Idulfitri adalah hari kemenangan bagi kaum muslimin dan muslimat yang telah berpuasa, menjalankan ibadah sunah selama Ramadan, dan menunaikan zakat fitrah. Menurut Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH M. Anwar Iskandar, merayakan Idulfitri tak perlu dengan mengumbar kesenangan. Sebab, hal ini berpotensi melukai hati banyak orang yang sedang susah karena himpitan ekonomi, bencana, dan keadaan lainnya. Rayakanlah Idulfitri dengan cara yang sederhana.
***
Selama sebulan menjalankan ibadah puasa, sejatinya kaum muslimin sudah diajarkan untuk merasakan rasa haus dan lapar yang sehari-hari dirasakan oleh mereka yang kekurangan.
“Apalah artinya kita senang kalau saudara kita masih banyak yang kesusahan. Orang Islam itu kata Rasul, bagaikan tubuh yang satu. Ketika satu bagian sakit, maka bagian tubuh yang lain juga merasakan sakit. Saat saudara kita di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan daerah lainnya terkena musibah, sudah saatnya kita membantu,” kata Kiai M. Anwar Iskandar.
Karena itu, lanjut beliau, rasa empati benar-benar harus diejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari. “Empati itu tak hanya dalam bentuk lisan, tapi juga dalam perbuatan. Kalau ada yang kelebihan, membantu yang kekurangan. Bantuan itu baiknya dikoordinir agar merata,” ujarnya.
Setelah itu, lanjut Kiai Anwar Iskandar, yang tidak kalah krusialnya adalah pendidikan anak-anak di daerah yang tertimpa bencana. “Selain bantuan sandang dan pangan, pendidikan untuk anak-anak yang terdampak juga penting. Pesantren yang ada di Jawa bisa menampung anak-anak korban untuk melanjutkan pendidikannya sampai tuntas pendidikan,” katanya kepada Edy Suherli, Bambang Eros, dan Irfan Meidianto dari VOI yang menemuinya di kediaman, di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, belum lama berselang.

Di tengah kesibukan memimpin MUI, bagaimana Kiai secara pribadi mempersiapkan diri menyambut Idulfitri 1447 H kali ini?
Sebelum Idulfitri, persiapan yang dilakukan adalah menjalankan ibadah puasa dalam bulan Ramadan. Puasa ini berperan penting membersihkan hati kita, sebagai upaya untuk mendekatkan diri pada rahmat Allah SWT. Itu yang paling utama, sisanya—seperti kita menyambut kedatangan tamu—hanya pelengkap. Yang paling penting adalah kesiapan rohani untuk menjemput rahmat Allah.
Muslim seperti apa yang menyandang predikat fitrah di hari raya Idulfitri?
Idulfitri itu bahasa Arab, maknanya kembali kepada fitrah. Fitrah manusia itu adalah makhluk yang bersih. Sabda Nabi Muhammad: setiap anak yang lahir itu pasti dalam keadaan suci atau fitrah. Setelah besar, ada hawa nafsu, ada perbuatan salah serta dosa. Puasa adalah alat yang diberikan Allah bagi kaum mukmin untuk membersihkan dosa-dosa itu. Selama berpuasa diikuti dengan amalan ibadah sunah dan zakat fitrah, setelah itu akan kembali suci. Hakikat Idulfitri adalah kembalinya manusia kepada fitrah atau kesuciannya, seperti dia dulu dilahirkan dari kandungan ibunya.
Allah memberikan tuntunan setelah berpuasa dan kembali kepada fitrah, ujungnya kita mesti bersyukur pada Allah SWT. Jadi itulah akhir dari ritual di bulan Ramadan. Bersyukur itu tidak hanya dengan lisan, tapi juga diaplikasikan dalam perbuatan sehari-hari. Tidak hanya untuk kebahagiaan kita pribadi, tapi juga untuk orang banyak.
