Bagikan:

JAKARTA - Saat ini semakin banyak orang yang mengonsumsi minuman berenergi. Penelitian menunjukkan sekitar 30 persen hingga 50 persen remaja dan dewasa muda konsumsi minuman berenergi secara teratur.

Kebiasaan tersebut mengkhawatirkan karena bisa mengganggu kesehatan jantung, terutama pada anak-anak. Hal ini bisa terjadi karena minuman berenergi mengandung banyak stimulan, terkhususnya kafein dan taurin.

Stimulan tersebut dapat memengaruhi detak jantung, irama jantung, dan aliran darah, terlebih jika sering dikonsumsi dalam jumlah besar. Minuman ini juga menyebabkan masalah tidur dan masalah perilaku.

“Tidak seperti kopi biasa, minuman energi sering menggunakan campuran khusus yang menyembunyikan betapa kuatnya bahan-bahannya,” kata ahli gizi, Gauri Anand, dikutip dari Healthshots, pada Rabu, 4 Maret 2026.

Penelitian mengidentifikasi 20 kasus aritmia atau gangguan irama jantung pada orang yang konsumsi minuman berenergi. Ini termasuk takikardia supraventrikular dan takakardia ventrikel yang mengancam nyawa.

Minuman berenergi juga menimbulkan lonjakan tekanan darah sistolik dan diastolik. Dalam beberapa kasus, peningkatan ini terjadi hanya dalam satu jam setelah mengonsumsi satu kaleng minuman berenergi.

Jika dikonsumsi oleh anak-anak dengan masalah jantung yang tidak terdiagnosis, ADHD, atau mereka yang konsumsi obat-obatan tertentu memiliki risiko mengalami masalah kesehatan serius dan kematian mendadak.

Kemudian jika menggunakan minuman berenergi sebagai ‘pra-latihan’ sebelum olahraga intens maka dapat menyebabkan peningkatan denyut jantung, dan tekanan darah yang berbahaya selama olahraga dilakukan.

Dengan dampaknya yang berbahaya untuk kesehatan tersebut, terutama pada jantung, sebaiknya konsumsi minuman berenergi dibatasi. Bagi anak-anak atau remaja di bawah usia 18 tahun, minuman ini sebaiknya tidak diberikan, terutama jika mengandung kafein, guarana, atau taurin tingkat ringgi.