JAKARTA - The explosion that occurred at the SMAN 72 Kelapa Gading Mosque on Friday, November 7, 2025 left deep sorrow for the school environment and the community.

Masjid tersebut diketahui merupakan fasilitas internal sekolah yang hanya digunakan untuk kegiatan ibadah para siswa dan guru, bukan untuk masyarakat umum.Saksi berinisial ER (25) menjelaskan masjid tersebut adalah area tertutup.

“Masjid itu khusus untuk ibadah para pelajar, bukan untuk masyarakat umum,” ujarnya kepada VOI.

Berdasarkan informasi yang beredar, insiden tersebut didahului oleh dua suara ledakan yang menghasilkan asap tebal, masing-masing terjadi di area masjid dan pintu belakang sekolah. Dari lokasi, aparat menemukan bom rakitan, remote kontrol, hingga senjata laras panjang dan revolver.

Salah satu siswa yang enggan disebutkan namanya menyampaikan pelaku diduga merupakan siswa yang masih aktif di sekolah tersebut. Ia juga menyebutkan bahwa pelaku sebelumnya mengalami bullying atau perundungan.

“Pelakunya diduga siswa juga. Dia korban bullying. Mungkin mau balas dendam dan juga ingin bunuh diri,” ungkapnya.

Sementara itu, salah satu guru memperkirakan korban luka akibat ledakan berjumlah antara lima hingga sepuluh orang tanpa adanya korban jiwa.

Psikolog klinis Devi Yanti, M. Psi menjelaskan tindakan balas dendam pada korban bullying bukan muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi luka emosional yang tidak mendapatkan penanganan.

Menurut Devi, ada beberapa faktor psikologis yang dapat mendorong korban bullying melakukan tindakan ekstrem. Menurutnya, respon terhadap emosi yang tidak tertangani menyebabkan penumpukan emosi negatif seperti sedih, marah, sakit hati, dan rasa tidak berdaya yang tidak pernah dikelola.

“Korban sering merasa dirinya lemah. Dengan melakukan tindakan agresif, ia sedang berusaha mengubah posisi dari yang tertindas menjadi yang berkuasa',” ucapnya saat dihubungi VOI pada Jumat, 7 November 2025.

Lalu dorongan untuk menghilangkan rasa malu dan penghinaan. Malu yang tidak ditangani dapat berubah menjadi kemarahan, lalu agresif.

“Ketika tidak ada yang membela, mendengar, atau memvalidasi rasa sakitnya, korban merasa sendirian. Itu berbahaya.” ucapnya.

Selain itu, biasanya mereka sulit mengatur emosi. Gangguan psikologis akibat bullying seperti depresi, cemas hingga pikiran bunuh diri.

"Hambatan kognitif karena kemarahan, yang membuat korban berpikir bahwa 'Mereka pantas mendapatkan balasan'. Selain itu, kebutuhan untuk diakui rasa sakitnya," jelasnya.

Tak hanya itu, pengaruh media sosial, terutama konten kekerasan atau glorifikasi balas dendam.

“Secara psikologis, tindakan seperti ini adalah coping yang maladaptif. Ia mencoba menyembuhkan diri, tetapi dengan cara yang salah karena luka emosionalnya tidak pernah ditangani," tuturnya.

Devi menekankan bahwa peran sekolah, keluarga, dan lingkungan sangat penting dalam mencegah kasus seperti ini terulang. Pencegahan berfokus pada penyembuhan luka emosional, bukan hanya menghentikan tindakan bullying secara fisik.

"Dendam muncul karena luka yang tidak disembuhkan. Luka harus diobati, bukan diabaikan," katanya.

Baginya dendam akan mereda ketika korban merasa aman, didengar, dan diakui.Korban perlu diajarkan untuk bercerita kepada orang yang dipercaya.

"Identifikasi kebutuhan psikologis korban, apakah ia butuh dihargai, didukung, atau merasa aman. Lakukan reframing pengalaman bullying, agar korban tidak menilai dirinya sebagai pihak yang kalah atau tidak berharga," tuturnya.

Selain itu, ajarkan strategi mengelola emosi, misalnya mencari tempat aman, menghubungi orang terdekat, melakukan aktivitas penenang.Berikan ruang untuk proses memaafkan bukan untuk membenarkan pelaku, tetapi untuk membebaskan korban dari beban emosinya.

"Teknik relaksasi, grounding, journaling, aktivitas fisik, dan dukungan sosial sangat membantu meredakan kemarahan. Selain itu, konsultasi psikologis sangat penting.

“Intervensi seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) terbukti efektif mengurangi trauma maupun dorongan agresi," jelasnya

“Bullying bukan sekedar masalah sepele antar siswa. Ini adalah luka psikologis yang nyata. Jika tidak ditangani, dapat berubah menjadi tragedi.” tutupnya.

Masjid tersebut diketahui merupakan fasilitas internal sekolah yang hanya digunakan untuk kegiatan ibadah para siswa dan guru, bukan untuk masyarakat umum.Saksi berinisial ER (25) menjelaskan masjid tersebut adalah area tertutup.

“Masjid itu khusus untuk ibadah para pelajar, bukan untuk masyarakat umum,” ujarnya kepada VOI.

Berdasarkan informasi yang beredar, insiden tersebut didahului oleh dua suara ledakan yang menghasilkan asap tebal, masing-masing terjadi di area masjid dan pintu belakang sekolah. Dari lokasi, aparat menemukan bom rakitan, remote kontrol, hingga senjata laras panjang dan revolver.

