Eksklusif, Ketum APPBI Alphonzus Widjaja Ungkap 50% Omzet Setahun Didapat saat Ramadan
Bagi pengelola pusat perbelanjaan dan sektor ritel, Ramadan yang dilanjutkan dengan Idulfitri adalah momen yang amat penting. Soalnya, kata Alphonzus Widjaja selaku Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), 50% omzet mereka setahun ditargetkan didapat dari musim ini. Karena itu, semua berlomba mengoptimalkan musim panen raya ini.
***
Karena musim Ramadan dan Idulfitri ini penting, tak jarang pusat perbelanjaan menyiapkannya tiga bulan sebelumnya, bahkan ada yang lebih dari itu. “Di Indonesia, momen Ramadan dan Idulfitri adalah puncak penjualan ritel. Setelah itu, momen Natal dan Tahun Baru. Jadi, Ramadan dan Idulfitri amat penting bagi pelaku bisnis ritel dan pusat perbelanjaan untuk mendapatkan penjualan yang maksimal,” katanya.
Beragam program promo ditawarkan untuk membuat pengunjung berbelanja. Ada juga program buy one get one atau buy one get two, penambahan point reward khusus Ramadan dan Idulfitri dengan double point atau bahkan triple point. Bahkan, pusat perbelanjaan tertentu menggelar program midnight sale dan parkir gratis. Semua dimanfaatkan untuk memaksimalkan momentum Ramadan dan Idulfitri.
“Soalnya, kalau momen Ramadan dan Idulfitri ini terlewat, omzet secara tahunan akan terganggu. Target setahun tidak tercapai kalau momen Ramadan dan Idulfitri ini hilang. Ramadan dan Idulfitri ini menyumbang 50% omzet sepanjang setahun,” ungkap Alphonzus Widjaja.
Untuk Ramadan dan Idulfitri, target penjualan yang dipatok tak main-main. “BINA Lebaran 2025 ini berlangsung 14 Maret sampai 30 Maret 2025, target kami Rp36,2 triliun penjualan. Semoga ini bisa tercapai meski daya beli masyarakat masih lemah,” katanya.
Selain itu, ia juga berbicara soal bagaimana sebuah pusat perbelanjaan bisa bertahan dan bahkan menjadi pemenang di bisnis ini. “Realitasnya, ada pusat perbelanjaan yang tidak menyediakan tempat interaksi sosial secara layak. Risikonya, mereka tidak akan dipilih oleh masyarakat. Makanya, di Jakarta dan sekitarnya ada pusat perbelanjaan yang semakin ramai, tapi ada juga yang semakin sepi. Kata kuncinya, pengusaha pusat perbelanjaan harus bisa merespons perubahan dan, langkah berikutnya, menciptakan perubahan sebelum perubahan itu datang,” katanya kepada Edy Suherli, Bambang Eros, dan Irfan Meidianto dari VOI yang menemuinya di Hotel InterContinental Jakarta Pondok Indah, 17 Maret.
Jika ditotal omzet selama satu tahun, kata Ketum APPBI Alphonzus Widjaja , 50% nya diperoleh di saat musim Ramadan dan Idulfitri. (Foto Bambang Eros – VOI, DI: Raga Granada – VOI)
Ramadan dan jelang Lebaran menjadi puncak belanja masyarakat. Apa langkah konkret yang dilakukan pengusaha pusat perbelanjaan untuk memanfaatkan momen ini?
Di Indonesia, momen Ramadan dan Idulfitri adalah puncak penjualan ritel. Setelah itu, momen Natal dan Tahun Baru. Jadi, Ramadan dan Idulfitri amat penting bagi pelaku bisnis ritel dan pusat perbelanjaan untuk mendapatkan penjualan yang maksimal. Karena itu, para retailer menyiapkan momen ini tiga bulan sebelumnya, bahkan ada yang lebih.
