Bagikan:

JAKARTA - Kesadaran terhadap kanker payudara kini menjadi semakin penting di tengah meningkatnya angka kejadian penyakit ini di seluruh dunia. Meski sudah banyak kampanye edukasi dilakukan, masih banyak perempuan yang belum rutin melakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) atau skrining medis, padahal deteksi dini terbukti dapat menyelamatkan nyawa.

Menurut data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) tahun 2022, kanker payudara merupakan jenis kanker yang paling banyak menyerang perempuan di dunia. Setiap tahun tercatat sekitar 2,3 juta kasus baru, atau sekitar 11,6% dari seluruh kasus kanker pada wanita, dengan 666 ribu kematian akibat penyakit ini.

Di Indonesia, situasinya juga mengkhawatirkan. Setiap tahun diperkirakan ada 400 ribu kasus baru kanker, dengan 240 ribu di antaranya berujung pada kematian. Jumlah kasus diperkirakan bisa meningkat hingga 70 persen pada tahun 2050 jika langkah pencegahan dan deteksi dini tidak diperkuat. Kondisi ini tentu berdampak besar, tidak hanya bagi sistem kesehatan, tetapi juga terhadap beban sosial dan ekonomi masyarakat.

dr. Agnes, Kepala Departemen Medical Check Up MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, menuturkan banyak kasus kanker payudara ditemukan secara tidak sengaja ketika pasien menjalani pemeriksaan kesehatan rutin.

"Sering kali pasien baru mengetahui adanya kanker payudara saat sudah stadium lanjut, karena tidak ada gejala yang dirasakan. Padahal hal ini bisa dicegah bila pemeriksaan SADARI dilakukan secara rutin, atau dengan mammografi setahun sekali setelah usia 40 tahun,” jelasnya.

Sementara itu, dr. Nina I.S.H. Supit, Sp.Rad PRP (K), Kepala Departemen Radiologi MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, menekankan bahwa mammografi masih menjadi metode paling akurat (gold standard) untuk skrining kanker payudara.

"Dengan teknologi terbaru, mammografi dapat mendeteksi tumor berukuran sangat kecil, bahkan hingga 0,2 milimeter,” jelas dr. Nina.

Namun, menurutnya, tantangan terbesar justru terletak pada akses dan edukasi masyarakat. Masih banyak perempuan yang enggan melakukan mammografi karena mitos yang beredar, seperti takut sakit atau khawatir pemeriksaan justru memperparah kondisi.

"Saat ini sudah tersedia teknologi mammografi yang lebih nyaman dan cepat, seperti Mammomat B.brilliant di MRCCC, yang menghasilkan gambar berkualitas tinggi tanpa rasa tidak nyaman berlebihan,” tambahnya.

Lebih lanjut, dr. Nina menegaskan pentingnya edukasi berkelanjutan mengenai deteksi dini.

"Untuk usia di bawah 40 tahun, pemeriksaan bisa dilakukan dengan USG payudara, sedangkan usia di atas 40 tahun sebaiknya rutin menjalani mammografi. Deteksi dini akan mencegah kanker ditemukan di stadium lanjut yang sulit diobati dan memerlukan biaya tinggi,” paparnya.

Dari sisi kebijakan publik, Dr. Siti Nadia Tarmizi, Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, menjelaskan bahwa kanker payudara tidak hanya menjadi persoalan medis, tetapi juga sosial dan ekonomi.

"Biaya pengobatan yang tinggi dan dampak psikologis bagi pasien serta keluarga menjadikan kanker payudara tantangan besar. Sebagian besar pasien datang saat stadium lanjut, sehingga keberhasilan pengobatan menurun. Karena itu, kami meluncurkan Rencana Aksi Nasional Kanker 2024–2034 untuk memperkuat skrining dan deteksi dini,” ujarnya.

Saat ini, cakupan pemeriksaan mammografi di Indonesia masih tergolong rendah. Dari sekitar 3.000 rumah sakit, hanya sekitar 200 yang memiliki alat mammografi.

"Kami berkomitmen untuk memastikan setiap rumah sakit provinsi memiliki alat mammografi. Selain itu, kami juga terus mendorong edukasi SADARI (pemeriksaan payudara sendiri) dan SADANIS (pemeriksaan payudara klinis) agar penemuan dini kasus semakin meningkat,” tambah dr. Siti Nadia.

Pendekatan Multidisiplin dalam penanganan kanker payudara

Untuk pasien dengan kanker payudara stadium lanjut, pendekatan multidisiplin kini menjadi strategi penanganan utama. DR. dr. Andhika Rahman, SpPD-KHOM, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi Onkologi Medik MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, menjelaskan bahwa kolaborasi lintas bidang ini memberikan hasil yang lebih optimal bagi pasien.

"Pendekatan multidisiplin melibatkan berbagai dokter spesialis dan tenaga pendukung untuk memberikan perawatan yang menyeluruh tidak hanya mengobati penyakitnya, tetapi juga menjaga kondisi fisik, mental, dan kualitas hidup pasien,” tuturnya.

Pada kanker stadium lanjut, di mana penyakit telah menyebar ke jaringan sekitar atau organ lain (metastasis), pengobatan tidak lagi berfokus hanya pada tumor utama.

"Tujuannya adalah mengontrol penyebaran kanker, mengurangi gejala seperti nyeri atau sesak napas, mempertahankan fungsi organ, dan memastikan pasien tetap memiliki kualitas hidup yang baik,” kata dr. Andhika.

Pendekatan multidisiplin kini diakui sebagai standar emas dalam perawatan kanker stadium lanjut di berbagai rumah sakit besar dunia, termasuk di Indonesia. Kolaborasi lintas bidang, pasien diharapkan dapat menjalani pengobatan yang lebih personal, efektif, dan manusiawi memberikan harapan baru bagi mereka yang berjuang melawan kanker payudara.