Petani cengkeh saat ini, kata Sekjen Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Asosiasi Petani Cengkeh Indonesia (APCI) I Ketut Budhyman, nyaris tak mendapat perhatian pemerintah. Impor cengkeh dibuka bebas dengan dalih free trade. APCI sudah mengusulkan kepada pemerintah untuk mengubah aturan ini, namun hingga kini tak ada perubahan.
***
Semua ini, kata dia, berawal dari kebijakan Thomas (Tom) Trikasih Lembong sebagai Menteri Perdagangan (2015–2016) yang menerapkan soal free tradealias perdagangan bebas.
Secara teori, kebijakan ini berfokus pada deregulasi, debirokratisasi, dan integrasi ekonomi global untuk menjaga stabilitas harga pangan dan meningkatkan daya saing investasi Indonesia. Namun pada kenyataannya, petani cengkeh amat terdampak karena masuknya cengkeh impor tanpa halangan. Akibatnya, harga cengkeh anjlok.
“Jadi impor cengkeh boleh oleh siapa saja. Harga cengkeh yang Rp150.000 jadi Rp50 ribu,” katanya.
APCI bukannya diam dengan kebijakan ini. Mereka pernah mengirim surat kepada Presiden Jokowi, dan Pramono Anung sebagai Sekretaris Kabinet itu sudah memanggil APCI.
“Hasilnya, persoalan ini dilimpahkan ke Kementerian Perekonomian. Namun setelah saya menghadap ke sana, tak ada penyelesaian yang konkret sampai sekarang,” ungkapnya.
Di masa pemerintahan Presiden Prabowo ini, dia mempertimbangkan akan mengingatkan pemerintah soal nasib petani cengkeh tersebut.
“Kami akan agendakan menemui pihak terkait soal ini. Semoga nasib petani cengkeh ke depan bisa lebih baik,” kata I Ketut Budhyman kepada Edy Suherli, Bambang Eros, dan Irfan Meidianto saat bertandang ke kantor VOI belum lama ini.

Bangsa Eropa pernah berlayar demi cengkeh ke Nusantara. Sekarang, apakah cengkeh kita masih menjadi "Emas Cokelat" yang diperebutkan dunia, atau posisinya mulai tergeser?
Secara singkat bisa saya katakan, selama rokok kretek itu legal, cengkeh masih akan dibutuhkan. Karena kretek itu tak bisa dipisahkan dari cengkeh. Tidak disebut kretek kalau rokok itu tidak mengandung cengkeh, karena cengkeh termasuk bahan pokok kretek.
Rokok di Indonesia ini produksinya 97% adalah rokok kretek. Tapi di masyarakat masih menganggap bahwa rokok yang pakai filter itu bukan rokok kretek, padahal itu rokok kretek yang menggunakan cengkeh. Publik menganggap yang pakai filter itu disebut rokok putih. Padahal itu adalah Sigaret Kretek Mesin (SKM). Sedangkan yang banyak menyerap tenaga kerja itu yang linting, yaitu Sigaret Kretek Tangan (SKT).
Cengkeh ini adalah tanaman endemik Nusantara, asli dari Maluku. Kemudian oleh penjajah dikembangkan juga di Madagaskar dan Zanzibar. Indonesia ini produsen cengkeh terbesar di dunia, dan sekaligus konsumen cengkeh terbesar di dunia.
Berapa banyak produksi cengkeh kita per tahun?
Rata-rata 120 sampai 140 ribu ton per tahun, dengan jumlah petani sekitar 1,5 juta orang. Kebun cengkeh ini tersebar hampir di seluruh provinsi di Indonesia. Yang utama ada di Sulawesi, Maluku, Jawa, Sumatera; Kalimantan sedikit, Bali, NTB, dan NTT juga ada.
Orang dulu menyebut cengkeh ini "emas cokelat", apakah ini tidak berlebihan?
Memang tidak berlebihan kalau disebut emas cokelat. Zaman Belanda, harga cengkeh itu setara dengan emas. Karena cengkeh atau rempah-rempah inilah Indonesia dijajah bangsa Eropa. Jadi memang waktu itu nilai ekonominya sangat tinggi. Rempah itu jadi bahan yang amat berguna di Eropa; sebagai penghangat dan untuk mengawetkan makanan.
Saat listrik ditemukan, cengkeh tak banyak digunakan lagi untuk pengawetan sehingga akhirnya over-supply. Belanda bahkan sempat menyuruh rakyat menebang pohon cengkeh. Keadaan membaik setelah H. Jamhari di Kudus (1870-an) meracik tembakau dan cengkeh untuk kretek. Awalnya untuk mengobati sakit bengek yang dia idap. Ternyata racikan itu berkembang, kretek jadi industri rumahan sampai menjadi industri besar seperti sekarang.