Puncak penjualan ini biasanya terjadi satu hingga dua minggu sebelum Idulfitri, sebelum orang mudik. Saat itu, orang sudah menerima THR, jadi daya beli langsung meningkat. Puncaknya terjadi pada 14–23 Maret. Senin, 24 Maret mulai melandai karena sudah masuk persiapan mudik. Penjualan meningkat kembali di hari kedua Idulfitri, kebetulan liburnya panjang. Sampai 6 atau 7 April, penjualan akan meningkat. Pusat perbelanjaan sudah menyiapkan semua ini dengan berbagai strategi, seperti diskon dan aktivitas off-air di pusat perbelanjaan.
Untuk program diskon, apa saja yang ditawarkan?
Diskon hanya salah satu strategi. Ada juga program buy one get one atau buy one get two. Selain itu, ada penambahan point reward, khusus Ramadan dan Idulfitri dengan double point atau bahkan triple point. Sejumlah pusat perbelanjaan juga menawarkan promo tambahan seperti midnight sale dan parkir gratis. Semua dimanfaatkan untuk memaksimalkan momentum Ramadan dan Idulfitri.
Soalnya, kalau momen Ramadan dan Idulfitri ini terlewat, omzet secara tahunan akan terganggu. Target setahun tidak tercapai kalau momen Ramadan dan Idulfitri ini hilang. Ramadan dan Idulfitri menyumbang 50% omzet sepanjang setahun.
Saat ini daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah terganggu. Bagaimana menyikapi keadaan ini?
Sebenarnya, sejak awal 2024 daya beli sudah terganggu. Namun, pada semester satu masih cukup tertolong oleh Tahun Baru, Imlek, dan Pilpres. Apalagi, Pilpres berlangsung aman, terkendali, dan kondusif. Keadaan ini bagus untuk penjualan sektor ritel. Setelah itu, berlanjut dengan momen Ramadan dan Idulfitri. Penurunan daya beli mulai terasa pasca-Lebaran 2024 dan terus melandai hingga kembali meningkat menjelang Natal dan Tahun Baru. Low season tahun lalu cukup dalam. Mengapa saya sebut dalam? Karena daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah ke bawah, turun signifikan.
Tahun ini, karena Ramadan dan Idulfitri datang lebih awal, low season juga akan lebih panjang. Daya beli masyarakat saat ini belum pulih. Karena itu, ada program tambahan, salah satunya yang diinisiasi oleh Kemenko Perekonomian dengan meluncurkan program BINA Lebaran (Belanja di Indonesia Aja edisi Lebaran). Program ini bekerja sama dengan APPBI dan Hippindo. Sebelumnya ada BINA Natal dan Tahun Baru, setelah Lebaran akan dilanjutkan dengan program BINA lainnya.
Untuk penjualan musim Ramadan dan Idulfitri 2025 ini, berapa targetnya?
BINA Lebaran 2025 berlangsung pada 14 Maret hingga 30 Maret 2025. Target kami adalah Rp36,2 triliun penjualan. Semoga ini bisa tercapai meski daya beli masyarakat masih lemah.
Saat ini pemerintah meluncurkan kebijakan efisiensi ketat. Adakah pengaruhnya pada tingkat pembelian di mal dan sektor ritel modern lainnya?
Ada dampaknya, meski tidak secara langsung. Yang terdampak langsung adalah industri perhotelan dan transportasi. Sektor ritel terkena efek domino dari kebijakan efisiensi ketat ini.
Pada momentum Ramadan dan Idulfitri 2025 terang Ketum APPBI Alphonzus Widjaja, mereka menargetkan penjualan Rp36,2 triliun. (Foto Bambang Eros – VOI, DI: Raga Granada – VOI)
APBN yang baru diumumkan Menkeu Sri Mulyani defisit. Seperti apa Anda melihatnya dari sisi sektor riil?
Tahun-tahun sebelumnya APBN kita surplus, namun saat ini mengalami defisit. Ini juga menjadi perhatian kami. Ada pelemahan ekonomi, dan kondisi ini kalau terus berlanjut akan berdampak juga pada sektor ritel. Kami mewaspadai kondisi ini. Mudah-mudahan pemerintah segera mengambil langkah atau gebrakan sehingga kondisi ini bisa tertolong.
