YOGYAKARTA - Penyakit kanker menjadi penyebab kematian yang paling utama di banyak negara. Menurut Cancer Research, satu dari dua orang di Inggris didiagnosis menderita penyakit ini seumur hidup mereka.
Namun, kebanyakan jenis kanker memerlukan waktu bertahun-tahun untuk berkembang. Misalnya beberapa jenis kanker yang banyak diderita wanita dan terkenal sangat mematikan, seperti kanker payudara dan rahim.
Kanker yang Banyak Diderita Wanita
Dilansir dari Healthy, ada beberapa jenis kanker pada wanita yang paling banyak terjadi, di antaranya:
Kanker Payudara
Kanker payudara yaitu jenis kanker pada wanita yang paling banyak terjadi di seluruh dunia. Pada 2018, kanker payudara menyumbang 25,4 persen dari total kasus kanker baru yang terdiagnosis.
Sayangnya, banyak wanita tidak memeriksa payudara mereka secara teratur untuk memastikan adanya perubahan. Sebuah studi pada tahun 2019 oleh Bupa dan HCA Healthcare UK menjelaskan bahwa satu dari empat wanita mengakui bahwa mereka tidak pernah memeriksa payudara mereka atau tidak dapat mengingat kapan mereka melakukannya terakhir kali.
Oleh karena itu, para wanita harus memahami kondisi payudara sendiri, memahami bagaimana tampilan dan rasanya. Dengan demikian, Anda dapat menyaksikan perubahan apa pun dan melaporkannya ke dokter dengan cepat agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Mammogram merupakan tes terbaik untuk menemukan kanker payudara sejak dini. Para ahli menyarankan agar wanita menerima mammogram setiap dua tahun sekali jika berusia 50 hingga 74 tahun dan mempunyai risiko terpapar kanker payudara.
Kanker Endometrium
Jenis kanker yang banyak diderita wanita selanjutnya yaitu kanker endometrium. Jenis kanker yang terjadi pada endometrium (lapisan dalam rahim). Risiko kanker endometrium meningkat seiring pertambahan usia wanita. Hal-hal yang memengaruhi kadar hormon, seperti mengonsumsi estrogen tanpa progesteron dan mengonsumsi tamoxifen untuk pengobatan kanker payudara atau untuk mengurangi risiko kanker payudara dapat meningkatkan peluang wanita terpapar kanker jenis ini.
Beberapa hal dapat meningkatkan risiko, antara lain menopause terlambat, memiliki periode menstruasi yang lebih awal, riwayat ketidaksuburan, atau tidak mempunyai anak. Wanita dengan riwayat keluarga dari kanker kolorektal non-poliposis herediter (HNPCC atau sindrom Lynch) atau sindrom ovarium polikistik (PCOS), atau mereka yang mengalami obesitas, juga mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk terpapar kanker endometrium. Wanita yang pernah mengidap kanker payudara atau kanker ovarium mungkin juga mempunyai peningkatan risiko kanker endometrium.
see_also]
- https://voi.id/lifestyle/507613/bosan-overweight-kenali-minuman-jepang-pembakar-lemak-untuk-menurunkan-berat-badan-secara-alami
- https://voi.id/info-sehat/507441/trik-membuat-jus-agar-lebih-segar-hindari-7-kesalahan-ini
- https://voi.id/lifestyle/506896/inovasi-unik-tambahkan-kulit-jeruk-bikin-kopi-hitam-makin-wangi-dan-nikmat
- https://voi.id/lifestyle/506794/3-minuman-yang-bantu-bikin-kulit-lebih-sehat-dan-cerah
- https://voi.id/info-sehat/504021/7-khasiat-rutin-minum-kopi-kunyit-wajib-masuk-menu-harian
Kanker Kolorektal
Kanker kolorektal adalah kanker yang menginfeksi usus besar atau rektum. Beberapa faktor yang meningkatkan risiko kanker kolorektal antara lain ketidakaktifan fisik, kelebihan berat badan atau obesitas, diet tinggi daging merah dan olahan, penggunaan alkohol berat, merokok, pertambahan usia, dan riwayat pribadi atau keluarga dari kanker kolorektal atau polip.
Skrining kanker kolorektal secara teratur menjadi salah satu senjata paling ampuh untuk melawan kanker kolorektal. Umumnya, kanker kolorektal diawali dengan polip, yaitu pertumbuhan kecil di lapisan usus besar atau rektum. Skrining dapat membantu mendeteksi kanker kolorektal sejak dini. Jika memiliki ukuran yang lebih kecil, belum menyebar, dan mungkin lebih mudah diobati.
Kanker Serviks
Infeksi kronis oleh jenis human papillomavirus (HPV) tertentu menjadi faktor risiko untuk kanker serviks. Anda dapat tertular HPV melalui kontak kulit-ke-kulit yang intim, misalnya melakukan hubungan seks vaginal, anal, atau oral dengan seseorang yang terpapar virus.
Faktor risiko lain untuk kanker serviks termasuk merokok, mempunyai sistem kekebalan yang lemah, mengalami infeksi klamidia, kelebihan berat badan, terpapar atau menggunakan perawatan hormon tertentu, dan tidak melakukan tes skrining kanker serviks secara teratur.
Dua tes skrining dapat mencegah kanker serviks atau menemukannya sejak dini. Tes Pap (atau Pap smear) mencari perubahan sel pada serviks yang mungkin menjadi kanker serviks jika tidak mendapatkan penanganan dengan tepat. Tes HPV mencari virus (human papillomavirus) yang dapat mengakibatkan perubahan sel ini.
Jika Anda berusia 21 hingga 29 tahun dan aktif secara seksual, Anda harus menjalani tes Pap secara teratur. Sementara jika Anda berusia 30 hingga 65 tahun, Anda bisa menjalani tes Pap, tes HPV, atau keduanya sekaligus. Jika Anda lebih tua dari 65, bisa jadi Anda tidak perlu melakukan skrining lagi jika memiliki hasil tes skrining yang normal selama beberapa tahun.
Demikianlah ulasan mengenai apa yang terjadi jika karies gigi dibiarkan​. Semoga informasi ini bermanfaat! Kunjungi VOI.id untuk mendapatkan informasi menarik lainnya.