Salah satu siswa yang enggan disebutkan namanya menyampaikan pelaku diduga merupakan siswa yang masih aktif di sekolah tersebut. Ia juga menyebutkan bahwa pelaku sebelumnya mengalami bullying atau perundungan.

“Pelakunya diduga siswa juga. Dia korban bullying. Mungkin mau balas dendam dan juga ingin bunuh diri,” ungkapnya.

Sementara itu, salah satu guru memperkirakan korban luka akibat ledakan berjumlah antara lima hingga sepuluh orang tanpa adanya korban jiwa.

Psikolog klinis Devi Yanti, M. Psi menjelaskan tindakan balas dendam pada korban bullying bukan muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi luka emosional yang tidak mendapatkan penanganan.

Menurut Devi, ada beberapa faktor psikologis yang dapat mendorong korban bullying melakukan tindakan ekstrem. Menurutnya, respon terhadap emosi yang tidak tertangani menyebabkan penumpukan emosi negatif seperti sedih, marah, sakit hati, dan rasa tidak berdaya yang tidak pernah dikelola.

“Korban sering merasa dirinya lemah. Dengan melakukan tindakan agresif, ia sedang berusaha mengubah posisi dari yang tertindas menjadi yang berkuasa',” ucapnya saat dihubungi VOI pada Jumat, 7 November 2025.

Lalu dorongan untuk menghilangkan rasa malu dan penghinaan. Malu yang tidak ditangani dapat berubah menjadi kemarahan, lalu agresif.

“Ketika tidak ada yang membela, mendengar, atau memvalidasi rasa sakitnya, korban merasa sendirian. Itu berbahaya.” ucapnya.

Selain itu, biasanya mereka sulit mengatur emosi. Gangguan psikologis akibat bullying seperti depresi, cemas hingga pikiran bunuh diri.

"Hambatan kognitif karena kemarahan, yang membuat korban berpikir bahwa 'Mereka pantas mendapatkan balasan'. Selain itu, kebutuhan untuk diakui rasa sakitnya," jelasnya.

Tak hanya itu, pengaruh media sosial, terutama konten kekerasan atau glorifikasi balas dendam.

“Secara psikologis, tindakan seperti ini adalah coping yang maladaptif. Ia mencoba menyembuhkan diri, tetapi dengan cara yang salah karena luka emosionalnya tidak pernah ditangani," tuturnya.

Devi menekankan bahwa peran sekolah, keluarga, dan lingkungan sangat penting dalam mencegah kasus seperti ini terulang. Pencegahan berfokus pada penyembuhan luka emosional, bukan hanya menghentikan tindakan bullying secara fisik.

"Dendam muncul karena luka yang tidak disembuhkan. Luka harus diobati, bukan diabaikan," katanya.

Baginya dendam akan mereda ketika korban merasa aman, didengar, dan diakui.Korban perlu diajarkan untuk bercerita kepada orang yang dipercaya.

"Identifikasi kebutuhan psikologis korban, apakah ia butuh dihargai, didukung, atau merasa aman. Lakukan reframing pengalaman bullying, agar korban tidak menilai dirinya sebagai pihak yang kalah atau tidak berharga," tuturnya.

Selain itu, ajarkan strategi mengelola emosi, misalnya mencari tempat aman, menghubungi orang terdekat, melakukan aktivitas penenang.Berikan ruang untuk proses memaafkan bukan untuk membenarkan pelaku, tetapi untuk membebaskan korban dari beban emosinya.

"Teknik relaksasi, grounding, journaling, aktivitas fisik, dan dukungan sosial sangat membantu meredakan kemarahan. Selain itu, konsultasi psikologis sangat penting.

“Intervensi seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) terbukti efektif mengurangi trauma maupun dorongan agresi," jelasnya

“Bullying bukan sekedar masalah sepele antar siswa. Ini adalah luka psikologis yang nyata. Jika tidak ditangani, dapat berubah menjadi tragedi.” tutupnya.

Masjid tersebut diketahui merupakan fasilitas internal sekolah yang hanya digunakan untuk kegiatan ibadah para siswa dan guru, bukan untuk masyarakat umum.Saksi berinisial ER (25) menjelaskan masjid tersebut adalah area tertutup.

“Masjid itu khusus untuk ibadah para pelajar, bukan untuk masyarakat umum,” ujarnya kepada VOI.

Berdasarkan informasi yang beredar, insiden tersebut didahului oleh dua suara ledakan yang menghasilkan asap tebal, masing-masing terjadi di area masjid dan pintu belakang sekolah. Dari lokasi, aparat menemukan bom rakitan, remote kontrol, hingga senjata laras panjang dan revolver.

Salah satu siswa yang enggan disebutkan namanya menyampaikan pelaku diduga merupakan siswa yang masih aktif di sekolah tersebut. Ia juga menyebutkan bahwa pelaku sebelumnya mengalami bullying atau perundungan.

“Pelakunya diduga siswa juga. Dia korban bullying. Mungkin mau balas dendam dan juga ingin bunuh diri,” ungkapnya.

Sementara itu, salah satu guru memperkirakan korban luka akibat ledakan berjumlah antara lima hingga sepuluh orang tanpa adanya korban jiwa.

Psikolog klinis Devi Yanti, M. Psi menjelaskan tindakan balas dendam pada korban bullying bukan muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi luka emosional yang tidak mendapatkan penanganan.

Menurut Devi, ada beberapa faktor psikologis yang dapat mendorong korban bullying melakukan tindakan ekstrem. Menurutnya, respon terhadap emosi yang tidak tertangani menyebabkan penumpukan emosi negatif seperti sedih, marah, sakit hati, dan rasa tidak berdaya yang tidak pernah dikelola.

