Kelangkaan minyak bumi akibat terdampak konflik Timur Tengah membuat kendaraan listrik makin dilirik. Namun, menurut Ketua Umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI), Kurnia Lesani Adnan, bus listrik untuk dalam kota atau jarak dekat sudah bisa diaplikasikan. Sebaliknya, untuk bus Antarkota Antarprovinsi (AKAP), hal tersebut dinilai masih belum layak.
***
Ada dua permasalahan paling krusial dalam mengaplikasikan bus listrik untuk angkutan AKAP. Pertama, menurut Sani—begitu ia biasa disapa—Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) masih belum merata di seantero Indonesia. Kedua, durasi pengisian daya di SPKLU yang relatif masih lama.
“Bus listrik untuk dalam kota masih mungkin, tapi untuk bus AKAP masih belum memungkinkan. Masalahnya, pengisian dayanya lama dan SPKLU belum merata. Isi BBM butuh sekitar 5–10 menit, sedangkan isi daya di SPKLU bisa 1–2 jam lebih. Kami masih menunggu teknologi pengisian daya yang lebih cepat dari sekarang,” katanya.
Sebagai pengusaha dan pemilik Perusahaan Otobus (PO), Kurnia Lesani Adnan tidak berani berspekulasi menggunakan bus listrik untuk jalur AKAP sebelum dua problem utama tadi diatasi.
Sehubungan dengan konflik yang terjadi di Timur Tengah, Sani memberikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas kebijakan pemerintah yang tidak menaikkan harga BBM subsidi sampai akhir 2026. Namun, ia menambahkan bahwa mekanisme penyalurannya perlu dievaluasi agar lebih tepat sasaran.
“Saya mengusulkan penyaluran BBM subsidi melalui aplikasi Samsat Online,” terangnya kepada Edy Suherli, Bambang Eros, dan Irfan Meidianto saat bertandang ke kantor VOI di Tanah Abang, Jakarta Pusat, 7 Maret 2026.

Perang di Timur Tengah memicu fluktuasi harga minyak dunia. Seberapa besar kekhawatiran Anda terhadap stabilitas harga BBM di Indonesia saat ini?
Dalam situasi perang seperti ini, memang sulit. Tapi kalau melihat ke belakang, kami juga sudah pernah mengalami keadaan yang tak kalah sulit. Ada krisis moneter 1998 dan lanjut menjelang 2000 hingga 2005; saat itu pesawat berbiaya murah (low-cost carrier – LCC) menjamur. Dua hal ini adalah ujian yang amat berat dan alhamdulillah kami bisa lewati.
Sebagai ilustrasi, PO kami, SAN (Siliwangi Antar Nusa), yang melayani rute Bengkulu – Jakarta, harga tiketnya Rp185.000, sementara LCC Rp225.000 di tahun 2000. Logis kalau masyarakat memilih LCC karena selisihnya sedikit, sedangkan waktu tempuh jauh berbeda; pesawat 1 jam, bus 24 jam. Namun, yang kami syukuri, bus masih dipercaya masyarakat. Karena itu, kami optimis ke depan masih banyak orang yang lebih nyaman dengan moda transportasi darat.
Itu contoh Sumatera ke Jawa, bagaimana dengan di Jawa?
Di Jawa tantangannya lebih berat lagi. Selain LCC, ada juga kereta api. Tabir mulai terbuka sejak 2014–2015 setelah tol Trans-Jawa mulai tersambung. Pada saat yang bersamaan, LCC mulai menjual tiket dengan harga yang logis, tidak lagi obral harga seperti sebelumnya. Dan kami bisa melewati masa-masa sulit itu. Kekuatan moda transportasi darat itu penumpangnya bisa turun dan selalu "napak bumi", bisa melihat daratan.
Tapi kan tidak semua perusahaan otobus bisa melewati masa sulit ini?
Memang tidak semua bisa bertahan. Yang bisa bertahan adalah mereka yang mampu mengelola perusahaan dengan manajemen yang bagus; mengelola SDM dan menerapkan SOP untuk melayani masyarakat dengan sepenuh hati. Tim teknisnya bisa merawat kendaraan dengan baik sehingga muncul efisiensi. Bagaimana melatih driver dan kru untuk mengoperasikan kendaraan dengan wajar, tidak lari kencang, sehingga penumpang nyaman. Jadi, PO yang bisa bertahan itu yang bisa mengendalikan efisiensi.