Jadi ini adalah warisan budaya kita, makanya kami sempat mengusulkan untuk dijadikan warisan budaya, namun ditentang oleh komunitas anti-rokok.
Kampanye anti-rokok amat gencar, apakah ini berpengaruh pada petani cengkeh?
Kampanye mereka yang anti-rokok itu amat gencar. Mereka masuk ke birokrasi dan peraturan perundang-undangan. Intinya mereka mengatakan rokok itu penyebab segala penyakit, termasuk penyebab deforestasi. Saya ketawa saja dengan isu deforestasi ini. Cengkeh kan tanaman hutan, fungsinya sama seperti tumbuhan hutan lainnya.

Selain untuk rokok, apa lagi kegunaan cengkeh saat ini?
Utamanya memang untuk rokok, tapi ada juga dalam skala kecil untuk farmasi, makanan, dan bumbu.
Apakah selama ini pemerintah memberikan perlindungan untuk petani cengkeh?
Sebelum tahun 2015, pemerintah melindungi petani cengkeh dengan payung hukum bernama Surat Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Intinya, cengkeh hanya boleh diimpor kalau produksi dalam negeri tidak mencukupi kebutuhan, dan hanya boleh diimpor oleh industri.
Nah, pada tahun 2015, Menteri Perdagangan Thomas Lembong membuat kebijakan free trade. Jadi, impor cengkeh boleh dilakukan oleh siapa saja. Akibatnya, harga cengkeh yang tadinya Rp150.000 anjlok jadi Rp50 ribu.
Dari produksi cengkeh kita, berapa banyak yang digunakan untuk industri rokok?
Hampir semua cengkeh kita diserap untuk industri rokok, jadi sebenarnya tidak perlu ekspor. Namun sejak kebijakan free trade, semua jadi kacau. Inilah yang sebenarnya kita minta kepada pemerintah: memberikan perlindungan kepada petani agar harga kembali stabil.
Selain Indonesia, negara mana lagi yang memproduksi cengkeh?
Yang terbesar adalah Indonesia, negara lain ada Madagaskar dan Zanzibar. Cengkeh kita digunakan untuk produksi rokok. Rokok kretek kita sebenarnya diminati oleh negara-negara subtropis karena efeknya yang menghangatkan. Namun, rokok kita dibanned (dilarang) oleh negara-subtropis tersebut untuk melindungi produksi rokok mereka sendiri.
Sebenarnya kretek ini adalah kekuatan yang paling besar dalam bidang ekonomi, sayangnya pemerintah tak melindungi. Mereka berlindung dengan alasan kesehatan, dan diduga ada agenda global untuk melemahkan ekonomi Indonesia. Rokok kretek itu hanya ada di Indonesia, mestinya ini dijadikan kebanggaan dan dijaga kelestariannya.
Tadi Anda bilang rokok—terutama kretek—selalu jadi kambing hitam penyebab penyakit, dan kampanye ini masif sekali. Bagaimana Anda menyikapinya?
Sampai saat ini belum ada penelitian yang independen soal korelasi merokok (kretek) dengan kesehatan. Yang ada adalah literatur Barat, tapi itu untuk rokok putih. Untuk rokok kretek sendiri belum ada.
Apalagi sekarang ada pembatasan soal tar dan nikotin. Tembakau kita pasti tak bisa memenuhi ketentuan (Barat) itu karena kondisi alam kita memang khas, ditambah lagi dengan cengkeh yang membuat kadar tar-nya makin tinggi. Saya heran, rokok kretek itu kan herbal dan menjadi sokoguru ekonomi kita, kenapa tidak dijaga? Soal kesehatan saya setuju, tapi kesejahteraan petani juga perlu diperhatikan.
BACA JUGA:
Dulu ada BPPC di era Orde Baru, sekarang bagaimana pola perlindungan harga cengkeh?
BPPC didirikan tahun 1994, tujuannya untuk menjaga marwah petani. Waktu itu, petani menjual hasil panen cengkeh ke KUD (Koperasi Unit Desa). Tapi KUD bilang tak ada uang untuk membeli. Akhirnya terjadi over-supply dan harga anjlok sampai Rp2.000, untuk ongkos panen saja tidak cukup.
