Eksklusif, Ketum Organda Adrianto Djokosoetono Ungkap Dilema Kenaikan BBM   
Menurut Ketum Ketum Organda, Adrianto Djokosoetono kenaikan BBM adalah hal yang tak terelakkan. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

Bagikan:

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) akhirnya diumumkan oleh pemerintah. Menurut Ketua Umum DPP Organda (Organisasi Angkutan Darat) Adrianto Djokosoetono, ST., MBA., di jajaran Organda terdapat dua pendapat soal kenaikan ini, ada yang bisa menerima dan ada yang tidak bisa menerima. Namun demikian keputusan pemerintah ini, katanya harus didukung karena pemerintah memutuskan soal ini dengan berbagai pertimbangan yang matang.

***

BBM bagi operator dan pengusaha transportasi  adalah hal penting. Ketika harga BBM naik akan berpengaruh pada usaha yang dilakukan. “Memang tidak dipungkiri kenaikan BBM ini selalu menjadi dilema dan polemik. Soalnya BBM sangat berpengaruh terhadap kegiatan kita setiap hari selaku pelaku usaha transportasi yang bergabung dalam Organda, di mana anggota kita adalah operator angkutan umum baik barang maupun penumpang yang jenisnya bervariasi,” kata Adrianto Djokosoetono.

Meski anggota Organda terbelah soal kenaikan harga BBM, keputusan pemerintah ini tetap harus didukung. Yang terpeting bagi dia adalah bagaimana menerapkan strategi pasca kenaikan harga BBM agar usaha bisa terus berjalan. “Saya kira kenaikan itu sesuatu yang memang tidak bisa dihindari kalau mendengar alasan yang disampaikan pemerintah.  Tinggal bagaimana kita beradaptasi terhadap kenaikan itu. Apakah kenaikan tarif angkutan dilakukan bertahap, atau dilakukan sekaligus. Mungkin hal ini bergantung kepada jenis angkutan dan kebutuhan serta tambahan beban,” tegas Adrianto yang juga sebagai Wakil Direktur Utama, PT. Blue Bird Tbk.

Di tahap awal kenaikan ini, lanjut Andre –begitu dia biasa disapa—kontraksi memang tak bisa dihindarkan. Namun ia optimis, keadaan ini pelan-pelan akan menuju normal setelah kondisi berangsur-angsur pulih. Karena itu dalam masa penyesuaian ini ia mendesak agar ketersediaan BBM terjamin dan tidak ada pembatasan dalam pembelian BBM bagi angkutan umum. Karena pembatasan pembelian BBM akan menyulitkan operator. “Dengan kenaikan BBM ketersediaan harus terjaga dan pembatasan pembelian harus dihilangkan untuk angkutan umum. Angkutan umum sangat membutuhkan kepastian karena itu terkait tarif,  pelayanan, optimalisasi kendaraan dan sebagainya,” tegasnya.  

Ke depan menurut Andre pengusaha transportasi harus siap menyongsong perubahan dan kemajuan teknologi yang demikian cepat. Menurut dia semua pihak yang menekuni usaha transportasi harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Melihat, mempelajari dan bersiap untuk mengadopsi teknologi baru. “Dan ini bukan sesuatu yang harus dipaksakan. Kami dari operator dan Organda selalu akan melihat dan mempelajari, untuk selanjutnya mengadopsi jenis teknologi yang baru ini, agar bila saatnya tiba dan ini menjadi kebutuhan masyarakat kita sudah siap,” katanya kepada Iqbal Irsyad, Edy Suherli, Savic Rabos dan Rifai yang menemuinya di sela-sela acara Mukernas Organda, yang berlangsung di hotel Grand Mercure, Kemayoran, Jakarta Pusat, belum lama berselang.  

Pasca kenaikan harga BBM, menurut Adrianto Djokosoetono Ketum Organda adalah bagaimana kita beradaptasi terhadap kenaikan itu.  (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Pasca kenaikan harga BBM, menurut Adrianto Djokosoetono Ketum Organda yang perlu dilakukan adalah bagaimana kita beradaptasi terhadap kenaikan itu. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

 

Harga BBM naik, bagaimana Anda merespon hal ini sebagai Ketum DPP Organda? Seperti apa reaksi dari anggota Organda lainnya?