“Korban sering merasa dirinya lemah. Dengan melakukan tindakan agresif, ia sedang berusaha mengubah posisi dari yang tertindas menjadi yang berkuasa',” ucapnya saat dihubungi VOI pada Jumat, 7 November 2025.

Lalu dorongan untuk menghilangkan rasa malu dan penghinaan. Malu yang tidak ditangani dapat berubah menjadi kemarahan, lalu agresif.

“Ketika tidak ada yang membela, mendengar, atau memvalidasi rasa sakitnya, korban merasa sendirian. Itu berbahaya.” ucapnya.

Selain itu, biasanya mereka sulit mengatur emosi. Gangguan psikologis akibat bullying seperti depresi, cemas hingga pikiran bunuh diri.

"Hambatan kognitif karena kemarahan, yang membuat korban berpikir bahwa 'Mereka pantas mendapatkan balasan'. Selain itu, kebutuhan untuk diakui rasa sakitnya," jelasnya.

Tak hanya itu, pengaruh media sosial, terutama konten kekerasan atau glorifikasi balas dendam.

“Secara psikologis, tindakan seperti ini adalah coping yang maladaptif. Ia mencoba menyembuhkan diri, tetapi dengan cara yang salah karena luka emosionalnya tidak pernah ditangani," tuturnya.

Devi menekankan bahwa peran sekolah, keluarga, dan lingkungan sangat penting dalam mencegah kasus seperti ini terulang. Pencegahan berfokus pada penyembuhan luka emosional, bukan hanya menghentikan tindakan bullying secara fisik.

"Dendam muncul karena luka yang tidak disembuhkan. Luka harus diobati, bukan diabaikan," katanya.

Baginya dendam akan mereda ketika korban merasa aman, didengar, dan diakui.Korban perlu diajarkan untuk bercerita kepada orang yang dipercaya.

"Identifikasi kebutuhan psikologis korban, apakah ia butuh dihargai, didukung, atau merasa aman. Lakukan reframing pengalaman bullying, agar korban tidak menilai dirinya sebagai pihak yang kalah atau tidak berharga," tuturnya.

Selain itu, ajarkan strategi mengelola emosi, misalnya mencari tempat aman, menghubungi orang terdekat, melakukan aktivitas penenang.Berikan ruang untuk proses memaafkan bukan untuk membenarkan pelaku, tetapi untuk membebaskan korban dari beban emosinya.

"Teknik relaksasi, grounding, journaling, aktivitas fisik, dan dukungan sosial sangat membantu meredakan kemarahan. Selain itu, konsultasi psikologis sangat penting.

“Intervensi seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) terbukti efektif mengurangi trauma maupun dorongan agresi," jelasnya

“Bullying bukan sekedar masalah sepele antar siswa. Ini adalah luka psikologis yang nyata. Jika tidak ditangani, dapat berubah menjadi tragedi.” tutupnya.

Masjid tersebut diketahui merupakan fasilitas internal sekolah yang hanya digunakan untuk kegiatan ibadah para siswa dan guru, bukan untuk masyarakat umum.Saksi berinisial ER (25) menjelaskan masjid tersebut adalah area tertutup.

“Masjid itu khusus untuk ibadah para pelajar, bukan untuk masyarakat umum,” ujarnya kepada VOI.

Berdasarkan informasi yang beredar, insiden tersebut didahului oleh dua suara ledakan yang menghasilkan asap tebal, masing-masing terjadi di area masjid dan pintu belakang sekolah. Dari lokasi, aparat menemukan bom rakitan, remote kontrol, hingga senjata laras panjang dan revolver.

Salah satu siswa yang enggan disebutkan namanya menyampaikan pelaku diduga merupakan siswa yang masih aktif di sekolah tersebut. Ia juga menyebutkan bahwa pelaku sebelumnya mengalami bullying atau perundungan.

“Pelakunya diduga siswa juga. Dia korban bullying. Mungkin mau balas dendam dan juga ingin bunuh diri,” ungkapnya.

Sementara itu, salah satu guru memperkirakan korban luka akibat ledakan berjumlah antara lima hingga sepuluh orang tanpa adanya korban jiwa.

Psikolog klinis Devi Yanti, M. Psi menjelaskan tindakan balas dendam pada korban bullying bukan muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi luka emosional yang tidak mendapatkan penanganan.

Menurut Devi, ada beberapa faktor psikologis yang dapat mendorong korban bullying melakukan tindakan ekstrem. Menurutnya, respon terhadap emosi yang tidak tertangani menyebabkan penumpukan emosi negatif seperti sedih, marah, sakit hati, dan rasa tidak berdaya yang tidak pernah dikelola.

“Korban sering merasa dirinya lemah. Dengan melakukan tindakan agresif, ia sedang berusaha mengubah posisi dari yang tertindas menjadi yang berkuasa',” ucapnya saat dihubungi VOI pada Jumat, 7 November 2025.

Lalu dorongan untuk menghilangkan rasa malu dan penghinaan. Malu yang tidak ditangani dapat berubah menjadi kemarahan, lalu agresif.

“Ketika tidak ada yang membela, mendengar, atau memvalidasi rasa sakitnya, korban merasa sendirian. Itu berbahaya.” ucapnya.

Selain itu, biasanya mereka sulit mengatur emosi. Gangguan psikologis akibat bullying seperti depresi, cemas hingga pikiran bunuh diri.

"Hambatan kognitif karena kemarahan, yang membuat korban berpikir bahwa 'Mereka pantas mendapatkan balasan'. Selain itu, kebutuhan untuk diakui rasa sakitnya," jelasnya.

Tak hanya itu, pengaruh media sosial, terutama konten kekerasan atau glorifikasi balas dendam.

