Bagikan:

JAKARTA - Kanker payudara saat ini masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada perempuan, baik secara global maupun di Indonesia. Berdasarkan Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) tahun 2022, terdapat 66.271 kasus baru kanker payudara, menyumbang 16,2 persen dari seluruh kasus kanker di Indonesia, serta menduduki peringkat pertama dalam jumlah kasus baru.

Padahal, tingkat kesembuhan kanker payudara sebenarnya tinggi jika dideteksi sejak dini. Namun, tantangan skrining dini ini masih banyak, mulai dari para perempuan yang enggan dan tidak memahami kondisinya, hingga mitos terkait alat skriningnya yakni mammografi.

Mammografi merupakan golden standard atau standar emas skrining kanker payudara yang menggunakan sinar-X dosis rendah. Alat ini berguna untuk menangkap gambar jaringan payudara seperti tumor kecil yang tidak dapat diraba dengan tangan.

Perlu diketahui bahwa penggunaan radiasi pada mammografi sangat aman untuk tubuh manusia, tidak seperti mitos yang beredar. Kepala Departemen Radiologi MRCCC, dr. Nina I.S.H. Supit, Sp.Rad PRP (K), mengatakan bahwa penggunaan alat mammografi di semua rumah sakit dunia sudah melalui pemeriksaan detail dari badan internasional yang berwenang.

“Kalau nggak aman, nggak ada dong mammografi. Ini karena izin dari mammografi untuk semua vendor, harus ada izin dari badan internasional. Dan mereka itu memeriksanya dengan detail, karena radiasi itu akan diberikan ke manusia dan sedikit,” ungkap Dokter Nina, saat ditemui di Semanggi, Jakarta, ditulis pada Kamis, 2 Oktober 2025.

Dokter Nina juga mengatakan bahwa paparan radiasi mammografi saat memeriksa kondisi payudara sangatlah kecil. Jumlah tersebut bahkan setara dengan paparan alami radiasi lingkungan selama tujuh minggu.

“Setiap pemeriksaan mammografi, payudara kanan dan payudara kiri dilakukan dua posisi, itu pasien menerima 0,4 milisievert (mSv). Itu dalam batas yang diakui boleh dilakukan,” ungkapnya.

“Sebetulnya radiasi yang kita terima misal jalan-jalan di luar, itu lebih besar dibandingkan dengan pemeriksaan mammografi satu tahun sekali,” tambahnya.

Oleh karena itu, dianjurkan kepada para perempuan untuk tidak takut memeriksakan kondisi payudaranya, terlebih jika sudah merasakan perubahan ketika melakukan pemeriksaan mandiri. Dengan skrining lebih awal, maka peluang kesembuhan dari kanker payudara akan lebih tinggi.

“Jangan takut untuk perempuan yang merasa ada benjolan di payudara. Lebih cepat terdeteksi, maka semakin bagus,” pungkas Dokter Nina.