Pada 14 Oktober 2000 di Surabaya, dideklarasikanlah APCI oleh Dr. H. Dahlan Said. Sebagai mantan marinir, dia begitu gigih membela petani cengkeh. Sekarang, aturan free trade yang membebaskan impor membuat perlindungan itu tak ada lagi. Harga cengkeh berlaku hukum pasar. Pemerintah tidak melindungi petani cengkeh.
Saya pernah bilang ke Dirjen Perdagangan Luar Negeri, di mana-mana negara itu melindungi produk dalam negerinya, bukan membebaskan impor seperti saat ini. Perdagangan bebas itu bagus kalau seimbang. Antara kita dan Amerika, kita kalah karena tidak seimbang.
Menteri Keuangan baru saja mengeluarkan kebijakan layer baru cukai rokok rakyat. Sebagai Sekjen APCI, bagaimana Bapak merespons ini?
Soal serapan, sepanjang produksi agregatif tetap ya tidak ada masalah. Tapi kami petani cengkeh kan juga warga negara yang bertanggung jawab, jadi tentu kami tidak setuju kalau ada rokok ilegal.
Kalau pemerintah mengakomodasi yang ilegal menjadi legal, itu bagus. Pendapatan pemerintah bisa bertambah. Intinya, penegakan hukum harus konsisten.
Apa yang APCI lakukan untuk meminta pemerintah melindungi petani cengkeh?
Saat Menteri Perdagangan Tom Lembong mengeluarkan aturan free trade, kami sudah mengirim surat ke Presiden Jokowi kala itu, soalnya kami tidak dilibatkan. Kami kemudian dipanggil oleh Pak Pramono Anung yang saat itu menjabat Sekretaris Kabinet (Seskab), lalu persoalan ini dilempar ke Kementerian Perekonomian.
Saya datang ke Kementerian Perekonomian untuk meminta pencabutan aturan free trade tersebut, tapi sampai sekarang tidak ada respons. Berarti kan ini dianggap masalah kecil, ya. Nanti kalau mau pemilu, baru kita dicari. Jadi, duit cukainya mau, tapi melindungi petaninya tidak mau. Padahal cukai rokok menyumbang Rp217 triliun per tahun, bandingkan dengan BUMN yang Rp83 triliun atau Minerba yang Rp140 triliun.
Di era Presiden Prabowo, apa ada upaya untuk meminta aturan free trade diubah?
Saat ini kami belum lakukan, karena secara natural supply-demand sedang berjalan baik. Harga cengkeh sekarang sudah di kisaran Rp100.000.
Ke depan, masa depan pertanian cengkeh prediksi Anda seperti apa?
Saya tetap optimis selama pemerintah tidak membuat rokok itu menjadi ilegal, cengkeh akan tetap terserap oleh industri rokok. Kalau bisa, informasi harga cengkeh terus diberikan kepada kami. Pak Prabowo dulu kan Ketua HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia), kami berharap beliau bisa mendengar keluhan kami para petani cengkeh.
Kami petani akan terus berjuang karena ini periuk nasi kami. Kalau teman-teman yang anti-rokok, mereka mendapat suplai dana dari perusahaan dan donatur global dengan alasan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. Padahal kalau mau jujur, penyebab sakit itu tidak tunggal.
Cukai rokok tahun ini tidak naik, respons Anda?
Tahun ini kami bersyukur pemerintah tidak menaikkan cukai. Tapi masih ada perda-perda (peraturan daerah) yang tidak berpihak kepada kami. Kami meminta pemerintah untuk bersikap dan bertindak adil. Jangan sampai sebuah peraturan menguntungkan pihak yang satu, tapi mematikan pihak yang lain.
Menua dengan Bersahaja ala I Ketut Budhyman: Rahasia Bugar dan Alarm Diri yang Sederhana

Usia boleh tua, namun semangat dan fisik tetap segar. Itulah yang terlihat pada sosok I Ketut Budhyman yang kini memegang jabatan Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Asosiasi Petani Cengkeh Indonesia (APCI).
“Semua ini adalah anugerah dari Tuhan. Kita secara natural kan lahir, hidup, mati. Itu kan siklus yang harus dilalui semua orang. Yang bisa dilakukan manusia adalah memperlambat proses penuaan. Kalau masalah hidup atau ajal, nggak bisa, itu sudah ketetapan Yang Maha Kuasa,” katanya.
Untuk meraih kebugaran atau sehat itu harus ada usaha. “Bugar itu harus diupayakan. Tak bisa tiba-tiba jadi bugar. Dan itu adalah pilihan,” katanya.
Apa saja yang Anda lakukan untuk mencapai kebugaran?