Tahun ini banyak saudara kita yang terkena musibah, mungkin ada yang berlebaran di pengungsian. Bagaimana kita tetap bersyukur dan berempati pada mereka yang mendapat musibah?
Membangun sikap empati pada saudara kita yang sedang diuji oleh Allah SWT, seperti kena musibah, adalah bagian dari rasa syukur. Apalagi kalau rezeki yang didapat sebagian disumbangkan kepada mereka yang terdampak musibah. Apalah artinya kita senang kalau saudara kita masih banyak yang kesusahan. Orang Islam itu kata Rasul, bagaikan tubuh yang satu. Ketika satu bagian sakit, maka bagian tubuh yang lain juga merasakan sakit. Saat saudara kita di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan daerah lainnya terkena musibah, sudah saatnya kita membantu.
Empati itu tak hanya dalam bentuk lisan, tapi juga dalam perbuatan. Kalau ada yang kelebihan, membantu yang kekurangan. Bantuan itu baiknya dikoordinir agar merata. Selain bantuan sandang dan pangan, pendidikan untuk anak-anak yang terdampak juga penting. Pesantren yang ada di Jawa bisa menampung anak-anak korban untuk melanjutkan pendidikannya sampai tuntas pendidikan.

Jadi seperti apa kita merayakan Idulfitri?
Silakan merayakan Idulfitri, tapi tak harus dengan mengumbar kesenangan. Rasa peduli pada saudara kita yang kekurangan dan tertimpa musibah harus terus dipelihara. Ini adalah wujud syukur kita kepada Allah. Jadi, kita tidak menggunakan Idulfitri untuk mengumbar kesenangan yang berlebihan.
Bagaimana peran zakat, infak, dan sedekah dalam konteks fikih bencana? Apakah kita perlu memprioritaskan soal ini?
Kita tak hanya bicara soal fikih atau hukumnya, sekarang kondisinya sudah darurat. Dalam kondisi seperti ini, yang tadinya tak boleh menjadi boleh; ini soal menjaga nyawa manusia. Baznas sebagai lembaga resmi negara yang menghimpun zakat dan sedekah sudah berbuat banyak untuk bencana alam. Ada juga pengumpul zakat nonpemerintah yang juga sudah berbuat banyak. Ada juga ormas lain yang mengumpulkan dan menyalurkan bantuan ke daerah bencana. Semua sudah bergerak, tinggal dikuatkan lagi. MUI juga akan membangun masjid di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat masing-masing satu. Selain itu, juga akan diserahkan bantuan 500 unit rumah untuk mereka yang terdampak. Banyak orang menyalurkan melalui kami dan juga lembaga-lembaga yang lain.
Menyoal penentuan 1 Syawal, perbedaan metode hisab dan rukyat sering kali membuat umat di bawah bingung. Menurut Kiai, apa hambatan terbesar kita untuk menyatukan kedua metode ini dalam satu kalender Islam tunggal?
Kita tidak berkeinginan menyatukan itu. Biarlah itu menjadi ikhtilaf antara yang satu dengan yang lain. Yang penting harus saling menghargai putusan yang sudah diambil. Meski berbeda, kita harus tetap menjaga ukhuwah islamiyah. Perbedaan penentuan awal Ramadan dan awal Syawal itu sudah ada sejak sebelum penjajah datang ke Nusantara. Nah, jangan sampai perbedaan ini menjadi pemicu retaknya persatuan umat Islam di Indonesia.
Ada juga tradisi mudik jelang Idulfitri. Saat ini kondisi ekonomi sedang susah, apakah harus memaksakan diri untuk pulang?
Mudik itu ada positif dan negatifnya. Saat berjumpa dengan orang tua, anak bisa sungkem; itu pahalanya bukan main besarnya. Itu menjalin tali silaturahmi antara anak dan orang tua—di dunia Barat itu sudah tidak ada. Lalu membangun silaturahmi dengan saudara yang mungkin setahun lebih tak bertemu. Dari sisi ekonomi juga bagus, berapa banyak uang dari kota yang berputar di daerah semasa mudik.