“Secara psikologis, tindakan seperti ini adalah coping yang maladaptif. Ia mencoba menyembuhkan diri, tetapi dengan cara yang salah karena luka emosionalnya tidak pernah ditangani," tuturnya.

Devi menekankan bahwa peran sekolah, keluarga, dan lingkungan sangat penting dalam mencegah kasus seperti ini terulang. Pencegahan berfokus pada penyembuhan luka emosional, bukan hanya menghentikan tindakan bullying secara fisik.

"Dendam muncul karena luka yang tidak disembuhkan. Luka harus diobati, bukan diabaikan," katanya.

Baginya dendam akan mereda ketika korban merasa aman, didengar, dan diakui.Korban perlu diajarkan untuk bercerita kepada orang yang dipercaya.

"Identifikasi kebutuhan psikologis korban, apakah ia butuh dihargai, didukung, atau merasa aman. Lakukan reframing pengalaman bullying, agar korban tidak menilai dirinya sebagai pihak yang kalah atau tidak berharga," tuturnya.

Selain itu, ajarkan strategi mengelola emosi, misalnya mencari tempat aman, menghubungi orang terdekat, melakukan aktivitas penenang.Berikan ruang untuk proses memaafkan bukan untuk membenarkan pelaku, tetapi untuk membebaskan korban dari beban emosinya.

"Teknik relaksasi, grounding, journaling, aktivitas fisik, dan dukungan sosial sangat membantu meredakan kemarahan. Selain itu, konsultasi psikologis sangat penting.

“Intervensi seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) terbukti efektif mengurangi trauma maupun dorongan agresi," jelasnya

“Bullying bukan sekedar masalah sepele antar siswa. Ini adalah luka psikologis yang nyata. Jika tidak ditangani, dapat berubah menjadi tragedi.” tutupnya.

Masjid tersebut diketahui merupakan fasilitas internal sekolah yang hanya digunakan untuk kegiatan ibadah para siswa dan guru, bukan untuk masyarakat umum.Saksi berinisial ER (25) menjelaskan masjid tersebut adalah area tertutup.

“Masjid itu khusus untuk ibadah para pelajar, bukan untuk masyarakat umum,” ujarnya kepada VOI.

Berdasarkan informasi yang beredar, insiden tersebut didahului oleh dua suara ledakan yang menghasilkan asap tebal, masing-masing terjadi di area masjid dan pintu belakang sekolah. Dari lokasi, aparat menemukan bom rakitan, remote kontrol, hingga senjata laras panjang dan revolver.

Salah satu siswa yang enggan disebutkan namanya menyampaikan pelaku diduga merupakan siswa yang masih aktif di sekolah tersebut. Ia juga menyebutkan bahwa pelaku sebelumnya mengalami bullying atau perundungan.

“Pelakunya diduga siswa juga. Dia korban bullying. Mungkin mau balas dendam dan juga ingin bunuh diri,” ungkapnya.

Sementara itu, salah satu guru memperkirakan korban luka akibat ledakan berjumlah antara lima hingga sepuluh orang tanpa adanya korban jiwa.

Psikolog klinis Devi Yanti, M. Psi menjelaskan tindakan balas dendam pada korban bullying bukan muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi luka emosional yang tidak mendapatkan penanganan.

Menurut Devi, ada beberapa faktor psikologis yang dapat mendorong korban bullying melakukan tindakan ekstrem. Menurutnya, respon terhadap emosi yang tidak tertangani menyebabkan penumpukan emosi negatif seperti sedih, marah, sakit hati, dan rasa tidak berdaya yang tidak pernah dikelola.

“Korban sering merasa dirinya lemah. Dengan melakukan tindakan agresif, ia sedang berusaha mengubah posisi dari yang tertindas menjadi yang berkuasa',” ucapnya saat dihubungi VOI pada Jumat, 7 November 2025.

Lalu dorongan untuk menghilangkan rasa malu dan penghinaan. Malu yang tidak ditangani dapat berubah menjadi kemarahan, lalu agresif.

“Ketika tidak ada yang membela, mendengar, atau memvalidasi rasa sakitnya, korban merasa sendirian. Itu berbahaya.” ucapnya.

Selain itu, biasanya mereka sulit mengatur emosi. Gangguan psikologis akibat bullying seperti depresi, cemas hingga pikiran bunuh diri.

"Hambatan kognitif karena kemarahan, yang membuat korban berpikir bahwa 'Mereka pantas mendapatkan balasan'. Selain itu, kebutuhan untuk diakui rasa sakitnya," jelasnya.

Tak hanya itu, pengaruh media sosial, terutama konten kekerasan atau glorifikasi balas dendam.

“Secara psikologis, tindakan seperti ini adalah coping yang maladaptif. Ia mencoba menyembuhkan diri, tetapi dengan cara yang salah karena luka emosionalnya tidak pernah ditangani," tuturnya.

Devi menekankan bahwa peran sekolah, keluarga, dan lingkungan sangat penting dalam mencegah kasus seperti ini terulang. Pencegahan berfokus pada penyembuhan luka emosional, bukan hanya menghentikan tindakan bullying secara fisik.

"Dendam muncul karena luka yang tidak disembuhkan. Luka harus diobati, bukan diabaikan," katanya.

Baginya dendam akan mereda ketika korban merasa aman, didengar, dan diakui.Korban perlu diajarkan untuk bercerita kepada orang yang dipercaya.

"Identifikasi kebutuhan psikologis korban, apakah ia butuh dihargai, didukung, atau merasa aman. Lakukan reframing pengalaman bullying, agar korban tidak menilai dirinya sebagai pihak yang kalah atau tidak berharga," tuturnya.