Jadi untuk musim Ramadan dan Idulfitri ini kami tak terlalu khawatir. Yang menjadi kekhawatiran kami adalah pasca-Lebaran. Karena low season akan panjang sekali, sampai jelang Natal dan Tahun Baru baru bangkit lagi. Jadi low season itu jangan sampai panjang dan dalam.
Dari sisi pengusaha, apa yang akan dilakukan menghadapi low season yang panjang itu?
Kami akan melakukan gebrakan dengan mengadakan promo belanja. Di antara Idulfitri sampai Natal itu akan kami pilah-pilah, akan ada program promo belanja agar low season tak terasa panjang. Tapi persoalan utamanya tetap meningkatkan daya beli masyarakat yang lemah. Dari sisi kami, meskipun menggelar aneka promo, kalau daya beli lemah, juga tak bisa berbuat banyak.
Setelah Idulfitri ada momentum libur sekolah, lalu ada 17 Agustus, setelah itu akan ada dua program di bulan September dan Oktober. Kami akan membuat tema-tema khusus di dua bulan sebelum musim Natal dan Tahun Baru.
Bagaimana sinergi pusat perbelanjaan dengan UMKM?
Selama ini sudah terjadi sinergi antara UMKM dan pusat perbelanjaan. Untuk pusat perbelanjaan kelas atas, keterlibatannya sekitar 5%. Kelas menengah: 36%, dan kelas bawah: 60%. Mayoritas pusat perbelanjaan di Indonesia didominasi kelas menengah dan bawah, persentasenya 95%. Sisanya baru kelas atas. Jadi UMKM sudah masuk ke pusat perbelanjaan dan sudah bersinergi selama ini, hanya saja untuk kelas atas memang sedikit.
Bagaimana pandangan Anda soal masa depan pusat perbelanjaan di Jakarta dan kota besar lainnya, mengingat adanya perubahan perilaku konsumen pascapandemi dan meningkatnya tren belanja online?
Pusat perbelanjaan di Indonesia masih tumbuh sangat baik dan sangat prospektif, meskipun belanja online semakin marak. Sebelum COVID-19, penjualan online itu dilakukan secara sukarela. Namun, semasa COVID-19 semua terpaksa melakukannya agar tetap bisa berjualan, karena semua dilarang bertatap muka dalam masa PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat). Setelah PPKM dicabut, yang pertama kali dicari masyarakat bukan belanja, melainkan mal. Masyarakat ingin berinteraksi sosial secara langsung, bukan di dunia maya. Tempatnya ya di pusat perbelanjaan, karena fasilitas publik di Indonesia masih belum memadai. Jangan heran saat akhir pekan, restoran dan kafe di pusat perbelanjaan penuh oleh orang tua, anak, cucu, mantu, dan lainnya.
Realitasnya, ada pusat perbelanjaan yang tidak menyediakan tempat interaksi sosial secara layak. Risikonya, mereka tidak akan dipilih oleh masyarakat. Makanya, di Jakarta dan sekitarnya ada pusat perbelanjaan yang semakin ramai, tapi ada juga yang semakin sepi.
Berarti ini tantangan bagi pengelola pusat perbelanjaan untuk memperbaiki tempatnya?
Satu lagi, pusat perbelanjaan itu sangat identik dengan gaya hidup yang berkembang pesat. Fungsi pusat perbelanjaan bukan sekadar tempat belanja. Kalau hanya untuk belanja, orang bisa belanja online saja. Fungsi lain pusat perbelanjaan adalah memberikan experience atau customer journey.
Selama pandemi COVID-19 lalu, ada sekitar 20-30% pelanggan yang tak kembali ke pusat perbelanjaan. Bagaimana kami bisa menarik mereka kalau pusat perbelanjaan hanya sekadar tempat belanja? Maka dari itu, pusat perbelanjaan harus menawarkan experience. Saat ini yang paling relevan adalah memberikan tempat berinteraksi kepada masyarakat. Istilahnya menjadi social connection hub.