Mengapa efisiensi itu penting?
Menjadi efisien itu bukan berarti mengurangi layanan pada penumpang, tetapi bagaimana kru bisa membuat masa pakai kendaraan maksimal sehingga biaya perawatan (maintenance cost) turun. Kalau bahan bakar sulit dihemat; sehebat apa pun pengemudi, 1 liter solar itu rata-rata untuk 3,5 km – 4 km.
Selain itu, profesionalisme pengemudi juga menjadi faktor penting. Makanya, saya amat perhatian soal ini. Sebelum pengemudi bertugas, harus dipastikan dia memahami profesionalisme dalam pelayanan. Sebelum mengemudikan bus, dia harus sadar kalau dia adalah pelayan penumpang. Dari sinilah akan timbul efisiensi itu.
Pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya menegaskan BBM subsidi tak akan naik sampai akhir tahun. Tanggapan Anda?
Apa yang disampaikan Pak Purbaya itu adalah sesuatu yang menggembirakan buat kami. Kami menghargai dan mengucapkan terima kasih. Tapi yang perlu diketahui, inflasi di sektor transportasi sudah terjadi sejak 2022 lalu. Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar membuat harga suku cadang kendaraan juga terpengaruh. Lalu Menteri Keuangan sebelumnya menaikkan PPN.
Dengan kondisi seperti ini, kami tak bisa langsung menaikkan harga tiket. Soalnya daya beli masyarakat kita masih lemah. Pengguna bus itu kelas middle-low, saudara-saudara kita pekerja informal. Jadi situasi ini adalah tantangan bagi kami; bagaimana dengan harga yang tetap, pelayanan pada penumpang tidak berkurang dan masyarakat tetap terlayani. Jadi, bisnis tetap berjalan untuk menjaga keberlanjutan usaha.

Jika nanti pemerintah mengubah kebijakan untuk BBM subsidi, antisipasi apa yang bisa Anda lakukan?
Kalau memang itu kebijakan yang tak bisa dihindari pemerintah, kami harus melakukan penyesuaian. Penumpang kami ini kan kelas menengah ke bawah; kalau satu keluarga punya mobil sendiri dan punya dua atau tiga anak, mereka akan memilih menggunakan kendaraan pribadi karena lebih hemat. Kecuali kalau hanya satu atau dua orang, tentu lebih hemat naik bus.
Yang bisa dilakukan adalah merawat kendaraan dengan tertib dan ketat agar efisiensi terjadi. Dari sisi BBM, sulit dilakukan penghematan. Dan soal gaji pengemudi serta kru, tidak mungkin kami pangkas; kalau itu dilakukan, akan lebih bermasalah.
Unsur BBM itu berapa persen dari total pengeluaran sebuah PO bus?
Dari semua komponen biaya jalan, BBM itu 40%, jadi besar sekali. Kalau ada isu kenaikan BBM, itu akan menjadi pemicu bagi kami untuk menyesuaikan harga tiket.
Komitmen pemerintah sampai akhir tahun memang tak akan menaikkan harga BBM subsidi. Sebelum akhir tahun, apa yang akan dilakukan Anda dan pengusaha bus lainnya?
Alhamdulillah, kami baru saja menyelesaikan tugas mengantarkan masyarakat yang mudik dan arus balik usai merayakan Idulfitri. Kami menyampaikan terima kasih kepada masyarakat yang masih percaya dengan angkutan bus. Minat masyarakat masih sangat tinggi. Kepada teman-teman pengusaha, saya juga ucapkan terima kasih; memang kemarin ada kecelakaan, tapi tidak terlalu besar.
Setelah Lebaran, Juni dan Juli ada libur panjang. Kalau statistiknya masih stabil, insya Allah sampai akhir tahun kami akan bertahan di harga tiket yang sekarang. Tapi kalau keadaan memburuk, kami akan berhitung ulang. Terus terang yang paling susah itu suku cadang; itu tak bisa diajak kompromi karena amat tergantung pada fluktuasi nilai rupiah. Ini tantangan yang cukup berat.
Sebagai pengusaha, kami mungkin setuju kenaikan BBM agar kami juga bisa menaikkan harga tiket. Tapi sebagai pelayan masyarakat, tidak begitu. Karena need and demand amat sensitif pada pricing. Saat ini saingan kami bukan sesama PO, kereta api, atau pesawat, tapi kendaraan pribadi dan motor.