Memang tidak dipungkiri kenaikan BBM ini selalu menjadi dilema dan polemik. Soalnya BBM sangat berpengaruh terhadap kegiatan kita setiap hari bagi pelaku usaha transportasi yang juga  anggota Organda di mana  kita adalah operator angkutan umum baik barang maupun penumpang yang jenisnya bervariasi. Ada yang dalam kota, antarkota dalam provinsi, ada juga antarkota antarprovinsi. Reaksi mereka juga beragam karena jenis BBM yang digunakan juga tidak sama.

Kenaikan BBM yang sudah  diumumkan pemerintah ini  tentunya kita tetap dukung. Dan pemerintah memutuskan hal itu juga atas pertimbangan banyak hal. Yang kita fokuskan sekarang apa langkah selanjutnya untuk menghadapi kenaikan ini. Jenis angkutan kita juga berbeda-beda. Ada yang tarifnya  dibebaskan, dan ada pula yang tarifnya diatur. Ini yang banyak menjadi kendala saat tarif itu diatur oleh pemerintah. Kami harus berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan atau Pemerintah Daerah Provinsi atau Pemerintah Daerah Kabupaten / Kota.

Secara umum respon anggota Organda soal kenaikan ini seperti apa?

Ada yang menolak dan ada pula yang menerima kenaikan BBM ini. Untuk yang tarifnya tidak diatur pemerintah lebih mudah menerima. Karena soal harga itu ditentukan oleh pasar. Jadi kenaikan tarif secara mudah bisa dilakukan setiap saat. Kalau tarifnya ditentukan oleh pemerintah biasanya ini yang paling berat buat mereka. Biasanya karena melayani kelas  ekonomi kenaikan tarifnya biasanya lama diskusinya. Untuk yang bukan kelas ekonomi pun kenaikan itu tetap memerlukan koordinasi dengan pemerintah. Selama masa koordinasi itu dan keputusan pemerintah belum ada siapa yang harus menanggung beban kenaikan BBM, ini yang menjadi pertanyaan teman-teman operator anggota Organda.

Tarif ojek online sudah diputuskan oleh pemerintah, bagaimana dengan angkutan darat lainnya?

Kebetulan hari ini pemerintah melalui Kementerian Perhubungan sudah menentukan tarif kelas ekonomi untuk bus AKAP (antarkota antar provinsi). Untuk non-ekonomi tidak diputuskan oleh pemerintah, jadi para operator bisa menentukan tarif yang baru juga. Untuk tarif antarkota dalam provinsi ditentukan bersama pemerintah daerah masih belum diubah, ini yang membuat anggota kami kesulitan.

Bagaimana anggota Organda merespon tarif baru kelas ekonomi AKAP  yang sudah dikeluarkan Kemenhub Rp159 per penumpang per kilometer?

Terus terang untuk tarif baru yang sudah ditetapkan pemerintah masih belum sesuai harapan.  Karena tarif ekonomi ini sudah lama tidak berubah, terakhir 2016. Jadi dari yang diputuskan Kementerian Perhubungan masih berharap ada kenaikan lagi 10 sampai 20 persen.

BBM naik berpengaruh pada banyak hal, minat orang untuk naik angkutan umum juga menurun karena daya beli yang melemah, bagaimana menghadapi situasi ini?

Persoalan ini bukan hanya karena naiknya harga BBM, tapi soal daya beli masyarakat dan kemauan membeli. Ada kemampuan tapi belum tentu mau membeli.  Karena mungkin “melihat” dulu dan situasi dan lain sebagainya. Kenaikan BBM ini bukan pertama kali terjadi. Dan kenaikan BBM itu terjadi secara nasional. Saya kira kenaikan itu sesuatu yang memang tidak bisa dihindari kalau mendengar alasan yang disampaikan pemerintah.  Tinggal bagaimana kita beradaptasi terhadap kenaikan itu. Apakah kenaikan tarif angkutan dilakukan bertahap, atau dilakukan sekaligus. Mungkin hal ini bergantung kepada jenis angkutan dan kebutuhan serta tambahan beban.

Contoh untuk angkutan umum dalam kota yang  menggunakan pertalite, satu kali kenaikan mungkin cukup buat mereka. Kemudian untuk jenis angkutan antarkota baik itu barang maupun penumpang ini kondisinya berbeda ada batasan jumlah liter yang diisi dalam setiap 24 jam. Ini sangat menyulitkan karena dengan adanya jalan tol dan jarak yang ditempuh dalam satu hari itu cukup panjang. Jadi batasan ini menyulitkan bagi angkutan barang dan penumpang jarak jauh.

