Data penjualan di semester 1 tahun 2021 menujukkan peningkatan 20 persen lebih. Pertumbuhan yang ini ternyata banyak disumbang dari sektor kesehatan. Soalnya di masa pandemi ini kesehatan menjadi fokus perhatian semua orang agar bisa sehat, bugar dan imunitas terjaga.

Ia menamatkan studi di Curtin University dan meraih gelar Bachelor of Commerce, Accounting & Finance (2006-2008). Kemudian melanjutkan di Monash University mengambil program Double Degree - Master of Applied Finance dan  Master of Business (2009-2010). Berbekal ilmu yang dimiliki, Anjani bekerja di berbagai perusahaan dan institusi keuangan / perbankan di Australia seperti Commonwealth Bank of Australia, National Australia Bank, dan Morgan Stanley, selama 10 tahun lebih. Kemudian ia pulang ke tanah air di tahun 2019 dengan berkarya dan mengabdi di perusahaan yang didirikan oleh keluarganya.

Bergabung dengan Mustika Ratu, ia menempati posisi di jajaran direksi, sebagai Direktur Pengembangan Bisnis dan Inovasi. Ajeng begitu ia biasa disapa, mengapliksikan ilmu yang diraihnya di kampus dan pengalaman bekerja di perusahaan Internasional di negeri Kanguru. Meski berbeda bidang usaha, namun dia  bisa beradaptasi dengan bidang usaha Mustika Ratu dan iklim usaha yang ada di Indonesia.

Beragam pengembangan usaha dan inovasi dibawa kendali Ajeng. Bersama tim, dia mengeluarkan produk inovasi di masa pandemi ini. “Kami mengembangkan produk yang dibutuhkan masyarakat di masa sekarang seperti Herbamuno+, hand sanitizer, dan beragam produk herbal yang bisa meningkatkan imunitas tubuh. Jamu kami sajikan dalam rasa yang tidak pahit namun tanpa mengurangi khasiat dan disajikan dalam kemasan kekinian yang higienis,” terang perempuan yang juga aktif sebagai Ketua Harian PPAK Indonesia (Perhimpunan Perusahaan dan Asosiasi Kosmetika Indonesia), Wakil Sekjen DPP GP Jamu dan juga Ketua Pelaksana Pemilihan Puteri Indonesia.

Kepada Iqbal Irsyad, Edy Suherli, Savic Rabos dan Rifai yang menyambangi kantornya di Graha Mustika Ratu Jl. Gatot Subroto No.74-75, Jakarta belum lama berselang ia berbagi pengalaman serta kiat mengeluarkan inovasi. Kalau sebelum pandemi Mustika Ratu lebih menonjol sebagai produsen kosmetika, di masa pandemi ini mereka fokus di bidang kesehatan. Inilah petikan selengkapnya.

Kusuma Ida Anjani. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Kusuma Ida Anjani. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

Di masa pandemi ini, seperti apa kondisi Mustika Ratu?

Mustika Ratu itu punya tiga pilar yaitu beauty, natural health care dan wellness. Jadi kalau kita lihat dari segi penjualan, baru saja kami juga merilis data semester 1 kami sales-nya alhamdulillah naik di atas 20 persen dan ini memang juga mengikutsertakan produk-produk yang saat ini dibutuhkan oleh masyarakat khususnya adalah produk kesehatan, obat tradisional atau jamu.

Angka 20 persen ini dibandingkan dari tahun sebelumnya pada periode yang sama. Memang sudah masuk ke dalam era pandemi. Kalau kita lihat dan diperbandingkan dengan angka yang kita dapat dari BPS kemarin, pertumbuhan ekonomi 7,07 persen, angka 20 persen ini cukup baik untuk perkembangan. Kami di Mustika Ratu menanamkan untuk selalu fokus menciptakan inovasi melihat kebutuhan masyarakat. Dan yang dibutuhkan  sekarang adalah produk-produk  kesehatan khususnya untuk menjaga imun tubuh.  Mustika Ratu baru ini mengeluarkan produk dari bahan-bahan asli Indonesia yang diambil dari resep Ibu Mooryati Soedibyo, namanya Herbamuno+. Fugsinya mengatasi gejala-gejala yang kerap ditemukan saat  pandemi ini, seperti meriang, mual, dan demam. Semuanya bisa terbantu dengan mengkonsumsi suplemen jamu ini yang memiliki fungsi untuk membantu menjaga daya tahan tubuh.

