Bagikan:

JAKARTA - Pemahaman yang keliru terkait penyakit Inflammatory Bowel Disease (IBD) atau radang usus masih banyak tersebar di masyarakat. Salah satunya terkait klaim bahwa stres merupakan penyebab terjadinya IBD.

IBD merupakan kondisi kronis yang menyebabkan peradangan pada saluran pencernaan. Ini termasuk kondisi autoimun di mana sistem kekebalan tubuh menyerang sel usus sehat, menyebabkan peradangan jangka panjang, luka, nyeri, hingga diare yang berulang.

Dokter spesialis penyakit dalam Prof. Dr.dr Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH, MMB, SpPD, K-GEH, FACP, FACG, mengatakan bahwa penyebab pasti IBD belum diketahui hingga saat ini. Namun, penyakit ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, sehingga klaim stres menjadi penyebab terjadinya IBD adalah mitos.

“Memang faktor psikologis berperan. Tapi bukan penyebab utama IBD langsung, bukan,” ungkap Prof Ari, saat edukasi media Yayasan Gastroenterologi Indonesia, di Kuningan, Jakarta, pada Selasa, 9 Desember 2025.

Stres bukan sebagai penyebab, tetapi menjadi faktor yang bisa membuat IBD kambuh. Stres yang dialami seseorang bisa disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari tekanan pikiran hingga waktu tidur yang kurang.

“IBD ini bisa kambuh karena faktor psikologis. Faktor psikologis ini juga bukan hanya karena pikiran ya, karena ada juga pasien yang kurang tidur, itu juga jadi faktor stres,” tuturnya.

“Beban pekerjaan cukup besar, berat yang harus diselesaikan juga bisa mempengaruhi stres daripada pasien tersebut. Jadi bukan stres yang bikin IBD, tapi IBD ini bisa kambuh karena stres sebagai pencetusnya,” jelasnya.

Oleh karena itu, Prof Ari menegaskan bahwa stres yang terjadi tidak boleh dianggap remeh, terutama bagi pasien IBD. Stres tersebut sebaiknya dikendalikan agar mereda dan tidak mengganggu kambuhnya penyakit IBD.

“Jadi stres nggak boleh dianggap sederhana. Parah kalah stres tidak dikendalikan,” pungkas Prof Ari.