Selain itu, ajarkan strategi mengelola emosi, misalnya mencari tempat aman, menghubungi orang terdekat, melakukan aktivitas penenang.Berikan ruang untuk proses memaafkan bukan untuk membenarkan pelaku, tetapi untuk membebaskan korban dari beban emosinya.

"Teknik relaksasi, grounding, journaling, aktivitas fisik, dan dukungan sosial sangat membantu meredakan kemarahan. Selain itu, konsultasi psikologis sangat penting.

“Intervensi seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) terbukti efektif mengurangi trauma maupun dorongan agresi," jelasnya

“Bullying bukan sekedar masalah sepele antar siswa. Ini adalah luka psikologis yang nyata. Jika tidak ditangani, dapat berubah menjadi tragedi.” tutupnya.

Masjid tersebut diketahui merupakan fasilitas internal sekolah yang hanya digunakan untuk kegiatan ibadah para siswa dan guru, bukan untuk masyarakat umum.Saksi berinisial ER (25) menjelaskan masjid tersebut adalah area tertutup.

“Masjid itu khusus untuk ibadah para pelajar, bukan untuk masyarakat umum,” ujarnya kepada VOI.

Berdasarkan informasi yang beredar, insiden tersebut didahului oleh dua suara ledakan yang menghasilkan asap tebal, masing-masing terjadi di area masjid dan pintu belakang sekolah. Dari lokasi, aparat menemukan bom rakitan, remote kontrol, hingga senjata laras panjang dan revolver.

Salah satu siswa yang enggan disebutkan namanya menyampaikan pelaku diduga merupakan siswa yang masih aktif di sekolah tersebut. Ia juga menyebutkan bahwa pelaku sebelumnya mengalami bullying atau perundungan.

“Pelakunya diduga siswa juga. Dia korban bullying. Mungkin mau balas dendam dan juga ingin bunuh diri,” ungkapnya.

Sementara itu, salah satu guru memperkirakan korban luka akibat ledakan berjumlah antara lima hingga sepuluh orang tanpa adanya korban jiwa.

Psikolog klinis Devi Yanti, M. Psi menjelaskan tindakan balas dendam pada korban bullying bukan muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi luka emosional yang tidak mendapatkan penanganan.

Menurut Devi, ada beberapa faktor psikologis yang dapat mendorong korban bullying melakukan tindakan ekstrem. Menurutnya, respon terhadap emosi yang tidak tertangani menyebabkan penumpukan emosi negatif seperti sedih, marah, sakit hati, dan rasa tidak berdaya yang tidak pernah dikelola.

“Korban sering merasa dirinya lemah. Dengan melakukan tindakan agresif, ia sedang berusaha mengubah posisi dari yang tertindas menjadi yang berkuasa',” ucapnya saat dihubungi VOI pada Jumat, 7 November 2025.

Lalu dorongan untuk menghilangkan rasa malu dan penghinaan. Malu yang tidak ditangani dapat berubah menjadi kemarahan, lalu agresif.

“Ketika tidak ada yang membela, mendengar, atau memvalidasi rasa sakitnya, korban merasa sendirian. Itu berbahaya.” ucapnya.

Selain itu, biasanya mereka sulit mengatur emosi. Gangguan psikologis akibat bullying seperti depresi, cemas hingga pikiran bunuh diri.

"Hambatan kognitif karena kemarahan, yang membuat korban berpikir bahwa 'Mereka pantas mendapatkan balasan'. Selain itu, kebutuhan untuk diakui rasa sakitnya," jelasnya.

Tak hanya itu, pengaruh media sosial, terutama konten kekerasan atau glorifikasi balas dendam.

“Secara psikologis, tindakan seperti ini adalah coping yang maladaptif. Ia mencoba menyembuhkan diri, tetapi dengan cara yang salah karena luka emosionalnya tidak pernah ditangani," tuturnya.

Devi menekankan bahwa peran sekolah, keluarga, dan lingkungan sangat penting dalam mencegah kasus seperti ini terulang. Pencegahan berfokus pada penyembuhan luka emosional, bukan hanya menghentikan tindakan bullying secara fisik.

"Dendam muncul karena luka yang tidak disembuhkan. Luka harus diobati, bukan diabaikan," katanya.

Baginya dendam akan mereda ketika korban merasa aman, didengar, dan diakui.Korban perlu diajarkan untuk bercerita kepada orang yang dipercaya.

"Identifikasi kebutuhan psikologis korban, apakah ia butuh dihargai, didukung, atau merasa aman. Lakukan reframing pengalaman bullying, agar korban tidak menilai dirinya sebagai pihak yang kalah atau tidak berharga," tuturnya.

Selain itu, ajarkan strategi mengelola emosi, misalnya mencari tempat aman, menghubungi orang terdekat, melakukan aktivitas penenang.Berikan ruang untuk proses memaafkan bukan untuk membenarkan pelaku, tetapi untuk membebaskan korban dari beban emosinya.

"Teknik relaksasi, grounding, journaling, aktivitas fisik, dan dukungan sosial sangat membantu meredakan kemarahan. Selain itu, konsultasi psikologis sangat penting.

“Intervensi seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) terbukti efektif mengurangi trauma maupun dorongan agresi," jelasnya

“Bullying bukan sekedar masalah sepele antar siswa. Ini adalah luka psikologis yang nyata. Jika tidak ditangani, dapat berubah menjadi tragedi.” tutupnya.

Masjid tersebut diketahui merupakan fasilitas internal sekolah yang hanya digunakan untuk kegiatan ibadah para siswa dan guru, bukan untuk masyarakat umum.Saksi berinisial ER (25) menjelaskan masjid tersebut adalah area tertutup.