Solusinya apa? Dengan kenaikan BBM ketersediaan harus terjaga dan pembatasan pembelian harus dihilangkan untuk angkutan umum. Angkutan umum sangat membutuhkan kepastian karena itu terkait tarif,  pelayanan, optimalisasi kendaraan dan sebagainya.

Kenaikan BBM nenurut Adrianto Djokosoetono adalah sesuatu yang memang tidak bisa dihindari kalau mendengar alasan yang disampaikan pemerintah. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

Kenaikan BBM nenurut Adrianto Djokosoetono adalah sesuatu yang memang tidak bisa dihindari kalau mendengar alasan yang disampaikan pemerintah. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

 

Ada yang berpendapat harga BBM tidak perlu naik karena harga minyak dunia turun. Soal subsidi juga masih kurang tepat dan ada kebocoran, pandangan Anda seperti apa?

Sebenarnya kami juga setuju dengan konsep itu, karena dasar dari angkutan umum itu adalah undang-undang yang mengamanatkan bahwa negara harus hadir untuk memenuhi kehidupan orang banyak. Transportasi umum ini menjadi jalur kehadiran pemerintah, sehingga memang pemerintah memang harus hadir dengan berbagai kebijakannya.  Kami sangat berharap pembatasan pembelian BBM tidak berlaku untuk angkutan umum. Ada proses registrasi dan pendataan silahkan, selama ini masih ada kekurangan. Belum lagi dari sisi SPBU yang belum siap. Hal ini masih kami koordinasikan dengan Pertamina yang ditugasi negara mendistribusikan BBM.

Karena kalau dibilang bahwa ada kebocoran, ada yang menimbun BBM itu ranah pemerintah untuk melakukan pengawasan. Untuk angkutan umum ini tugasnya melayani mobilitas masyarakat dan barang komoditas, yang pasti akan terkait dengan inflasi kalau pembatasan masih dilakukan. Soalnya setiap 300 kilometer baru bisa membeli BBM bersubsidi ini amat merepotkan.

Makanya dalam perhitungan kami,  semakin jauh jarak tempuh truk yang mengangkut barang, semakin tinggi kenaikannya. Perhitungan kita kenaikannya bisa sampai 40 persen, bukan berkisar antara 10 sampai 20 persen. Untuk angkutan dalam kota 10 sampai 20 mungkin cukup. Saat ini anggota kami untuk angkutan penumpang jumlah armada anggota kami sekitar 64.000 lebih. Kemudian untuk angkutan barang  jumlahnya lebih dari 160.000 kendaraan.

Selain biaya BBM apa lagi biaya yang menjadi beban dari sektor transportasi ini?

Ada biaya SDM, biaya inflasi, spare part kendaraan baru, maintenance dan fluktuasi bunga bank. Kalau bunga kredit bank stabil ya bagus, tapi kalau beranjak naik akan berpengaruh juga bagi kelancaran usaha. Jadi bukan hanya BBM.

Bagaimana pola kerjasama perusahaan transportasi dengan sopir dan kru selama ini?

Hampir sebagian besar anggota Organda menerapkan sistem kemitraan dengan driver. Tapi kemitraan itu ada yang sistem setoran dan juga yang bagi hasil. Dari kedua  model ini penerapannya di berbagai moda juga berbeda. Namun ada juga yang menerapkan sistem karyawan, terutama untuk yang menggunakan subsidi langsung dari pemerintah, seperti angkutan yang dikelola Kemenhub dan Pemda. Operator diberikan standar layanan minimum untuk memberikan pelayanan mobilitas publik secara massal. Penghasilan dari penumpang masuknya ke kas negara.

Untuk perusahaan transportasi besar mungkin siap dengan perubahan dan kenaikan BBM, bagaimana dengan anggota Organda yang lain?

Siap engga siap apa yang ditetapkan pemerintah ini harus dilaksanakan. Jadi tinggal bagaimana penerapannya disesuaikan dengan kemampuan dan jenis layanan angkutan di tiap provinsi yang berbeda. Dalam satu bulan ke depan adalah masa adaptasi.

Dalam usaha transportasi apa faktor yang bisa dihemat agar keberlangsungan usaha terus berlanjut?