Tapi ada juga sisi negatifnya, saat ada yang memaksakan diri untuk mudik padahal kondisinya sedang tak baik-baik saja. Ada yang harus menyewa mobil agar dipandang kaya. Lalu ada juga yang menjadikan momentum Lebaran untuk menghamburkan uang dengan membakar petasan dan kembang api.
BACA JUGA:
Bulan Ramadan itu sebenarnya ladang untuk mengumpulkan pahala, lebih-lebih di 10 malam terakhir; ada ibadah iktikaf dan berburu lailatulqadar. Kalau fokusnya mau mudik, apakah mungkin golden moment dalam bulan Ramadan itu bisa dicapai?
Tentunya kita mengutamakan yang penting di balik kesenangan. Rasulullah mengatakan ada tanggal-tanggal ganjil di mana probabilitas lailatulqadar itu turun. Nah, kalau bisa, kita menghindari tanggal-tanggal ganjil untuk mudik. Itu kesempatan emas yang diberikan Allah setahun sekali di bulan Ramadan. Jadi silaturahmi tetap terjaga tanpa kehilangan golden moment di bulan Ramadan. Lailatulqadar itu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah membagikan rahmat di malam itu.
Apa pesan khusus atau tausiah singkat Kiai untuk para penyintas bencana agar mereka tetap kuat, dan apa doa Kiai untuk bangsa Indonesia?
Yang pertama harus sabar. Allah menguji hamba-Nya dengan bencana atau apa pun itu untuk mengangkat derajat. Kalau kita bisa sabar dengan cobaan ini, Allah akan angkat derajat kita. Jadi, jangan sampai menyalahkan Allah dengan cobaan ini. Ingat, sabar itu bukan berarti diam saja, tapi juga harus berusaha. Dengan usaha, insya Allah ada jalan.
Saya sebagai pimpinan MUI mengimbau kepada umat yang diberikan kelebihan harta untuk menyumbang lewat organisasi apa saja yang ada. Lalu kita pikirkan juga masa depan anak-anak yang tak bisa sekolah. Kita bantu anak-anak Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan daerah terdampak musibah lainnya agar mereka bisa sekolah.
Kepada pemerintah, dengan otoritas yang dimiliki, memberikan sanksi pada pemilik kebun atau tambang yang menyebabkan bencana terjadi; banjir, longsor, dll. Kepada masyarakat yang berdiam di daerah bencana, kalau memang sudah tak layak huni, ya pindah atau hijrah, apalagi kalau pemerintah memfasilitasi.
Apa pesan Kiai untuk seluruh kaum muslimin yang merayakan Idulfitri?
Di saat musibah di mana-mana, kaum muslimin yang merayakan Idulfitri harus menunjukkan empatinya. Merayakan Idulfitri tak perlu berlebihan. Allah tak suka dengan yang berlebihan karena itu bisa menyakiti saudara kita yang baru terdampak musibah.
KH M. Anwar Iskandar dan Menjalani Hidup Apa Adanya

Hidup bagi Ketum MUI Pusat, KH. M. Anwar Iskandar tak perlu neko-neko, Jalani saja hidup apa adanya. (Foto: Bambang Eros VOI, DI: Raga Granada VOI)
Hidup di dunia ini bagi KH M. Anwar Iskandar tak perlu dibuat ribet. Jalani semuanya apa adanya dan tidak berlebihan. Usaha yang maksimal harus tetap dilaksanakan. Namun, saat sudah tak mampu, serahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa. Dengan begitu, hidup akan enteng dan jiwa akan sehat.
Rutinitas yang dilakukan KH M. Anwar Iskandar adalah mengajar di pondok pesantren yang diasuhnya: Pesantren Al-Amin dan Assaidiyah di Kediri. “Setelah subuh saya mengajar, setelah zuhur dan magrib juga mengajar,” kata pria yang dilahirkan di Desa Wringinputih, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, 24 April 1950.