“Masjid itu khusus untuk ibadah para pelajar, bukan untuk masyarakat umum,” ujarnya kepada VOI.

Berdasarkan informasi yang beredar, insiden tersebut didahului oleh dua suara ledakan yang menghasilkan asap tebal, masing-masing terjadi di area masjid dan pintu belakang sekolah. Dari lokasi, aparat menemukan bom rakitan, remote kontrol, hingga senjata laras panjang dan revolver.

Salah satu siswa yang enggan disebutkan namanya menyampaikan pelaku diduga merupakan siswa yang masih aktif di sekolah tersebut. Ia juga menyebutkan bahwa pelaku sebelumnya mengalami bullying atau perundungan.

“Pelakunya diduga siswa juga. Dia korban bullying. Mungkin mau balas dendam dan juga ingin bunuh diri,” ungkapnya.

Sementara itu, salah satu guru memperkirakan korban luka akibat ledakan berjumlah antara lima hingga sepuluh orang tanpa adanya korban jiwa.

Psikolog klinis Devi Yanti, M. Psi menjelaskan tindakan balas dendam pada korban bullying bukan muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi luka emosional yang tidak mendapatkan penanganan.

Menurut Devi, ada beberapa faktor psikologis yang dapat mendorong korban bullying melakukan tindakan ekstrem. Menurutnya, respon terhadap emosi yang tidak tertangani menyebabkan penumpukan emosi negatif seperti sedih, marah, sakit hati, dan rasa tidak berdaya yang tidak pernah dikelola.

“Korban sering merasa dirinya lemah. Dengan melakukan tindakan agresif, ia sedang berusaha mengubah posisi dari yang tertindas menjadi yang berkuasa',” ucapnya saat dihubungi VOI pada Jumat, 7 November 2025.

Lalu dorongan untuk menghilangkan rasa malu dan penghinaan. Malu yang tidak ditangani dapat berubah menjadi kemarahan, lalu agresif.

“Ketika tidak ada yang membela, mendengar, atau memvalidasi rasa sakitnya, korban merasa sendirian. Itu berbahaya.” ucapnya.

Selain itu, biasanya mereka sulit mengatur emosi. Gangguan psikologis akibat bullying seperti depresi, cemas hingga pikiran bunuh diri.

"Hambatan kognitif karena kemarahan, yang membuat korban berpikir bahwa 'Mereka pantas mendapatkan balasan'. Selain itu, kebutuhan untuk diakui rasa sakitnya," jelasnya.

Tak hanya itu, pengaruh media sosial, terutama konten kekerasan atau glorifikasi balas dendam.

“Secara psikologis, tindakan seperti ini adalah coping yang maladaptif. Ia mencoba menyembuhkan diri, tetapi dengan cara yang salah karena luka emosionalnya tidak pernah ditangani," tuturnya.

Devi menekankan bahwa peran sekolah, keluarga, dan lingkungan sangat penting dalam mencegah kasus seperti ini terulang. Pencegahan berfokus pada penyembuhan luka emosional, bukan hanya menghentikan tindakan bullying secara fisik.

"Dendam muncul karena luka yang tidak disembuhkan. Luka harus diobati, bukan diabaikan," katanya.

Baginya dendam akan mereda ketika korban merasa aman, didengar, dan diakui.Korban perlu diajarkan untuk bercerita kepada orang yang dipercaya.

"Identifikasi kebutuhan psikologis korban, apakah ia butuh dihargai, didukung, atau merasa aman. Lakukan reframing pengalaman bullying, agar korban tidak menilai dirinya sebagai pihak yang kalah atau tidak berharga," tuturnya.

Selain itu, ajarkan strategi mengelola emosi, misalnya mencari tempat aman, menghubungi orang terdekat, melakukan aktivitas penenang.Berikan ruang untuk proses memaafkan bukan untuk membenarkan pelaku, tetapi untuk membebaskan korban dari beban emosinya.

"Teknik relaksasi, grounding, journaling, aktivitas fisik, dan dukungan sosial sangat membantu meredakan kemarahan. Selain itu, konsultasi psikologis sangat penting.

“Intervensi seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) terbukti efektif mengurangi trauma maupun dorongan agresi," jelasnya

“Bullying bukan sekedar masalah sepele antar siswa. Ini adalah luka psikologis yang nyata. Jika tidak ditangani, dapat berubah menjadi tragedi.” tutupnya.

Masjid tersebut diketahui merupakan fasilitas internal sekolah yang hanya digunakan untuk kegiatan ibadah para siswa dan guru, bukan untuk masyarakat umum.Saksi berinisial ER (25) menjelaskan masjid tersebut adalah area tertutup.

“Masjid itu khusus untuk ibadah para pelajar, bukan untuk masyarakat umum,” ujarnya kepada VOI.

Berdasarkan informasi yang beredar, insiden tersebut didahului oleh dua suara ledakan yang menghasilkan asap tebal, masing-masing terjadi di area masjid dan pintu belakang sekolah. Dari lokasi, aparat menemukan bom rakitan, remote kontrol, hingga senjata laras panjang dan revolver.

Salah satu siswa yang enggan disebutkan namanya menyampaikan pelaku diduga merupakan siswa yang masih aktif di sekolah tersebut. Ia juga menyebutkan bahwa pelaku sebelumnya mengalami bullying atau perundungan.

“Pelakunya diduga siswa juga. Dia korban bullying. Mungkin mau balas dendam dan juga ingin bunuh diri,” ungkapnya.