यह भी देखें:
Jadi pusat perbelanjaan yang berfungsi sebagai social connection hub tak takut dengan belanja online?
Tidak, karena kami menawarkan hal yang tidak bisa diberikan oleh belanja online. Kalau pusat perbelanjaan hanya berfungsi sebagai tempat belanja, tentu kalah segalanya dari belanja online yang cepat, simpel, dan semua tersedia dalam genggaman.
Pengelola pusat perbelanjaan idealnya merespons hal ini. Namun, tak semua bisa karena faktor biaya. Contoh konkret adalah Sarinah. Tempat ini diubah sedemikian rupa menjadi tempat orang berkumpul dengan fungsinya sebagai social connection hub. Jadi, jangan menyimpulkan bisnis pusat perbelanjaan suram hanya karena ada beberapa yang tutup atau sepi. Di tempat lain, justru ada yang sangat ramai.
Apakah ini bisa dikatakan seleksi alam, di mana pusat perbelanjaan yang bagus akan berkembang dan yang tidak bagus akan ditinggalkan?
Saya tidak setuju dengan istilah seleksi alam. Sebab, ini berhubungan dengan kesiapan pengelola pusat perbelanjaan dalam beradaptasi dengan perubahan. Yang diperlukan adalah kemampuan merespons perubahan yang terjadi agar bisa bertahan. Jadi, harus selalu melatih diri menghadapi hal-hal yang tak terduga.
Kalau ingin lebih maju dan menjadi market leader, pengelola pusat perbelanjaan harus menciptakan perubahan sebelum perubahan itu terjadi. Sudah ada yang melakukan ini, contohnya The Breeze BSD City yang menerapkan konsep terbuka, mall without wall. Mereka mulai beroperasi pada 2013. Saat COVID-19, tingkat kunjungan mereka justru jauh lebih tinggi dibanding sebelum pandemi.
Anda bilang bisnis pusat perbelanjaan masih prospektif. Apa lagi yang melandasi hal itu?
Jika kita melihat rasio pusat perbelanjaan dengan jumlah penduduk di Indonesia, kita masih tertinggal dibanding negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand.
Saat ini, anggota APPBI di Indonesia berjumlah 402. Dari jumlah tersebut, 250 ada di Jawa dan Bali, dengan 150 di antaranya berlokasi di Jakarta. Sementara itu, 182 pusat perbelanjaan lainnya tersebar di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, dan daerah lainnya. Artinya, masih ada peluang besar bagi industri pusat perbelanjaan untuk terus berkembang.
Selain social connection hub, dari mana lagi experience atau customer journey bisa didapat?
Dari konsep gedung yang hijau, terbuka, dan lain-lain. Bisa juga dari keberagaman tenant seperti kafe, restoran, bioskop, wahana permainan anak, bahkan ada yang menawarkan akuarium raksasa dan atraksi lainnya.
Apakah pusat perbelanjaan sudah menggunakan artificial intelligence (AI) untuk meningkatkan pengalaman berbelanja dan menarik minat konsumen?
AI ini tak bisa dihindari dan akan semakin menguasai kehidupan manusia di dunia, termasuk dalam pengelolaan pusat perbelanjaan. Namun, saat ini penggunaannya belum terlalu masif. Sejauh ini, AI masih lebih banyak digunakan dalam pengoperasian gedung, belum menyentuh langsung pelanggan.
Kami kini mengarah pada konsep sustainable shopping mall, yaitu pengelolaan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Jika Jakarta ingin menjadi global city setelah tak lagi menjadi ibu kota, maka harus bertransformasi menjadi kota yang berkelanjutan. Pusat perbelanjaan pun harus mengarah pada konsep terbuka dan memanfaatkan cahaya alami. Dari sisi energi, kami mulai beralih ke sumber energi baru dan terbarukan.