Jadi, untuk angkutan Lebaran tahun ini evaluasinya bagaimana?
Lebaran tahun ini alhamdulillah lancar dan relatif aman. Dari sisi pendapatan, sedikit di bawah tahun lalu pada kurun waktu yang sama.
Apa yang membuat pendapatan di Lebaran ini turun?
Masa liburnya panjang dan ada sistem WFA (work from anywhere), sehingga kendaraan pribadi keluar dalam jumlah banyak. Ini yang mengurangi animo naik bus. Kalau boleh usul, soal libur itu sebaiknya disepakati sejak awal oleh semua stakeholder. SKB Tiga Menteri saat liburan terkadang mendorong orang menggunakan kendaraan pribadi. Kalau tujuannya hemat BBM, terutama saat sulit seperti sekarang, mestinya pemerintah mengarahkan masyarakat untuk menggunakan kendaraan umum.
BACA JUGA:
Jadi untuk 2026 ini masih optimis?
Harus selalu optimis meski keadaan sekarang sulit. Sebagai pribadi, saya memberikan masukan bahwa penyaluran BBM subsidi dengan barcode MyPertamina itu lemah dan gampang dibobol. Lemahnya begini: setiap kendaraan yang dijatah 200 liter, saat di-scan jatahnya hanya muncul 60 liter. Nah, sisa 140 liter ke mana? Hanya Tuhan dan sistem ini yang tahu. Lalu saat barcode diblokir dengan dugaan pelansir BBM, ini memicu keributan dengan petugas SPBU. Perpres soal BBM subsidi ini apakah dilaksanakan seutuhnya? Tidak. Kendaraan tambang nyatanya masih bisa beli BBM subsidi. Ini harus ditertibkan.
Menurut Anda, solusinya seperti apa untuk menyalurkan BBM subsidi kalau tidak lewat barcode MyPertamina?
Sebelum perang di Timur Tengah meletus, kami sudah berkirim surat ke Menkeu Purbaya agar penyaluran BBM subsidi dialihkan melalui Samsat Online. Dengan model ini, pemerintah bisa mengunci: kendaraan yang patuh pajak boleh isi BBM, dan sebaliknya. Kalau model barcode MyPertamina, semua bisa isi. Ini akan mendorong orang untuk patuh bayar pajak dan hemat BBM. Tapi implementasinya harus tertib.
Lalu kebijakan Kementerian ESDM, Perindustrian, dan Kementerian Perhubungan soal BBM ini tidak nyambung. Mestinya mereka duduk bareng. Solar yang digunakan sekarang di bawah standar, padahal kita dituntut standar Euro 4 dan Euro 5. "Solar busuk" (yang digunakan di kita) sudah tidak digunakan di luar negeri. Mengharapkan emisi dengan ukuran tertentu tapi solarnya busuk. Jadi antarkementerian dan lembaga harus bersinergi dan kolaborasi.
PO ini sudah membantu masyarakat bertransportasi, apa sumbangan pemerintah untuk PO?
Faktanya, kami ini mensubsidi masyarakat. Saat inflasi terjadi, harga tiket kami tahan agar daya beli masyarakat sampai. Ada PO yang kuat, dan banyak PO yang tumbang. Yang bertahan adalah yang bisa efisiensi dan memposisikan diri sebagai pelayan masyarakat.
Apa inovasi yang bisa dilakukan agar usaha PO ini bisa lancar?
Pertama, kami harus pastikan harga tiket terjangkau, pelayanan profesional, dan keselamatan adalah faktor utama yang tak bisa ditawar. Tiga hal ini yang bisa kami lakukan. Kalau berinovasi dengan membuat tipe bus yang macam-macam seperti sleeper bus, compartment bus, dan lain-lain, pasarnya ada tapi sedikit. Tidak masuk secara hitungan bisnis.
Bagaimana Anda menertibkan pengemudi dan kru yang tidak sesuai SOP?
Saya tekankan kepada mereka, dengan teknologi hari ini, bukan hanya perusahaan yang mengawasi, tapi juga masyarakat lewat media sosial. Perusahaan harus menerima masukan dari publik lewat media sosial juga. Ini yang kami tanamkan kepada pengemudi dan semua kru. Apa saja keluhan yang masuk kami tanggapi dan cross-check informasinya. Harus tegas: mau berubah atau tidak bekerja di perusahaan ini lagi.