”Pertama, tak boleh berlebihan. Apapun yang berlebihan kan bisa bikin penyakit. Berpikir terlalu keras bikin sakit. Makan terlalu banyak bisa sakit. Saya berusaha menjaga itu,” kata pria yang tak punya pantangan makan ini.
Dalam soal makan, ia setuju sekali dengan konsep Islam yang mengajarkan berhenti makan sebelum kenyang. “Itulah yang diajarkan oleh agama Islam, dan ayah saya juga mengajarkan hal itu kepada saya dan anak-anaknya,” katanya.
Dia diajarkan oleh ayahnya untuk mendapatkan sesuatu yang bersifat jangka panjang. “Jadi, jangan besar tapi terus selesai. Bahasa Balinya cenik lantang. Artinya kecil tapi panjang," tuturnya.
Yang kedua harus realistis. “Jangan keinginan kita melebihi kemampuan. Kalau tak tercapai, psikis kita terganggu,” katanya.
Tips yang ketiga baru berolahraga. “Saya setiap hari senam selama 15 menit setiap pagi. Kalau ada kesempatan, jalan pagi. Yang paling penting itu semakin tua harus bergerak. Kalau nggak bergerak, massa otot itu akan turun. Nah, itu yang menyebabkan tambah lemah,” urainya.
Selanjutnya, tidak boleh memaksakan diri. “Kalau capek, berhenti, istirahat dulu. Kalau ngantuk, ya tidur. Semua itu alarmnya ada di dalam diri kita. Sesederhana itu sebenarnya. Tapi kadang kita sendiri yang bikin ruwet, hehehe,” tambahnya.
Menyikapi Masalah

Semua orang pasti punya masalah dalam hidup. Hal itu disadari benar oleh I Ketut Budhyman. “Masalah pasti ada, itu harus dihadapi dan diselesaikan. Dan masalah itu pasti ada solusinya, cuma cepat atau lambat. Kadang kita tak sabar,” paparnya.
Untuk disebut sebagai orang yang sabar, kata dia, harus melalui proses yang tak sebentar. “Saya masih berproses menuju itu. Kalau ayah saya, dia sudah benar-benar sampai pada tingkat yang namanya sabar. Dalam soal makan, dia tak pernah nambah meski makanan itu enak. Sampai usia tua dia tak gemuk,” ungkapnya.
Sebagai petani cengkeh, diakui I Ketut Budhyman hasil panenan kebunnya di Desa Tamblang, Kabupaten Buleleng, Bali, masih belum maksimal. “Idealnya satu hektar itu dua ton. Saya belum mencapai itu,” akunya.
Melihat dan mengawasi kebun cengkeh adalah kebahagiaan bagi dia. “Kalau ke kebun cengkeh, apalagi saat lagi berbunga, itu bikin happy melihatnya dan juga mencium aromanya yang khas,” katanya.
Meski hasil panenannya belum maksimal, namun dari 3 hektar kebun yang dia miliki sudah bisa membuatnya tersenyum lebar. “Tahun lalu saya dapat 90 juta dari kebun saya. Jadi per hektar baru sekitar 3 kuintal,” kata pria yang lebih suka berinvestasi dengan membeli lahan ini.
Membagi Perhatian untuk Keluarga

Meski sibuk dengan beragam aktivitas I Ketut Budhyman tetap membagi perhatian untuk keluarga. Dulu ia tak sempat memperhatikan anak, kini ia menebusnya dengan mencurahkan perhatian pada cucu-cucunya. (Foto Bambang Eros VOI, DI: Raga Granada VOI)
Meski sibuk, memperhatikan keluarga adalah hal yang harus ia lakukan. Kini, setelah anak-anak berkeluarga, perhatiannya beralih pada cucu. Makanya saat ada acara di Jakarta, ia akan senang sekali.
“Kalau ada acara di Jakarta seperti kemarin yang saya hadiri, diskusi soal tembakau, saya dengan senang hati datang. Dan saya tak perlu menginap di hotel, di rumah anak saya saja di daerah Puri Kembangan, Jakarta Barat,” katanya.
Selain bisa bertemu anak, ia juga bisa melepas rindu dengan cucu-cucunya. “Jadi semuanya ketemu; anak, menantu, serta cucu,” lanjutnya.
Di masa tua ini, ia tak lagi punya keinginan yang muluk-muluk. “Saya kira setiap orang ya inginkan masa tua itu yang tenang, kan? Bisa bercengkerama sama cucu. Dulu saya tak sempat bercengkerama dengan anak, hehehe,” ungkap I Ketut Budhyman.
"Saya tetap optimis selama pemerintah tak membuat rokok itu ilegal, cengkeh akan tetap terserap industri rokok."