Dari segi pelanggan, ada dua kelompok: pengunjung dan penyewa tempat (retailer). Kata kuncinya adalah, pengusaha pusat perbelanjaan harus bisa merespons perubahan, lalu pada tahap berikutnya menciptakan perubahan sebelum perubahan itu datang.
Ini menarik. Sekarang dari sisi pengunjung, apa yang akan dilakukan?
Kami akan mendorong mereka untuk menggunakan transportasi umum atau kendaraan listrik saat ke pusat perbelanjaan guna mengurangi polusi. Sementara dari sisi retailer, kami akan mengarahkan mereka untuk menggunakan konsep kemasan hijau yang bisa didaur ulang.
Kami ingin mengarahkan semuanya menuju environmental values. Untuk mencapai itu, AI nantinya akan berperan penting, misalnya dalam mengurangi penggunaan kertas untuk brosur, leaflet, dan tiket parkir dengan sistem digital.
Faktor komunitas juga akan kami garap untuk mendukung konsep sustainable shopping mall. Semua ini akan lebih efektif dengan bantuan teknologi AI.
Belakangan, pusat perbelanjaan di kota-kota sekitar Jakarta mulai ramai. Bagaimana Anda melihatnya?
Saya pikir ini bagus karena pusat perbelanjaan semakin mendekat ke masyarakat. Jakarta sendiri dipenuhi oleh mereka yang tinggal di Tangerang, Tangerang Selatan, Depok, Bekasi, dan Bogor.
Selain itu, harga tanah di Jakarta yang sangat tinggi juga menjadi faktor utama. Jadi, wajar jika pengembangan pusat perbelanjaan dilakukan di kota-kota sekitar Jakarta. Ini juga bisa membantu mengurangi kemacetan di ibu kota sekaligus mendorong pemerataan ekonomi di daerah penyangga yang ikut bertumbuh.
Alphonzus Widjaja dan Kiat Mengoptimalkan Potensi Karyawan
Ketum APPBI Alphonzus Widjaja sadar kalau tak ada manusia yang sempurna, karena itu ia harus mengoptimalkan kelebihan yang dimiliki karyawannya, sehingga kekurangan yang ada pada karyawan tak terlihat. (Foto Bambang Eros – VOI, DI: Raga Granada – VOI)
Alphonzus Widjaja sudah puluhan tahun berkecimpung di perusahaan yang mengelola pusat perbelanjaan. Dari pengalaman itu, ia yang kini dipercaya menjadi Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) sampai pada sebuah kesimpulan: tidak ada karyawan yang sempurna. Tugas seorang pemimpin adalah mengoptimalkan semua potensi yang dimiliki karyawan.
"Tidak ada manusia yang sempurna, saya juga tidak sempurna. Karyawan dan staf saya juga tidak ada yang sempurna karena mereka itu manusia. Karena itu, saya tidak pernah fokus pada kekurangan. Soalnya, tak akan selesai kalau kita hanya fokus pada kekurangan," terang pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat, 18 Agustus 1965 ini.
Ketika merekrut karyawan baru, dia tidak mencari yang sempurna. "Kalau itu dilakukan, kita akan frustrasi. Karena sampai kapan pun tidak akan dapat," tegas penyuka olahraga renang ini, yang menggunakannya untuk menjaga kebugaran dan elastisitas fisiknya.
Semua potensi yang ada, lanjutnya, harus diramu dan dikombinasikan agar menjadi sebuah tim yang kuat. "Saya yakin benar, di balik kekurangan seorang staf, pasti ada sebuah kelebihan. Ini yang harus dilihat dengan jeli oleh leader dan dioptimalkan, sehingga kelemahan karyawan tak terlihat," lanjut Alphonz.
Untuk bisa menjadi leader di sebuah pusat perbelanjaan, kata Alphonz, seseorang harus mengetahui semua hal tentang pusat perbelanjaan. "Dari A sampai Z harus tahu agar menjadi pengelola yang sukses," tegasnya.