Sementara itu, salah satu guru memperkirakan korban luka akibat ledakan berjumlah antara lima hingga sepuluh orang tanpa adanya korban jiwa.

Psikolog klinis Devi Yanti, M. Psi menjelaskan tindakan balas dendam pada korban bullying bukan muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi luka emosional yang tidak mendapatkan penanganan.

Menurut Devi, ada beberapa faktor psikologis yang dapat mendorong korban bullying melakukan tindakan ekstrem. Menurutnya, respon terhadap emosi yang tidak tertangani menyebabkan penumpukan emosi negatif seperti sedih, marah, sakit hati, dan rasa tidak berdaya yang tidak pernah dikelola.

“Korban sering merasa dirinya lemah. Dengan melakukan tindakan agresif, ia sedang berusaha mengubah posisi dari yang tertindas menjadi yang berkuasa',” ucapnya saat dihubungi VOI pada Jumat, 7 November 2025.

Lalu dorongan untuk menghilangkan rasa malu dan penghinaan. Malu yang tidak ditangani dapat berubah menjadi kemarahan, lalu agresif.

“Ketika tidak ada yang membela, mendengar, atau memvalidasi rasa sakitnya, korban merasa sendirian. Itu berbahaya.” ucapnya.

Selain itu, biasanya mereka sulit mengatur emosi. Gangguan psikologis akibat bullying seperti depresi, cemas hingga pikiran bunuh diri.

"Hambatan kognitif karena kemarahan, yang membuat korban berpikir bahwa 'Mereka pantas mendapatkan balasan'. Selain itu, kebutuhan untuk diakui rasa sakitnya," jelasnya.

Tak hanya itu, pengaruh media sosial, terutama konten kekerasan atau glorifikasi balas dendam.

“Secara psikologis, tindakan seperti ini adalah coping yang maladaptif. Ia mencoba menyembuhkan diri, tetapi dengan cara yang salah karena luka emosionalnya tidak pernah ditangani," tuturnya.

Devi menekankan bahwa peran sekolah, keluarga, dan lingkungan sangat penting dalam mencegah kasus seperti ini terulang. Pencegahan berfokus pada penyembuhan luka emosional, bukan hanya menghentikan tindakan bullying secara fisik.

"Dendam muncul karena luka yang tidak disembuhkan. Luka harus diobati, bukan diabaikan," katanya.

Baginya dendam akan mereda ketika korban merasa aman, didengar, dan diakui.Korban perlu diajarkan untuk bercerita kepada orang yang dipercaya.

"Identifikasi kebutuhan psikologis korban, apakah ia butuh dihargai, didukung, atau merasa aman. Lakukan reframing pengalaman bullying, agar korban tidak menilai dirinya sebagai pihak yang kalah atau tidak berharga," tuturnya.

Selain itu, ajarkan strategi mengelola emosi, misalnya mencari tempat aman, menghubungi orang terdekat, melakukan aktivitas penenang.Berikan ruang untuk proses memaafkan bukan untuk membenarkan pelaku, tetapi untuk membebaskan korban dari beban emosinya.

"Teknik relaksasi, grounding, journaling, aktivitas fisik, dan dukungan sosial sangat membantu meredakan kemarahan. Selain itu, konsultasi psikologis sangat penting.

“Intervensi seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) terbukti efektif mengurangi trauma maupun dorongan agresi," jelasnya

“Bullying bukan sekedar masalah sepele antar siswa. Ini adalah luka psikologis yang nyata. Jika tidak ditangani, dapat berubah menjadi tragedi.” tutupnya.

Masjid tersebut diketahui merupakan fasilitas internal sekolah yang hanya digunakan untuk kegiatan ibadah para siswa dan guru, bukan untuk masyarakat umum.Saksi berinisial ER (25) menjelaskan masjid tersebut adalah area tertutup.

“Masjid itu khusus untuk ibadah para pelajar, bukan untuk masyarakat umum,” ujarnya kepada VOI.

Berdasarkan informasi yang beredar, insiden tersebut didahului oleh dua suara ledakan yang menghasilkan asap tebal, masing-masing terjadi di area masjid dan pintu belakang sekolah. Dari lokasi, aparat menemukan bom rakitan, remote kontrol, hingga senjata laras panjang dan revolver.

Salah satu siswa yang enggan disebutkan namanya menyampaikan pelaku diduga merupakan siswa yang masih aktif di sekolah tersebut. Ia juga menyebutkan bahwa pelaku sebelumnya mengalami bullying atau perundungan.

“Pelakunya diduga siswa juga. Dia korban bullying. Mungkin mau balas dendam dan juga ingin bunuh diri,” ungkapnya.

Sementara itu, salah satu guru memperkirakan korban luka akibat ledakan berjumlah antara lima hingga sepuluh orang tanpa adanya korban jiwa.

Psikolog klinis Devi Yanti, M. Psi menjelaskan tindakan balas dendam pada korban bullying bukan muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi luka emosional yang tidak mendapatkan penanganan.

Menurut Devi, ada beberapa faktor psikologis yang dapat mendorong korban bullying melakukan tindakan ekstrem. Menurutnya, respon terhadap emosi yang tidak tertangani menyebabkan penumpukan emosi negatif seperti sedih, marah, sakit hati, dan rasa tidak berdaya yang tidak pernah dikelola.

“Korban sering merasa dirinya lemah. Dengan melakukan tindakan agresif, ia sedang berusaha mengubah posisi dari yang tertindas menjadi yang berkuasa',” ucapnya saat dihubungi VOI pada Jumat, 7 November 2025.

Lalu dorongan untuk menghilangkan rasa malu dan penghinaan. Malu yang tidak ditangani dapat berubah menjadi kemarahan, lalu agresif.