Mustika Ratu sudah identik dengan produksi kosmetika, di masa pandemi ini orang mulai berhemat termasuk untuk kebutuhan kosmetika. Tetapi justru penjualan meningkat, apa karena inovasi produk kesehatan?

Kalau kita bicara kosmetik ada beberapa kategori di bawahnya;  personal care yang mencakup perawatan tubuh dan perawatan wajah. Lalu ada tata rias tata rias,  seperti lipstick, eyeliner, eyeshadow dan bedak dan seterusnya. Di personal care ini merupakan kategori yang dibutuhkan seperti sampo, sabun mandi, yang sudah menjadi kebutuhan pokok untuk  menjaga kebersihan. Saat ini masyarakat mencari produk-produk tersebut. Yang kami produksi  memiliki  bahan-bahan yang natural, jadi unik sekali. Variannya beragam, seperti  minyak zaitun yang mengandung biji mojokeling. Kami juga punya berbagai macam jenis masker terbuat dari bengkoang, tomat dan berbagai macam.

Kalau kita lihat data riset dari Google yang dirilis beberapa bulan yang lalu, selama pandemi ini justru meningkat pencarian untuk perawatan tubuh. Seperti di Do It Yourself (DIY) jadi mungkin karena WFH masyarakat  cenderung untuk  mencoba dan berkreasi menggunakan berbagai macam jenis produk. Contohnya  zaitun Mustika Ratu ini bisa digunakan multifungsi dan banyak masyarakat yang akhirnya berkreasi digunakan dengan scrub atau mereka melakukan sendiri dengan bahan-bahan natural lainnya.

Di masa pandemi ini juga penggunaan internet meningkat, adakah pengaruhnya terhadap Mustika Ratu?

Faktor digital itu juga penting, jadi kalau kita lihat ada data dari tahun 2020 ternyata penggunaan internet untuk semua kelas ekonomi, atas, tengah dan bawah, setiap harinya di atas 80 persen. Dengan kondisi ini kami juga melakukan penetrasi digital.

Kami mengoptimalkan marketing dan komunikasi kepada  publik dengan cara daring. Sebelum pandemi tim lapangan langsung berjumpa dengan konsumen, tetapi sekarang tidak bisa lagi.  Dulu kami lihat iklan lewat televisi yang paling efektif, sekarang kami melirik  ke digital dengan beriklan di  YouTube, media sosial, melibatkan KOL (Key Opinion Leader) dan influenser.

Apakah ada PHK selama pandemi ini?

Untuk PHK kami usahakan tidak ada. Di masa pandemi ini tim lapangan dan beauty advisor memang tidak bisa menggelar seminar yang dihadiri oleh banyak orang. Kami kemudian membentuk divisi digital yang bisa melakukan pemasaran melalui telepon dan media sosial. Jadi kami arahkan ke sana.

Kusuma Ida Anjani. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Kusuma Ida Anjani. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

Di masa pandemi ini Mustika Ratu juga menyumbang para nakes, ke mana saja?

Ini merupakan apresiasi kepada para pihak yang berjuang menekan korban selama pandemi ini. Sasaran kami adalah para nakes di RS Wisma Atlet, RS Wisma Haji, TNI-Polri dan semua pihak dari pemerintahan dan warga.  Kami ingin dapat membantu menjaga kesehatan dengan produk produk-produk kami seperti Herbamuno+ dan hand sanitizer serta produk yang berasal dari bahan herbal lainnya.

Untuk Herbamuno+ kandungannya apa saja?

Ada lima kandungan bahan alami di Herbamuno+ ini. Mulai dari jahe emprit: yang bisa mengatasi mual muntah dan sebagai immunomodulator dan gastroprotektor. Sambiloto: mengandung antiradang / antinyeri dan penurun demam. Lalu akar manis: juga mengandung antriradang / antinyeri, meredakan batuk (ekspektoran) dan sesak napas. Sedangkan meniran: mengandung immunomodulator dan hepatoprotektor. Dan daun jambu mete: mengandung antinyeri, meredakan diare dan bronkodilator.

Apakah Herbamuno+ ini sudah dilakukan uji klinis?