Kolaborasi dengan HRD
Meski ada pusat perbelanjaan yang sepi, Ketum APPBI Alphonzus Widjaja tetap optimistis prospek bisnis pusat perbelanjaan masih bagus. (Foto Bambang Eros – VOI, DI: Raga Granada – VOI)
Alphonzus Widjaja tak menampik bahwa di kantornya ada divisi Human Resource Development (HRD) yang bertugas mengelola dan mengembangkan sumber daya manusia (SDM) di perusahaan. Namun, ia tak mau menyerahkan semuanya kepada mereka.
"Oke, ada tim HRD, tapi saya sendiri harus mengasah kemampuan untuk menilai potensi karyawan. Info awal bisa dari HRD, selanjutnya saya yang harus melihat kelebihan dan kekurangan karyawan," ujar pria yang rutin berjalan kaki untuk mengecek setiap sudut pusat perbelanjaan tempat ia berkarya.
Setelah mengetahui potensi karyawannya, ia akan mengoptimalkan kelebihan yang ada. "Setelah tahu potensi yang menonjol dari karyawan, tugas saya adalah mengoptimalkannya. Sehingga terbentuk team work yang solid. Kalau sudah begitu, kelemahan karyawan tidak akan terlihat," paparnya.
Salah satu faktor internal yang menurut Alphonz sering membuat banyak orang merasa rendah diri adalah usia. Baginya, ini adalah keniscayaan yang tak bisa dihindari. "Caranya, kita harus lebih bersemangat dan tampil beda. Usia bertambah itu akan dialami semua orang," kata CEO Retail & Hospitality NWP Property ini.
Masalah Pasti Ada, Jangan Dihindari
Menurut Ketum APPBI Alphonzus Widjaja, pusat perbelanjaan jangan bersaing dengan belanja online. Kiat yang bisa dilakukan adalah mengoptimalkan fungsi pusat perbelanjaan sebagai social community hub, yang tak dimiliki oleh belanja online. (Foto Bambang Eros – VOI, DI: Raga Granada – VOI)
Selama masih hidup di dunia ini, masalah akan selalu ada. Hal ini disadari benar oleh Alphonzus Widjaja. Karena itu, dia tidak akan menghindari masalah.
"Masalah itu akan selalu ada selama kita masih hidup di dunia ini. Kalau nggak mau ada masalah, artinya kita sudah di alam baka yang abadi. Jadi hadapi saja masalah yang muncul," ungkap Alphonz, yang punya kebiasaan untuk tidak membawa persoalan saat tidur. Menurutnya, tidur dengan pikiran jernih akan membuat seseorang bangun dalam kondisi segar dan siap menyelesaikan masalah.
"Masalah itu harus dihadapi. Itulah yang akan mengasah kemampuan kita. Pengalaman kita semakin lengkap setelah melewati berbagai masalah yang ada. Saya sudah hampir 30 tahun menangani pusat perbelanjaan. Saya beruntung bisa menangani pusat perbelanjaan yang berhasil dan yang tidak sehat diserahkan kepada saya untuk ditangani," ungkap pria yang lebih suka naik tangga di pusat perbelanjaan daripada menggunakan lift ini.
Sebagai manusia, dia tak menyangkal bahwa saat diberikan tugas menangani pusat perbelanjaan yang tidak sehat, ia sempat merasa kesal. "Namun, saya harus berkomitmen karena sudah menerima tantangan. Dan tugas saya adalah membuktikan bahwa yang saya lakukan bisa membuat keadaan menjadi lebih baik," kata Alphonzus Widjaja menyudahi perbincangan.
"Realitasnya, ada pusat perbelanjaan yang tidak menyediakan tempat interaksi sosial secara layak. Risikonya, mereka tidak akan dipilih oleh masyarakat. Makanya, di Jakarta dan sekitarnya ada pusat perbelanjaan yang semakin ramai, tapi ada juga yang semakin sepi. Kata kuncinya, pengusaha pusat perbelanjaan harus bisa merespons perubahan, dan langkah berikutnya adalah menciptakan perubahan sebelum perubahan itu datang,"