Bagikan:

JAKARTA - Anemia merupakan salah satu komplikasi yang paling sering dialami oleh pasien penyakit ginjal kronik (PGK). Kondisi ini terjadi karena menurunnya kemampuan ginjal dalam memproduksi hormon eritropoietin yang berperan dalam pembentukan sel darah merah.

Jika tidak ditangani dengan baik, anemia dapat memperburuk kondisi pasien, menurunkan kualitas hidup, serta meningkatkan risiko komplikasi lain. Oleh karena itu, ketersediaan terapi anemia yang efektif dan mudah diakses menjadi bagian penting dalam tata laksana penyakit ginjal kronik secara menyeluruh.

Di Indonesia, upaya memperluas akses terhadap terapi bagi pasien PGK masih menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk tenaga medis, organisasi profesi, serta industri kesehatan.

Momentum Hari Ginjal Sedunia sering dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya deteksi dini penyakit ginjal, pencegahan progresivitas penyakit, serta penanganan yang komprehensif bagi pasien.

Salah satu terapi yang umum digunakan dalam pengelolaan anemia pada pasien penyakit ginjal kronik adalah terapi erythropoietin (EPO), yaitu hormon yang berfungsi merangsang produksi sel darah merah di sumsum tulang. Terapi ini berperan dalam membantu menjaga kadar hemoglobin sehingga dapat mengurangi gejala anemia seperti kelelahan, sesak napas, dan penurunan stamina.

Di Indonesia, terapi EPO telah digunakan dalam pelayanan kesehatan sesuai dengan pedoman medis yang berlaku. Seiring berkembangnya industri farmasi dalam negeri, sejumlah produk EPO juga telah diproduksi secara lokal untuk mendukung ketersediaan terapi bagi pasien.

Roy Priadi, Director of Renal & Cardio Business Unit PT Etana Biotechnologies Indonesia, mengatakan bahwa penyakit ginjal kronik tidak hanya berdampak pada fungsi organ ginjal, tetapi juga mempengaruhi kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan.

“Penyakit ginjal kronik tidak hanya berdampak pada fungsi organ, tetapi juga pada kualitas hidup pasien. Karena itu, memastikan akses terhadap terapi yang tepat menjadi sangat penting. Melalui produksi lokal, kami berupaya menghadirkan pengobatan yang berkualitas dan lebih mudah diakses bagi pasien di Indonesia,” ujar Roy.

Secara global, penyakit ginjal kronik menjadi salah satu masalah kesehatan yang terus meningkat. Diperkirakan sekitar satu dari sepuluh orang dewasa di dunia mengalami gangguan fungsi ginjal. Di Indonesia, peningkatan kasus ini juga berkaitan dengan tingginya prevalensi penyakit tidak menular seperti diabetes dan hipertensi yang merupakan faktor risiko utama terjadinya kerusakan ginjal.

Kondisi tersebut juga berdampak pada sistem pembiayaan kesehatan nasional. Pengobatan penyakit ginjal kronik, termasuk terapi dialisis, menjadi salah satu komponen pembiayaan terbesar dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Ketua Umum PB Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI), Dr. dr. Pringgodigdo Nugroho, Sp.PD-KGH, menekankan pentingnya penguatan deteksi dini untuk menekan laju perkembangan penyakit ginjal kronik di Indonesia.

“Penguatan sistem deteksi dini menjadi fondasi penting dalam menekan laju progresivitas penyakit ginjal kronik di Indonesia. Saat ini banyak pasien masih terdiagnosis pada stadium lanjut, sehingga peluang untuk memperlambat kerusakan ginjal menjadi terbatas,” kata Pringgodigdo.

Ia menambahkan bahwa kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan diperlukan untuk meningkatkan kualitas penanganan penyakit ginjal di Indonesia.

"Melalui kolaborasi berbagai pemangku kepentingan dan dukungan inovasi terapi, penanganan penyakit ginjal diharapkan semakin terintegrasi dan mampu meningkatkan kualitas hidup pasien,” ujarnya.

Sementara itu, Roy juga menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor dalam memperluas akses pengobatan bagi pasien penyakit ginjal kronik.

"Kami percaya bahwa kolaborasi adalah kunci untuk memperluas akses pengobatan. Dengan dukungan ekosistem kesehatan yang kuat, mulai dari edukasi, ketersediaan terapi, hingga penguatan produksi dalam negeri, kita dapat bersama-sama meningkatkan kualitas hidup pasien penyakit ginjal kronik di Indonesia,” tambahnya.

Di sisi lain, pelayanan penyakit ginjal di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Banyak kasus penyakit ginjal kronik baru terdiagnosis pada stadium lanjut sehingga penanganannya menjadi lebih kompleks dan membutuhkan terapi jangka panjang.

Selain itu, ketimpangan akses layanan kesehatan di berbagai wilayah serta besarnya kebutuhan pembiayaan kesehatan juga turut mempengaruhi penanganan penyakit ini.

Karena itu, upaya meningkatkan ketersediaan terapi, memperkuat sistem deteksi dini, serta mendorong kolaborasi antara komunitas medis, pemerintah, dan industri kesehatan dinilai penting untuk mendukung penanganan penyakit ginjal kronik yang lebih komprehensif di Indonesia.