“Ketika tidak ada yang membela, mendengar, atau memvalidasi rasa sakitnya, korban merasa sendirian. Itu berbahaya.” ucapnya.

Selain itu, biasanya mereka sulit mengatur emosi. Gangguan psikologis akibat bullying seperti depresi, cemas hingga pikiran bunuh diri.

"Hambatan kognitif karena kemarahan, yang membuat korban berpikir bahwa 'Mereka pantas mendapatkan balasan'. Selain itu, kebutuhan untuk diakui rasa sakitnya," jelasnya.

Tak hanya itu, pengaruh media sosial, terutama konten kekerasan atau glorifikasi balas dendam.

“Secara psikologis, tindakan seperti ini adalah coping yang maladaptif. Ia mencoba menyembuhkan diri, tetapi dengan cara yang salah karena luka emosionalnya tidak pernah ditangani," tuturnya.

Devi menekankan bahwa peran sekolah, keluarga, dan lingkungan sangat penting dalam mencegah kasus seperti ini terulang. Pencegahan berfokus pada penyembuhan luka emosional, bukan hanya menghentikan tindakan bullying secara fisik.

"Dendam muncul karena luka yang tidak disembuhkan. Luka harus diobati, bukan diabaikan," katanya.

Baginya dendam akan mereda ketika korban merasa aman, didengar, dan diakui.Korban perlu diajarkan untuk bercerita kepada orang yang dipercaya.

"Identifikasi kebutuhan psikologis korban, apakah ia butuh dihargai, didukung, atau merasa aman. Lakukan reframing pengalaman bullying, agar korban tidak menilai dirinya sebagai pihak yang kalah atau tidak berharga," tuturnya.

Selain itu, ajarkan strategi mengelola emosi, misalnya mencari tempat aman, menghubungi orang terdekat, melakukan aktivitas penenang.Berikan ruang untuk proses memaafkan bukan untuk membenarkan pelaku, tetapi untuk membebaskan korban dari beban emosinya.

"Teknik relaksasi, grounding, journaling, aktivitas fisik, dan dukungan sosial sangat membantu meredakan kemarahan. Selain itu, konsultasi psikologis sangat penting.

“Intervensi seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) terbukti efektif mengurangi trauma maupun dorongan agresi," jelasnya

“Bullying bukan sekedar masalah sepele antar siswa. Ini adalah luka psikologis yang nyata. Jika tidak ditangani, dapat berubah menjadi tragedi.” tutupnya.

The mosque is known to be an internal school facility that is only used for student and teacher worship activities, not for the general public. The witness with the initials ER (25) explained that the mosque was a closed area.

"The mosque is specifically for the worship of students, not for the general public," he told VOI.

Based on information circulating, the incident was preceded by two explosion sounds that produced thick smoke, each occurring in the mosque area and back door of the school. From the location, the authorities found homemade bombs, remote controls, to long-barreled weapons and revolvers.

One of the students who declined to be named said that the perpetrator was suspected to be an active student at the school. He also mentioned that the perpetrator had previously been bullied or bullied.

"The perpetrator is suspected to be a student too. He is a victim of bullying. Maybe he wants revenge and also wants to commit suicide," he said.

Meanwhile, one of the teachers estimated that the injured victims from the explosion were between five and ten people without any casualties.

Clinical psychologist Devi Yanti, M. Psi explained that revenge against victims of bullying did not appear suddenly, but was an accumulation of emotional injuries that did not receive treatment.

According to Devi, there are several psychological factors that can encourage victims of bullying to take extreme action. According to him, the response to emotions that are not handled causes a buildup of negative emotions such as sadness, anger, heartache, and helpless feelings that are never managed.

"The victim often feels that he is weak. By taking aggressive actions, he is trying to change his position from being oppressed to being in power," he said when contacted by VOI on Friday, November 7, 2025.

Then the urge to relieve shame and insults. Untreated shame can turn into anger, then aggressive.

"When no one defended, heard, or validated the pain, the victim felt alone. It was dangerous." he said.

In addition, they usually find it difficult to regulate emotions. Psychological disorders due to bullying such as depression, anxiety and suicide thoughts.

"Cognitive positions are due to anger, which makes the victim think that 'They deserve a reply'. In addition, the need to be recognized for pain," he explained.

Not only that, the influence of social media, especially violent content or glorification of revenge.

Psychologically, actions like this are maladaptive coding. He tries to heal himself, but in the wrong way because his emotional injuries have never been treated," he said.

Devi emphasized that the role of schools, families, and the environment is very important in preventing cases like this from happening again. Prevention focuses on healing emotional wounds, not just stopping acts of physical bullying.

"Dendam appears because of wounds that are not healed. Wounds must be treated, not ignored," he said.

For him, revenge will subside when the victim feels safe, heard, and recognized. Victims need to be taught to tell stories to people they trust.

"Identification of the victim's psychological needs, whether he needs to be respected, supported, or feels safe. Do a cooling experience, so that the victim does not judge himself as a party who loses or is worthless," he said.

In addition, teach strategies to manage emotions, such as finding a safe place, contacting people closest to you, doing sedative activities. Give space for the process of forgiveness not to justify the perpetrator, but to free the victim from the burden of her emotions.

"Relaxation, grounding, journaling, physical activity, and social support techniques are very helpful to relieve anger. In addition, psychological consultation is very important.

"Interventions such as the Cognitive Behavioral Therapy (CBT) have proven to be effective in reducing trauma and the push for aggression," he explained.

Bullying is not just a trivial matter between students. This is a real psychological wound. If not handled, it can turn into a tragedy."


The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)