Di antara aktivitas mengajar itu, dia mengurusi usaha dan berolahraga. “Di sela-sela kegiatan mengajar itulah saya mengurusi berbagai jenis usaha yang kami rintis. Dan juga melakukan aktivitas olahraga untuk menjaga kesehatan,” ujarnya.
Apa saja jenis usaha yang dijalankan? “Usaha yang kami jalani ada beberapa, mulai dari pertanian, peternakan, perikanan, dan kuliner. Selain menghasilkan keuntungan materi, mengawasi jalannya usaha ini buat saya adalah hiburan. Melihat ayam, kambing, dan sapi di peternakan bagi saya itu adalah hiburan yang bikin hati senang, hehehe,” katanya dengan tawa yang khas.
Antara Jakarta dan Kediri

Sebagai Ketua Umum MUI yang berkantor pusat di Jakarta, M. Anwar Iskandar sekali waktu harus terbang ke Jakarta. Soalnya, jika ada urusan penting yang memerlukan kehadirannya tanpa diwakili, ia harus berangkat. “Untuk rapat pimpinan nasional MUI setiap Selasa, bisa dilakukan lewat virtual. Jadi dari mana pun, termasuk dari Kediri, bisa dilakukan. Kalau ada acara yang penting sekali, baru saya berangkat ke Jakarta,” katanya.
Saat masih belia, banyak cabang olahraga yang ia lakoni: bulu tangkis, bola voli, sepak bola, dan lain-lain. “Karena faktor usia, saya sudah tak bisa melakukan olahraga yang berat. Yang masih bisa dilakukan saat ini adalah jalan setiap pagi dan berenang sepekan sekali,” ungkapnya.
Dalam berolahraga, Kiai Anwar tidak mau memaksakan diri. “Pokoknya yang penting bergerak, tak perlu ngoyo untuk orang sudah seusia saya ini. Kalau sudah capek, ya istirahat. Pilihannya olahraga yang minim risiko; untuk olahraga yang menghentak sudah tak boleh lagi,” lanjutnya.
Menjaga Hati Agar Tetap Bahagia

Selain menjaga kesehatan fisik, yang tak kalah pentingnya adalah menjaga kesehatan rohani agar tetap bahagia. “Caranya, apa pun yang terjadi pada saya disyukuri dan dinikmati. Senang dan susah tetap bersyukur pada Allah SWT. Dengan begitu hati jadi plong,” ujarnya.
Dunia ini, kata Kiai Anwar, semua orang punya problem. “Karena kita punya agama, ada ajaran untuk berdoa. Kalau kita kuat, kita selesaikan problem itu. Namun kalau sudah tak kuat, serahkan semuanya kepada Allah SWT. Kita bertawakal pada Yang Maha Kuasa,” begitu ia menyarankan.
Dengan pola seperti ini, lanjutnya, tidak menjadi beban bagi jiwa. “Jadi jiwa kita tetap sehat. Ingat, tujuan akhir kita ini bukan dunia, tapi adalah kehidupan di akhirat nanti,” katanya yang sudah mengurangi makanan pedas, asam, dan manis.
Dunia ini adalah persinggahan atau dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah mampir ngombe. Apa maksudnya? “Mampir itu artinya tak selamanya, ngombe (minum—Red) adalah memanfaatkan apa yang diberikan Allah untuk manusia. Kita boleh berbahagia di dunia, bahkan mencari dunia itu wajib karena itu bisa menjadi bekal untuk ke akhirat,” tegasnya.
Dan ada tiga pesan KH M. Anwar Iskandar untuk anak muda: “Harus membekali diri dengan iman dan takwa, membekali diri dengan ilmu pengetahuan, dan pandai memilih teman yang sama-sama menuju kepada kebaikan,” tandasnya.
"Hakikat Idulfitri adalah kembalinya manusia kepada fitrah atau kesuciannya, seperti dia dulu dilahirkan dari kandungan ibunya,"