Bagikan:

JAKARTA - Pernah terbangun dengan perasaan seperti “tadi aku mimpi sesuatu, tapi apa ya?” Lalu, dalam hitungan menit, gambaran itu lenyap begitu saja, seolah tidak pernah terjadi. Banyak orang bertanya-tanya, apakah mereka sebenarnya jarang bermimpi, atau justru otaknya “pelupa”? Kabar baiknya, hampir semua ahli sepakat: setiap orang bermimpi setiap malam. Bedanya, ada yang lebih mudah mengingat, ada yang merasa seolah malamnya “kosong”.

Berikut ini VOI, disadur dari Very Well Mind, Rabu, 19 November, akan membahas mengapa seseorang bisa cepat lupa mimpi, faktor apa saja yang membuat seseorang sulit mengingatnya, dan bagaimana cara melatih diri agar lebih akrab dengan dunia mimpi.

Secara alami, mimpi paling sering terjadi saat Anda memasuki fase tidur REM (rapid eye movement), yaitu fase ketika otak kembali aktif, mata bergerak cepat di balik kelopak, dan otot tubuh justru sangat rileks. Pada fase ini, mimpi biasanya terasa paling hidup dan penuh cerita. Namun, meski otak sedang sibuk memproduksi “film” dalam tidur, ingatan Anda tidak selalu ikut aktif. Jika transisi dari tidur REM ke tahap tidur lain berlangsung mulus tanpa Anda benar-benar terbangun, isi mimpi bisa menguap sebelum sempat diproses sebagai memori jangka panjang. Beberapa hal juga dapat mengganggu jumlah dan kualitas tidur REM, misalnya penggunaan obat tertentu, terutama antidepresan, maupun konsumsi alkohol yang dapat menekan fase REM sebelum efeknya hilang.

Lalu, mengapa terkadang Anda justru mendadak sering mengingat mimpi? Misalnya ketika terbangun karena alarm di pagi hari, atau terjaga beberapa kali di malam hari. Saat tidur REM terpotong secara tiba-tiba, Anda cenderung bangun tepat setelah sebuah mimpi selesai, sehingga isinya masih “hangat” dan lebih mudah terekam. Gangguan tidur seperti sleep apnea, gerakan anggota tubuh yang berlebihan, atau kebiasaan mendengkur juga dapat memecah tidur dan membuat mimpi lebih sering terbawa sampai bangun. Pada sebagian orang, temanya bahkan terasa dramatis, seperti mimpi tenggelam atau tersedak, yang mungkin berkaitan dengan sensasi tubuh saat pernapasan terganggu.

Di luar faktor teknis tidur, otak juga memang dirancang untuk “membersihkan” pengalaman mimpi dengan cepat. Saat terbangun, fokus berpindah ke rutinitas pagi: meraih ponsel, memikirkan pekerjaan, atau menyiapkan anak berangkat sekolah. Aktivitas dan stimulasi baru ini menggeser sinyal-sinyal listrik dan kimia yang tadi membentuk mimpi, sehingga ingatan mimpi pun memudar seperti tulisan di pasir yang tersapu ombak. Hanya mimpi yang sangat berkesan, entah karena lucu, aneh, atau sarat emosi yang cenderung bertahan lebih lama. Mimpi dengan muatan rasa takut atau cemas, misalnya, sering kali lebih melekat karena melibatkan amigdala, bagian otak yang memproses emosi intens.

Kesulitan mengingat mimpi juga kadang berkaitan dengan kondisi kesehatan tertentu. Gangguan tidur seperti sleep apnea, insomnia, hingga narcolepsy dapat memengaruhi struktur tidur malam dan mengubah pola munculnya mimpi. Dalam beberapa kasus, pengobatan gangguan tidur dengan terapi seperti CPAP dapat memicu “rebound” fase REM, sehingga mimpi terasa lebih jelas dan sering diingat. Di sisi lain, kebiasaan tidur yang berantakan, stres berkepanjangan, dan kondisi psikologis tertentu dapat memecah tidur menjadi potongan-potongan pendek sehingga mimpi terasa lebih sering hadir, meski tidak selalu menyenangkan. Jika muncul keluhan lain seperti kantuk berat di siang hari, sering tersedak saat tidur, atau terbangun dengan napas terengah, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga kesehatan atau spesialis tidur untuk evaluasi lebih lanjut.

Bagi Anda yang penasaran dengan isi mimpi, kabar baiknya, kemampuan mengingat mimpi bisa dilatih. Langkah paling sederhana adalah membuat jurnal mimpi. Letakkan buku catatan dan pena di samping tempat tidur, lalu biasakan menulis apa pun yang Anda ingat segera setelah bangun, bahkan jika hanya satu kata, satu adegan, atau satu emosi. Semakin sering Anda melatih otak untuk “menangkap” mimpi, semakin kuat sinyal pada otak bahwa mimpi adalah informasi yang penting untuk disimpan. Selain itu, menerapkan kebiasaan tidur sehat juga membantu: jam tidur dan bangun yang teratur, kamar yang nyaman, sejuk, dan minim gangguan, serta mengurangi paparan layar gadget dan rangsangan berlebihan menjelang tidur agar otak lebih siap memasuki fase tidur yang dalam dan berkualitas.

Untuk melengkapi, cobalah menjadikan mimpi sebagai bahan obrolan ringan di pagi hari. Menceritakan mimpi kepada pasangan, keluarga, atau bahkan hewan peliharaan dapat membantu menguatkan ingatan, sekaligus membuka ruang refleksi tentang apa yang tengah memenuhi pikiran dan hati Anda akhir-akhir ini. Tidak ada kewajiban untuk selalu mengingat mimpi tidur yang nyenyak tetap menjadi prioritas utama. Namun, memahami bahwa sulit mengingat mimpi adalah hal yang normal dapat membuat Anda lebih tenang, berhenti menyalahkan diri sendiri, dan mulai menikmati hubungan yang lebih santai dengan dunia mimpi. Siapa tahu, di antara mimpi yang sesekali berhasil Anda tangkap, terselip pentunjuk halus tentang kebutuhan emosional, kekhawatiran, atau harapan yang mungkin luput Anda sadari saat terjaga.