Yang bisa dilakukan adalah penghematan dalam SDM, pengeluaran manajemen, selain dari itu agak sulit. Lalu bagaimana mengoptimalkan armada yang ada. Apakah menambah jumlah penumpang dan jumlah barang yang diangkut dalam satu trayek agar efisien. Dalam beberapa hari ke depan mungkin permintaan akan berkurang, namun pelan-pelan akan normal lagi.

Salah seorang pengamat transportasi mengatakan usaha angkutan umum seperti yang dilakukan anggota Organda mendapat subsidi dari pemerintah, bagaimana yang terjadi selama ini?

Selama ini kami tidak mendapatkan subsidi langsung dari pemerintah, namun yang kami dapatkan adalah bentuk-bentuk kemudahan dalam berbagai hal seperti  insentif perpajakan. Ini bisa diterima oleh operator angkutan resmi karena perizinannya lengkap. Dalam perizinan itu ruang gerak operator terbatas, sehingga diberikan insentif oleh pemerintah.

Kalau dikomparasi dengan Transjakarta dan Commuterline bagaimana?

Itu adalah jenis angkutan yang dikelolah oleh pemerintah dan mendapatkan subsidi langsung. Mereka mendapatkah subsidi saat jumlah penumpang masih lebih sedikit dari biaya operasionalnya. Nanti saat jumlah penumpangnya bertambah dan bisa lebih tinggi pendapatan dari biaya operasional, akan masuk ke kas negara juga. Inilah perbedaan mendasar antara layanan yang disubsidi langsung dan tidak disubsidi langsung.

Sekarang ini ada perusahan transportasi tapi mereka tidak seperti perusahaan yang bernaung di bawah Organda, bagaimana merespon hal ini?

Perusahaan angkutan seperti Blue Bird punya aplikasi sendiri. Secara fisik kepemilikan kendaraan itu harus ada maintenance apa pun cara mendapatkannya. Itu bukan lagi yang sulit terlihat, mereka itu sudah TBK. Aplikasi bukan menentukan perusahaan sehat atau tidak sehat. Soal kompetisi, setiap perusahaan bisa berkompetisi dan saling melengkapi satu dengan yang lain. Bagaimana kita bisa mengisi kekosongan yang tepat.

Operator besar mungkin siap untuk beradaptasi, bagaimana dengan anggota Organda yang kecil?

Mau engga mau harus siap dan beradaptasi. Pilihan itu banyak, kalau tidak punya aplikasi sendiri bisa bergabung dengan yang lain. Aplikasi lokal bisa bergabung satu dengan yang lain.

Saat ini penggunaan energi hijau, baru dan terbarukan digalakkan pemerintah, bagaimana kesiapan Organda?

Ini masih jangka panjang, untuk jangka pendek adalah penggunaan CNG (Compressed Natural Gas). Cuma memang ketersediaannya harus dijamin oleh pemerintah. Alternatif lain adalah kendaraan listrik meski investasinya amat mahal. Kalau dibilang ini adalah solusi untuk berpindah saya pikir belum. Berbagai layanan ini sedang melakukan uji coba. Di Blue Bird sudah mulai menggunakan kendaraan listrik, Transjakarta juga sudah memulai menggunakan bus listrik. Layanan antarkota pun saya dengar sudah melihat untuk mengujicoba bus listrik. Sekarang kita dalam masa transisi menuju penggunaan bus listrik dan kendaraan listrik. Saya pikir semangat untuk menurunkan jejak karbon sudah ada baik dari pengguna maupun operator.

Bagaimana dengan penggunaan kendaraan listrik di lingkungan Organda dan juga Blue Bird?

Soal penggunaan energi listrik, Eropa Utara masih menjadi yang terbanyak. Namun Shenzhen China juga menjadi barometer karena menjadi kota pertama di dunia yang seluruh transportasi umumnya menggunakan energi listrik. Indonesia menurut kami cukup adaptif dengan hadirnya kendaraan listrik ini.  Di Jakarta sudah ada bus listrik, di Bali juga sudah beroperasi taksi listrik.

Perilaku masyarakat semasa pandemi COVID-19 kemarin banyak berubah, dari cara mengakses transportasi sampai dengan pembayaran. Yang paling signifikan menurut saya dari sisi pembayaran yang menggunakan cara chaseless. Ke depan ini akan meningkat, behavior masyarakat ada yang terencana dan tidak. Yang menggunakan akses non digital akan selalu ada dan terpenuhi aksesnya. Jadi semua sarana mobilitas publik untuk bergerak dari satu tempat ke tempat lain harus difasilitasi baik menggunakan aplikasi maupun tanpa aplikasi.