Untuk mempersiapkan sebuah uji klinis banyak sekali tahapannya,  kami bekerja sama dengan Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet dan juga dengan Universitas Indonesia. Kami melakukan uji klinis saat ini memang masih di tahap awal, namun produk ini sudah memiliki izin jamu. Jadi sudah bisa diedarkan ke masyarakat melalui apotik dan toko obat. Uji klinis ini penting karena kami ingin produk ini bisa juga didistribusikan untuk masyarakat global. 

Dalam industri obat tradisional itu ada tiga tahapan yang pertama adalah jamu yang menggunakan jurnal dan data empiris. Setelah itu kita lakukan uji praklinis yang kemudian  naik statusnya menjadi obat herbal terstandar. Dan terakhir setelah melakukan uji klinis akan naik menjadi fitofarmaka. Di Indonesia saat ini untuk kategori produk obat tradisional yang sudah menjadi fitofarmaka dan obat herbal terstandar memang sangat terbatas dan ini memang menjadi misi Mustika Ratu  agar kita juga bisa bersaing secara global.

Apa lagi yang dikembangkan?

Mustika Ratu itu berdiri sejak 1975, namun Ibu Mooryati Soedibyo sudah sejak lama berjualan jamu dalam UMKM di rumah itu dengan omset hanya Rp2.500. Sampai sekarang   lebih dari 1000 produk sudah dihadirkan. Kita punya Slimming Tea yang berasal dari daun jati Belanda. Produk ini sudah diuji praklinis di Tokyo University. Dan kini sudah dipasarkan di Timur Tengah, dan negara-negara tetangga seperti Malaysia.

Memang Indonesia itu kaya sekali dengan tanaman obat.  Indonesia dikenal juga sebagai biodiversitas terbesar di dunia. Inilah yang kami kembangkan di Mustika Ratu, menggali dan mengembangkan bahan obat alami yang kaya khasiat.  Inovasi lain yang kami lakukan adalah membuat produk jamu bisa tahan lama dengan kemasan yang higienis. Ibu Mooryati Soedibyo sudah menuliskan resep-resep obat tradisional yang didapat dari leluhurnya. Semua ini ditulis dalam buku Alam Sumber Kehatan, yang menjadi panduan kami dalam meracik bahan obat dan jamu.

Soal produk kecantikan, sekarang masuk kosmetika dari luar negeri, bagaimana menghadapi persaingan?

Soal produk kecantikan yang penting adalah keamanannya. Dikatakan aman kalau sudah mendapat izin dari BPOM. Kalau belum ada berarti ilegal. Produk-produk kosmetika Mustika Ratu mengandung bahan-bahan natural yang diproses secara higienis dan halal. Kosmetik kami itu holistik dan sesuai dengan pertumbuhan, anak-anak, remaja, dewasa dan seterusnya. Dan apa yang kami buat sesuai dengan kebutuhan orang Indonesia. Karena itu kami tidak takut bersaing dengan produk dari mana pun.

Mustika Ratu menjadi partner dari Yayasan Puteri Indonesia, sejauh mana perkembangannya kini?

Yayasan Putri Indonesia (YPI) dibangun oleh Ibu Mooryati dan dikembangkan oleh Ibu Putri Kuswisnuwardhani. Mustika Ratu selama 29 tahun terakhir terus menjadi partner dari Putri Indonesia. YPI  juga  memegang 3 lisensi yaitu Miss Universe, Miss International dan  Miss Supranational. Pemenang dari ajang Puteri Indonesia kita kirimkan di tiga ajang itu. Tujuannya selain untuk pemberdayaan perempuan Indonesia juga untuk mempromosikan wisata dan produk-produk asli Indonesia.

Apa rencana Anda jika Pandemi ini sulit melandai?

Kita bersyukur  meski pandemi masih terjadi pertumbuhan ekonomi membaik. Data BPS mengatakan pertumbuhan ekonomi kita 7,07 persen. Ini positif sekali. Kita berharap imuniasi bisa selesai segera, sehingga heard Immunity terbentuk. Dan selanjutnya masyarakat bisa bergerak dengan tetap prokes dan perekonomian bisa bangkit. Kita harus optimis bisa melewati pandemi ini. Peluang untuk produk kesehatan dan herbal makin di masa pandemi ini. Efisiensi juga kami lakukan agar perusahaan bisa bertahan sampai nanti.