Kunci sukses itu memahami industri ini; dengan begitu bisnis berjalan. Jangan dibalik, berbisnis dengan melayani. Jadi menurut saya, kita melayani dulu baru ambil uangnya.
Perang berdampak pada harga BBM yang melambung, artinya kendaraan listrik menjadi pilihan?
Ya, pemerintah memang sudah mengampanyekan kendaraan listrik dengan memberi subsidi. Namun, saat ini jumlahnya memang belum bisa menandingi kendaraan BBM. Terus keterbatasan SPKLU dan masa pengisian daya juga menjadi catatan penting untuk kendaraan listrik.
Bagaimana peluang kendaraan listrik untuk bus AKAP?
Bus listrik untuk dalam kota masih mungkin, tapi untuk bus AKAP masih belum memungkinkan. Soalnya pengisian dayanya masih lama dan SPKLU-nya belum merata. Isi BBM sekitar 5–10 menit, isi daya di SPKLU 1–2 jam lebih. Kami masih menunggu teknologi pengisian daya yang lebih cepat dari sekarang.
Untuk kecepatan, apakah model isi ulang baterai (battery swap) bisa diaplikasikan?
Ini juga tidak mudah untuk AKAP. Kalau roda dua, kita lihat ada isi ulang di minimarket dan SPKLU karena kapasitasnya sedikit. Baterai bus itu berapa kali lipatnya? Masih banyak pekerjaan rumah untuk mengaplikasikan bus listrik untuk AKAP.
Kurnia Lesani Adnan: Menjalankan Bus dengan Hati, Melayani dengan Ikhlas

Kurnia Lesani Adnan, atau yang lebih akrab disapa Om Sani di media sosial, sudah sangat menjiwai urusan bus dan Perusahaan Otobus (PO) yang ia tangani sejak belia. Saat ayahnya, Hasanuddin Adnan, mendirikan perusahaan transportasi barang Siliwangi Antar Nusa (SAN) pada 1978 yang kemudian berkembang menjadi PO pada 30 Januari 1990, ia memang sudah bergabung sejak awal.
Sani benar-benar tumbuh dan besar bersama SAN. Bersama sang ayah dan saudara-saudaranya, mereka membesarkan PO kecil hingga berkembang seperti sekarang. “Karena saya sudah sangat menjiwai persoalan bus dan PO, saya merasa lebih banyak sukanya menangani SAN,” ujar pria kelahiran Bengkulu, 20 Juni 1977 tersebut.
Sebenarnya, kata Sani, ia sudah membantu ayahnya sejak PO SAN berdiri, namun belum secara langsung. “Saya benar-benar bergabung sejak umur 13 tahun. Setelah lulus SMP, keterlibatan saya makin bertambah. Saya sudah mengantar penumpang dan membantu ayah beli suku cadang. Saya merasa itu baru kemarin, meski hitungan kalender sudah 34 tahun saya bergabung,” kata Sani yang sejak balita sudah dekat dengan bus karena rumah mereka di Bengkulu berada di dalam pool PO.
Kalau dikatakan melakukan sesuatu dari hati, itulah yang dilakukan Sani di SAN. “Saya bergabung itu benar-benar keinginan dalam hati saya. Memang sebelum mendirikan PO SAN, ayah mengumpulkan anak-anaknya soal bisnis yang akan dijalankan dan dia mengajak anak-anaknya yang bisa bergabung,” ungkap Sani sembari menceritakan bahwa sebelum mendirikan SAN, ayahnya sempat bekerja di PO Bengkulu Indah.
Dikader Sejak Kecil

Sejak kecil Sanimemang sudah sering diajak ayahnya mengecek bus, membeli suku cadang, dan mengurus keperluan bus lainnya. “Dari kelima bersaudara, saya ini paling malas sekolah. Saya hanya sampai semester 1 di Gunadarma Jurusan Manajemen Transportasi. Jangan tanya isi rapor, menyala warnanya, hehehe,” katanya berseloroh.
