JAKARTA - Di tengah tantangan global terkait ketahanan pangan, pertumbuhan populasi, dan perubahan iklim, kebutuhan akan sumber protein yang sehat, efisien, dan berkelanjutan semakin mendesak. Salah satu alternatif yang mulai mendapat perhatian serius adalah serangga sebagai sumber protein masa depan.
Akademisi dan pakar entomologi, Dr. Ir. Dadan Hindayana menyoroti serangga unggul dari sisi kandungan protein dan efisiensi produksi dibandingkan ternak konvensional, sehingga membuka peluang besar sebagai sumber protein di masa depan.
"Serangga unggul dari sisi kandungan protein dan efisiensi produksi dibandingkan ternak konvensional, sehingga membuka peluang besar sebagai sumber protein masa depan," katanya dalam talkshow 'Melacak Jejak Pangan Nusantara', dikutip dari keterangan resminya.
"Serangga adalah masa depan pangan kita. Bukan tidak mungkin serangga menjadi sumber protein masa depan," tambahnya.
Di sisi lain, Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan kekayaan pangan lokal terbesar di dunia. Setiap wilayah menyimpan bahan pangan alami yang kaya nutrisi sekaligus memiliki nilai budaya yang kuat.
Sayangnya, perubahan gaya hidup dan pola konsumsi membuat banyak pangan lokal mulai tergeser oleh produk olahan, makanan instan, dan bahan impor yang dianggap lebih praktis.
Hilangnya kedekatan masyarakat dengan pangan lokal tidak hanya mengurangi keragaman konsumsi, tetapi juga berpotensi melemahkan pola makan seimbang dan memudarkan pengetahuan tradisional yang selama ini menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan budaya makan.
Padahal, pangan lokal menyimpan pengetahuan, praktik pengolahan, serta nilai sosial dan ekonomi yang membentuk identitas masyarakat Nusantara.
Dalam konteks ini, istilah 'melacak' dimaknai sebagai upaya untuk memahami serta menampilkan kembali keberagaman pangan lokal beserta potensinya, sehingga masyarakat dapat menyadari bahwa sumber pangan yang bernilai tinggi sesungguhnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
BACA JUGA:
Memahami pangan lokal perlu dilihat dari berbagai sudut pandang, baik akademik, budaya, maupun ilmiah. Repa Kustipia, Research Director Center for Study Indonesian Food Anthropology (CS-IFA) menekankan pentingnya memahami pangan lokal sebagai bagian dari budaya hidup masyarakat.
"Pangan lokal merupakan hasil dari trajektori sejarah panjang, mulai dari fase pemburu-peramu, pertanian awal, sistem agraris kerajaan, hingga masuknya sistem pangan kolonial dan industri modern," beber Repa.
"Setiap fase tersebut membentuk cara masyarakat Nusantara mengenal, mengolah, dan memaknai makanan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari," lanjutnya.
Dari sisi riset dan pengembangan, Dr. Dra. Dwinita Wikan Utami, M.Si., Kepala Riset Hortikultura dan Perkebunan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menekankan perlunya pendekatan ilmiah dalam mengangkat pangan lokal.
"Pengembangan pangan lokal hanya dapat berjalan optimal jika peneliti, pemerintah daerah, dan masyarakat bekerja bersama, sehingga temuan riset dapat diterjemahkan menjadi praktik yang bermanfaat dan memperkuat posisi pangan lokal." ujar Dwinita.
Pengenalan pangan lokal melalui diskusi edukatif bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai keragaman bahan pangan Indonesia menjelaskan nilai nutrisinya secara ilmiah namun mudah dipahami, dan mendorong kesadaran pangan lokal dapat menjadi pilihan sehat, berkelanjutan, dan relevan untuk kehidupan modern.
Pendekatan ini juga diharapkan memicu kolaborasi lintas sektor antara akademisi, komunitas, dan pelaku industri, sekaligus menumbuhkan gerakan literasi pangan berbasis masyarakat yang berkelanjutan.