Bagaimana kesiapan Organda soal kemajuan teknologi transportasi?

Soal perkembangan teknologi transportasi baru yang lepas landas dan mendarat vertikal (Vertical Take-Off and Landing atau VTOL) bisa cepat atau sebaliknya. Tapi untuk VTOL ini di seluruh dunia masih melakukan uji coba. Selain itu sedang berkembang juga autonomous vehicle atau kendaraan otonom, kendaraan tanpa pengemudi. Ini juga akan menjadi primadona di masa depan. Kita harus beradaptasi untuk menyongsong perkembangan teknologi transportasi yang demikian pesat. Dan ini bukan sesuatu yang harus dipaksakan. Kami dari operator dan Organda akan melihat, mempelajari dan mengadopsi jenis teknologi yang baru ini agar bila saatnya tiba dan ini menjadi kebutuhan masyarakat, kita sudah siap.

 

Adrianto Djokosoetono dan Keseruan Berburu Spot Diving

Meski sibuk dengan pekerjaan  Adrianto Djokosoetono menekankan pentingnya  olahraga dan melakoni hobi sebagai penyeimbang. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Meski sibuk dengan pekerjaan Adrianto Djokosoetono menekankan pentingnya olahraga dan melakoni hobi sebagai penyeimbang. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

 

Meski sibuk dengan aktivitas sebagai profesional di perusahaan transportasi dan juga selaku pucuk pimpinan DPP Organda (Organisasi Angkutan Darat), Adrianto Djokosoetono, ST., MBA., punya cara untuk membuat semuanya seimbang. Caranya melakoni hobi dan aktivitas olahraga di akhir pekan. Diving atau menyelam adalah salah satu yang ia suka.

Salah satu kunci untuk menjaga kesehatan menurut Andre adalah hidup yang seimbang. “Saya menjaga kesehatan dengan menyeimbangkan aktivitas kerja  di kantor dengan relasi dengan keluarga di rumah. Saya hobinya travelling, kebetulan ditugaskan operasional berkunjung ke berbagai daerah. Di Organda juga sering melakukan tugas ke daerah. Jadi sekali jalan melaksanakan tugas sekalian berwisata di ujung acara,” kata penyuka olahraga selam dan sepeda ini.’

Menurut Andre, alam bawah laut Indonesia adalah surga tersembunyi bagi pecinta diving. Meski sudah sekian banyak spot diving yang dikunjungi, namun masih banyak lagi spot diving yang ingin ia sambangi. “Dari ujung paling barat di Pulau We Daerah Instimewa Aceh sudah ada spot diving sampai ke paling ujung di Papua, tersebar spot diving yang menjadi incaran penyuka olahraga selam,” katanya.

Jujur diakui Andre antara Bali hingga Papua masih sangat banyak spot diving yang belum dikunjunginya. “Saya paling sering itu ke Labuan Bajo, NTT. Selain itu Bali juga menjadi lokasi yang favorit bagi saya. Karena aksesnya lancar. Tapi sekarang Labujan Bajo juga sudah mudah dikunjungi karena sudah ada penerbangan langsung dari Jakarta,” katanya.

Meski ia sudah menyelam di Raja Ampat, namun ia masih penasaran untuk menyusuri spot diving lain di kawasan Timur Indonesia, mulai dari Wakatobi, Maluku, dan Kalimantan Timur dan lain sebagainya. “Maluku Utara, Sulawesi, Kalimantan Timur adalah spot diving yang masuk dalam daftar tunggu,” kata suami dari Titi Radjo Padmaja ini.

 

Tak Terduga

Adrianto Djokosoetono melakoni hobi diving, sudah banyak list spot diving yang sudah masuk dalam listnya. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Adrianto Djokosoetono melakoni hobi diving, sudah banyak list spot diving yang sudah masuk dalam listnya. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

 

Dalam melakoni hobinya menyelam, kata Andre perlu perencanaan yang matang. Namun kadang apa yang direncanakan tidak selalu terealisasi. Karena keselamatan menjadi faktor paling penting.