Sadar dengan kondisi ini, Sani berprinsip tidak apa-apa tidak punya ijazah, asal jangan sampai tidak punya kemampuan. Daripada punya ijazah tapi saat dites ternyata tidak mampu. “Saya katakan pada diri saya dan kepada Allah, minta diberi kesempatan untuk membuktikan pengabdian membantu membesarkan SAN dan mengembangkan diri di industri transportasi, khususnya PO. Alhamdulillah, 34 tahun sudah saya lalui,” kata alumni STM PGRI Budi Utomo 4 Jakarta ini.
Saat masih STM, Sani sering sekali bolos sekolah jika bus SAN mengalami masalah atau mogok di jalan. “Kalau dapat pesan pager dari ayah atau ibu bahwa mobil rusak, saya langsung terjun. Bisa sampai ke Bukit Kemuning, Lampung, dan Baturaja, Sumsel. Kalau ada pengemudi sakit, saya juga bolos dan jadi pengemudi pengganti. Saat ada yang carter bus sementara pengemudi tidak ada yang siap, saya juga yang bawa bus,” terang Sani yang menjadi Dirut SAN sejak 2002, saat badan hukumnya berubah dari CV menjadi PT.
Menguasai Semua Persoalan PO

Sejak usia 13 tahun, Kurnia Lesani Adnan bergabung secara resmi dengan PO SAN, dan saat duduk di bangku STM (Sekolah Teknik Menengah) dia sudah menjadi sopir pengganti saat bus mogok atau sopir perhalangan. (Foto: Bambang Eros. DI: Raga Granada VOI)
Keterlibatan sejak awal SAN berdiri membuatnya benar-benar menjiwai bisnis ini. “Orang sekarang bilang passion saya memang di dunia bus. Istri saya sudah paham kalau malam tiba-tiba ditelepon ada bus yang kecelakaan, saya langsung terjun. Alhamdulillah sekarang sudah saya delegasikan, tapi saya tetap memantau dari jauh tim yang menangani kecelakaan,” kata Sani yang amat tegas menerapkan aturan perusahaan. Baginya, tidak ada urusan anak kalau sudah di kantor; struktur perusahaanlah yang berlaku.
Fokus utama saat ada kecelakaan, lanjut Sani, adalah penumpang selamat. “Kadang sampai subuh saya harus melek, memastikan semua penumpang selamat, baru saya bisa tidur,” ujarnya.
Satu pelajaran penting yang diajarkan ayahnya adalah: saat melakukan sesuatu, lakukanlah dengan senang. “Itu benar-benar tertanam dalam jiwa saya. Saya yang memang sejak awal sudah tumbuh dalam lingkungan yang kondusif makin senang melakoni pekerjaan ini. Capek pasti ada, tapi semua itu terbayar setelah bisa menyelesaikan suatu persoalan,” paparnya sembari menambahkan bahwa ibunya juga terlibat sebagai penjual tiket PO SAN.
“Ayah saya bilang, kerjakan sesuatu itu dengan ikhlas, hasil akan menyertai setelah itu. Kalau belum apa-apa sudah menuntut hasil, begitu tidak tercapai akan frustrasi,” lanjut Sani yang menjalani hidup tidak ngoyo. “Saya menikmati hidup, jalani apa adanya, dan mensyukuri apa yang saya dapat.”
Menurut Sani, kunci keberhasilan PO SAN—yang sejak awal hanya punya beberapa armada hingga kini hampir seratus bus dan melayani rute dari Bengkulu ke sejumlah kota besar di Jawa dan Sumatera—adalah concern. “Kalau bicara soal PO, kalau mau mencari uang dengan melayani, lebih baik batalkan beli bus. Soalnya tidak akan ketemu angkanya. Tapi kalau sadar dan mampu melayani, ya bismillah. Itu akan menjadi nilai lebih,” katanya. Ia dan saudaranya sudah sepakat jika generasi ketiga mau bergabung di SAN, syaratnya harus berkarya dulu di perusahaan lain.
Pegangan Sani sebagai pimpinan SAN adalah amanat orang tuanya yang ingin PO ini bermanfaat untuk keluarga dan masyarakat. “Jadi kami mengejar sustainability-nya untuk bermanfaat saja. Tidak untuk hidup mewah dan meraih kejayaan dunia,” tandas Kurnia Lesani Adnan.
"Kalau sebagai pengusaha, kami setuju naikkan BBM agar kami juga bisa menaikkan harga tiket. Tapi kalau sebagai pelayan masyarakat, tidak begitu. Karena need and demand amat sensitif pada pricing,"