TOKYO - Pemerintah tidak hanya membawa agenda dagang dalam kunjungan Presiden ke Jepang. Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono memastikan, pertemuan dengan Perdana Menteri Jepang besok akan menyentuh sektor-sektor strategis, dari energi dan mineral kritis hingga keamanan dan situasi global.

Hari pertama kunjungan Presiden diisi pertemuan dengan Kaisar Naruhito dan sesi bisnis yang menghasilkan kerja sama ekonomi senilai US$22,6 miliar. Namun pembicaraan tingkat pemerintah, menurut Sugiono, akan bergerak lebih jauh.

“Sebagian besar urusan ekonomi mengenai apa yang tadi sudah ditandatangani. Di sektor energi dan mineral kritis, kemudian pariwisata, maritim dan keamanan, kemudian juga pendidikan,” kata Sugiono.

Ia menegaskan, Jepang tetap menjadi mitra penting bagi Indonesia. Karena itu, pembahasan besok tidak hanya berkisar pada investasi, tetapi juga kerja sama strategis antarpemerintah.

Sugiono mengatakan, isu global dan regional juga hampir pasti masuk dalam pembicaraan bilateral. Saat ditanya apakah perkembangan konflik Iran-Israel ikut dibahas, ia memberi sinyal ke arah itu. “Biasanya dalam setiap pertemuan bilateral, pasti dibahas berbagai materi. Khususnya juga akan dibahas situasi global dan regional,” ujarnya.

Soal negosiasi terkait Selat Hormuz, Sugiono menyebut proses masih berjalan. Pemerintah, kata Menlu, sudah menangkap sinyal awal yang dinilai positif, meski hasil akhirnya belum bisa dipastikan. “Yang ada sinyal positif, kita lihat nanti eksekusinya seperti apa,” kata Sugiono.


The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)