Diving itu adalah perjalanan yang perlu perencanaan yang matang, dan selain itu ada ekspektasi yang tidak didapatkan sebelumnya. Soalnya kita akan berhadapan dengan laut yang kadang tak bisa diduga. Karena faktor cuaca kita bisa tidak jadi diving meski semua sudah siap,” katanya.

Sudah di lokasi penyelaman pun kadang apa yang sebelumnya direncanakan tidak dapat ditemukan. “Kadang kita sudah masuk ke spot diving yang dituju, namun yang ingin dilihat tidak ada. Salah satu tujuan diving itu adalah melihat fauna tertentu di bawah laut tempat diving yang dituju. Namun yang dituju kadang tidak ditemui saat kita menyelam,” lanjutnya.

Jadi menurut Adre, ada dua hal yang menyenangkan dalam melakoni diving. Pertama perjalanannya menuju lokasi diving dan yang kedua adalah pengalaman yang tak teduga yang mendebarkan. “Jadi menurut saya pengalaman diving itu unexpected experience disamping perjalanan yang menyenangkan. Jadi semua itu menjadi satu paket yang komplit,” katanya.

Saat ditanya soal pengalaman unik dan berbahaya selama menyelam, menurut Andre yang ia sejauh ini belum. “Alhamdulillah sejauh ini belum mengalami hal-hal yang aneh. Sebelum menyelam kita berdoa dulu semoga aktivitas  dilancarkan,” katanya.

Selain menyelam olahraga yang dilakoni Andre adalah bersepeda. Selama pandemi COVID-19 ketika dilakukan pembatasan beraktivitas, ia amat menikmati, karena jalanan sepi. “Terus terang selama pandemi kemarin bersepeda enak sekali di jalanan Jakarta, karena sepi. Tidak banyak yang beraktivitas.  Tapi setelah keadaan melandai kembali lagi ke situasi normal,” katanya.

Dia hanya melakoni hobinya bersepeda di akhir pekan saja. “Soalnya untuk weekday sudah padat dengan jadwal kantor, jadi tidak memungkinkan untuk bersepeda,” katanya.

Ada target khusus yang dicapai untuk bersepeda? “Kalau weekday lebih pas jogging atau jalan pagi saja, karena jaraknya dekat dan tidak memerlukan waktu yang banyak,” sambungnya.

 

Regenerasi

Selain menyelam Adrianto Djokosoetono juga melakukan olahraga bersepeda.  (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)
Selain menyelam Adrianto Djokosoetono juga melakukan olahraga bersepeda. (Foto: Savic Rabos, DI: Raga/VOI)

 

Sejatinya menurut Andre aktivitas mereka yang berkarya di perusahaan transportasi itu 24 jam. “Kita di perusahaan transportasi itu bekerjanya itu 24 jam. Handphone harus selalu aktif dan siap diangkat. Meski itu di akhir pekan, kadang kita harus menyelaraskan waktu kita untuk melakukan aktivitas dengan memantau pekerjaan,” katanya.

Andre sebagai generasi ketiga dari sebuah perusaaan transportasi terkemuka di Indonesia punya motivasi tersendiri dalam melakoni aktivitasnya. Meski ia berkarier di perusahaan keluarga, bukan berarti ia langsung dapat posisi enak dalam bekerja.

Ia pernah melakoni pekerjaan sebagai driver, staf, manajemen pool taksi, dan hingga kini sebagai salah seorang pucuk pimpinan. “Saya benar-benar mengawali karier di perusahaan dari bawah. Merasakan bekerja 12 jam per hari. Dan cukup lama di posisi staf,” katanya.

Menurut Adrianto Djokosoetono setiap  generasi punya tantangan sendiri-sendiri yang berbeda dengan gerasi sebelum atau sesudahnya. “Setiap generasi itu punya tantangan sendiri.  Kami sebagai generasi ketiga tantangannya berbeda dengan apa yang sudah dilakukan founder kami, generasi pertama dan kedua,” katanya sembari berharap bisa meninggalkan legacy dan mewariskan perusahaan ke generasi keempat dengan kondisi yang lebih baik.

 

“Saya kira kenaikan harga BBM itu sesuatu yang memang tidak bisa dihindari kalau mendengar alasan yang disampaikan pemerintah.  Tinggal bagaimana kita beradaptasi terhadap kenaikan itu. Apakah kenaikan tarif angkutan dilakukan bertahap, atau dilakukan sekaligus. Mungkin hal ini bergantung kepada jenis angkutan dan kebutuhan.”