Bagikan:

JAKARTA - Perawatan bayi prematur memerlukan perhatian khusus karena kondisi organ tubuhnya belum berkembang sempurna saat lahir.

Bayi yang lahir lebih awal umumnya membutuhkan pemantauan intensif, dukungan nutrisi, serta pendampingan medis berkelanjutan agar tumbuh kembangnya tetap optimal.

Pendekatan perawatan di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU) kini pun terus mengalami perkembangan, termasuk dengan melibatkan keluarga secara lebih aktif dalam proses perawatan bayi sejak hari pertama kehidupannya.

Pendekatan tersebut dikenal dengan istilah Family Integrated Care (FICare), yaitu metode perawatan yang menempatkan keluarga sebagai bagian dari tim medis dalam mendampingi bayi.

Melalui sistem ini, orang tua tidak hanya menunggu kabar perkembangan bayi dari luar ruang perawatan, tetapi juga ikut berperan dalam pengasuhan, pemberian ASI, hingga stimulasi awal untuk mendukung tumbuh kembang bayi.

Metode ini dinilai sangat penting, khususnya bagi bayi prematur dan bayi dengan berat lahir rendah yang harus menjalani perawatan intensif dalam periode tertentu.

Selain membantu mempererat hubungan emosional antara orang tua dan bayi, keterlibatan keluarga juga diyakini mampu mendukung kestabilan kondisi bayi sekaligus meningkatkan kesiapan orang tua saat nantinya bayi diperbolehkan pulang ke rumah.

Salah satu rumah sakit yang telah menerapkan pendekatan tersebut adalah RSIA Bunda Jakarta. Dokter Spesialis Anak Konsultan Neonatologi RSIA Bunda Jakarta, R Adhi Teguh Perma Iskandar, menjelaskan bahwa konsep NICU saat ini tidak lagi semata-mata berfokus pada penyelamatan nyawa bayi, tetapi juga mempersiapkan kualitas hidup anak setelah masa perawatan berakhir.

"Bagi kami, NICU bukan hanya tentang menyelamatkan kehidupan, tetapi juga mempersiapkan kehidupan setelahnya," ujar dr. Adhi dalam Seminar Offline International Nursing Day Event 2026, di RSIA Bunda, Menteng, Jakarta, baru-baru ini.

Menurut dokter Adhi yang juga menjabat sebagai Ketua UKK Neonatologi Ikatan Dokter Anak Indonesia, perubahan pendekatan tersebut membuat orang tua dilibatkan sejak awal proses perawatan bayi.

Mereka diberikan edukasi, pendampingan, serta pelatihan dasar agar dapat berpartisipasi aktif selama bayi dirawat di NICU.

Pengembangan layanan NICU di RSIA Bunda Jakarta sendiri telah dilakukan lebih dari 20 tahun. Dasar pengembangan layanan ini dibangun oleh Risma Kerina Kaban melalui pembentukan tim NICU yang berfokus pada penanganan neonatal intensif.

Dalam beberapa tahun terakhir, penerapan FICare dilakukan secara lebih menyeluruh. Selain itu, NICU RSIA Bunda Jakarta juga didukung berbagai fasilitas dan metode pendukung seperti optimalisasi pemberian ASI ibu kandung, metode Kangaroo Mother Care (KMC), sistem pengendalian infeksi yang ketat, hingga layanan pemantauan tumbuh kembang melalui Neuro Development Center.

Salah satu perhatian utama dalam layanan tersebut ialah memastikan bayi prematur tetap memperoleh ASI langsung dari ibu kandung. ASI dari ibu yang melahirkan prematur dinilai memiliki kandungan nutrisi dan faktor perlindungan yang sesuai dengan kebutuhan bayi berdasarkan usia kehamilannya.

"Melalui metode KMC, ibu dan ayah juga didorong terlibat langsung dalam perawatan bayi melalui kontak kulit dengan kulit sejak dini. Selain membantu menjaga stabilitas suhu dan kondisi bayi, metode ini dinilai mampu meningkatkan produksi ASI serta memperkuat ikatan emosional antara orang tua dan bayi," terang dr. Adhi.

Dalam kesempatan yang sama, Chairman Pediatric Bunda Group, dr. I Gusti Ayu Nyoman Partiwi, Sp.A, MARS, atau yang lebih dikenal dengan dr Tiwi menjelaskan, selain dukungan nutrisi dan keterlibatan keluarga, pengendalian infeksi juga menjadi fokus utama dalam layanan NICU.

Edukasi kepada keluarga dilakukan secara rutin agar seluruh proses perawatan berlangsung aman bagi bayi yang memiliki risiko tinggi terhadap infeksi.

RSIA Bunda Jakarta menyebut pendekatan tersebut turut berkontribusi terhadap rendahnya angka infeksi di ruang NICU. Dalam 10 hingga 15 tahun terakhir, unit tersebut dilaporkan tidak menangani kasus sepsis pada bayi, yang menjadi salah satu indikator kualitas layanan neonatal intensif.

"Kami mendorong orang tua untuk terlibat langsung dalam perawatan bayi sejak dini. Mereka diperbolehkan mendampingi bayi lebih lama agar proses pemberian ASI dan ikatan emosional dapat terbentuk lebih kuat,"

"Selain membantu perkembangan bayi, ketenangan ibu juga diyakini sangat memengaruhi kondisi anak. Karena itu, tenaga medis tidak hanya fokus pada tindakan medis, tetapi juga memberikan dukungan emosional kepada keluarga pasien," ungkapnya.

Pada kondisi ini, jika orang tua merasa tenang, biasanya respons bayi yang dirawat itu pun juga membaik. Sebab, perawat di rumah sakit bukan hanya menjalankan instruksi medis, tetapi menghadirkan sentuhan kemanusiaan bagi pasien dan keluarga.