Anda adalah generasi ketiga dari Mustika Ratu, ini krusial kata banyak orang, nilai filosofi apa yang bisa diterapkan untuk masa kini dan masa depan?

Ada filosofi yang diwariskan oleh pendiri Mustika Ratu, Ibu Mooryati Soedibyo dalam menjalankan bisnis ini. Itu dari bahasa Jawa; Kusumo Rembesing Madu, Turning Sinatryo Tedak Ing Wong Amoro Topo, Mustikaning Ratu, yang artinya adalah perjuangan kekesatriaan melalui keprihatinan sehingga terciptalah suatu yang bernilai. Inilah yang menjadi semangat dan filosofi yang dibawa oleh Mustika Ratu. Filosofi pula yang kami turunkan dalam beragam produk yang kemudian disebarkan kepada masyarakat. Tujuannya adalah berbuat sesuatu yang terbaik meski harus dilalui dengan perjuangan yang tidak singkat. 

 

Kusuma Ida Anjani: Tak Pernah Berhenti Belajar 

Kusuma Ida Anjani. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Kusuma Ida Anjani. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

Belajar itu dari lahir sampai menutup mata, atau seumur hidup. Dan belajar itu tidak kenal tingkatan, yang muda bisa belajar pada tua, dan sebaliknya yang tua juga tidak ada larangan untuk belajar pada yang muda. Kusuma Ida Anjani, Bcom, MBus, MAppFin., benar-benar menerapkan falsafah ini baik untuk kepentingan dirinya sebagai pribadi maupun saat ia menjadi salah satu pucuk pimpinan di PT Mustika Ratu Tbk.,  perusahaan tempatnya berkarya dan mengabdi kini.

“Saya sendiri masih harus banyak belajar. Pokoknya saya tidak pernah mau berhenti belajar. Dan hal itu bisa dilihat dari pendiri Mustika Ratu sendiri,  Ibu Mooryati Soedibyo. Beliau selalu menekankan kepada kami untuk enggak berhenti belajar.  Ketika ada sesuatu yang baru atau sebuah tren baru di luar kita pelajari. Misalnya soal pola konsumsi masyarakat di tengah pandemi seperti sekarang. Itu juga  kita pelajari di kantor,” katanya.

Menurut Anjani, kesalahan terbesar adalah cepat puas dengan apa yang sudah  diraih. “Kita enggak boleh berhenti atau cepat puas dengan yang sudah diraih. Mungkin  kualitas produk kita sudah bagus, tapi apakah packaging-nya sudah sesuai? Dan seterusnya. Jadi jangan cepat puas dengan apa yang sudah dilakukan,” tegasnya.

Setiap orang punya defenisi sukses yang berbeda. Menurut perempuan yang biasa disapa Ajeng ini, tak boleh menyerah  sebelum kesuksesan bisa diraih. “Untuk mencapai kesuksesan itu nomor satu adalah belajar dan belajar.  Kenapa begitu, karena selalu ada langit di atas langit. Makanya kita harus belajar terus, pada siapa saja, termasuk dari orang yang sudah meraih kesuksesan. Bahkan tidak menutup kemungkinan bisa dari atas dan dari bawah. Dari dari anak-anak  muda, saya sendiri pun harus mengakui bahwa saya juga banyak belajar, dari kawan-kawan atau rekan-rekan muda yang memang  punya ide yang nyentrik dan unik,” tegasnya.

Masa Pandemi

Kusuma Ida Anjani. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Kusuma Ida Anjani. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

Meski masih  masa pandemi COVID-19, namun  Anjani tetap beraktivitas di kantornya. “Aktivitas kantor masih ada karena perusahaan kami masuk dalam katagori kritikal. Mustika Ratu kan memproduksi barang-barang dan alat-alat kesehatan, selain produksi barang dan kebutuhan kecantikan seperti yang banyak diketahui selama ini. Jadi saya tetap mengecek produksi bersama jajaran direksi lainnya. Saya harus memastikan kalau produksi tetap berlangsung meski situasinya masih pandemi,” katanya.

Namun yang membuatnya bersyukur, rapat dan pertemuan yang  sebelum pandemi dilakukan secara luring, kini semuanya bisa dilakukan secara daring. “Saya bisa lebih efektif meeting-nya karena dilakukan secara daring. Dari pertemuan satu ke pertemuan berikutnya kadang nyaris tanpa jeda yang panjang. Karena semua tak memerlukan perjalanan yang selama ini harus ditempuh. Tinggal ganti zoom-meeting dari satu satu ke yang berikutnya.  Satu hari saya biasanya 4 sampai 5 kali rapat, sekarang bisa 10 kali  karena saking efisiennya,” katanya.

Dari sisi bisnis, dalam masa pandemi memang berbeda dengan sebelum pandemi. Beruntung karena teknologi bisa diaplikasikan dalam hal pertemuan, dan melakukan pengawasan dengan  staf dan tim meski tempatnya berjauhan.

Apa tips sehat agar bisa lancar berkativitas? “Sejak sebelum pandemi saya  sudah rajin meminum minuman tradisional. Seperti jahe merah, temulawak, sambiloto dan lain-lain yang kaya khasiat. Sekarang di masa pandemi saya tinggal meneruskan kebiasaan itu. Dan enaknya lagi sekarang sudah tersedia dalam kemasan yang praktis,” katanya.

Enaknya minum jamu sekarang rasa pahit sudah diminimalisir. “Kalau dulu orang enggan minum jamu itu karena rasanya yang pahit. Padahal dibalik itu banyak khasiat yang terkandung. Namun sekarang dengan teknologi, rasa pahit itu bisa diminimalisir tanpa mengurangi khasiat jamu. Penyajiannya juga dalam kemasan dan warna yang menarik dan kekinian banget,” paparnya.

Kusuma Ida Anjani. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Kusuma Ida Anjani. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

Tak hanya meminum jamu, Anjani juga berusaha rutin berolahraga. “Saya biasanya bangun jam 5 pagi, kebiasaan rutin saya ya lari pagi kurang setengah jam sampai satu jam. Setelah itu siap-siap sarapan dan lanjut ke kantor. Sepulang dari kantor kalau masih ada waktu saya juga  gunakan untuk latihan kardio. Itu saja yang saya lakukan engga ada olahraga yang heboh,” ungkapnya.

Dalam urusan makanan, Anjani punya tips sendiri saat ia mengonsumsi makanan tertentu yang banyak dikatagorikan sebagai makanan yang kurang sehat, seperti banyak lemak dan kolesterol. “Terus terang saya itu suka sekali jajan dan makan makanan Indonesia. Kadang ada makanan-makanan khas Indonesia itu yang banyak mengandung kolesterol. Nah saya ada penangkalnya kalau sudah seperti itu,” ungkapnya.  

Jadi sebelum mengonsumsi makanan spesial itu, ada ia meminum ramuan khusus yang diproduksi oleh Mustika Ratu yang berkhasiat mengurangi dampak buruk dari makanan yang dikonsumsi. “Kalau sudah begitu enggak deg-degan lagi meski harus mengonsusmsi makanan yang dianggap kurang sehat itu, hehehe,” lanjut Anjani berbagi tips.

Setelah dari Senin hingga Jumat berkutat dengan urusan kantor, akhir pekan adalah waktu Kusuma Ida Anjani untuk mencurahkan perhatian pada keluarganya. “Meski sibuk dengan urusan kantor, tiba di akhir pekann saya fokus untuk  keluarga, baik keluarga kecil saya maupun keluarga besar. Ya kita sering kumpul-kumpul sekadar makan bersama, tapi di masa pandemi ini frekwensi kumpulnya menurun drastis, maklum ada PPKM. Kita harus patuhi protokol kesehatan,” kata perempuan yang pernah bekerja di Australia setelah menamatkan studi di negeri Kanguru itu.

 

“Saya sendiri masih harus banyak belajar. Pokoknya saya tidak pernah mau berhenti belajar. Dan hal itu bisa dilihat dari pendiri Mustika Ratu sendiri,  Ibu Mooryati Soedibyo. Beliau selalu menekankan kepada kami untuk enggak berhenti belajar.  Ketika ada sesuatu yang baru atau sebuah tren baru di luar kita pelajari. Misalnya soal pola konsumsi masyarakat di tengah pandemi seperti sekarang. Itu juga  kita pelajari di kantor,”

Kusuma Ida Anjani