JAKARTA - Perum Bulog memastikan pembangunan 100 unit gudang baru untuk memperkuat ketahanan pangan nasional akan melibatkan sejumlah BUMN karya sebagai pelaksana proyek. Targetnya, seluruh gudang rampung dalam waktu satu tahun agar bisa digunakan saat panen raya 2026.

Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan pihaknya memprioritaskan BUMN karya untuk membangun gudang baru. Namun, dia tak mengungkapkan BUMN karya mana saja yang akan terlibat.

“Kita dari BUMN pasti akan prioritaskan teman-teman BUMN karya untuk mengerjakan. Insyaallah mereka yang akan membangun gudangnya,” ujar Rizal di kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Selasa, 11 November.

Rizal bilang pihaknya menargetkan pembangunan 100 unit gudang baru tersebut dapat selesai dalam waktu satu tahun. Namun, kata dia, tak menutup kemungkinan juga akan ada kendala dalam proses pembangunannya.

“Kita pengennya sih 100 itu setahun jadi. Tapi kan kita enggak tahu kaitan dengan kendala masalah material, kendala masalah alam, kendala masalah cuaca dan sebagainya kan kita tidak bisa predisikan dari sekarang. Itu kan di luar batas kemampuan kita. Tapi kalau manajemen yang lain sebagainya mungkin kita bisa hitung,” ucapnya.

Lebih lanjut, Rizal bilang pembangunan 100 gudang ini akan difokuskan di kabupaten dan kota yang belum memiliki fasilitas penyimpanan, termasuk wilayah terdepan, terluar, dan terpencil (3T) seperti Nias Selatan dan Morotai. Fasilitas ini penting untuk menjaga pasokan pangan terutama saat kondisi cuaca ekstrem yang kerap menghambat distribusi logistik.

“Contohnya di Nias Selatan, di Morotai dan lain sebagainya itu kan perlu gudang-gudang tersebut. Kenapa? Kalau begitu musim pasang airnya tinggi atau musim barat itu kapal enggak bisa berlayar ke sana. Jadi perlu mengandalkan gudang tersebut. Sedangkan di sana belum ada gudang. Nah ini prioritasnya seperti itu,” jelasnya.

Terkait dengan kapasitas gudang, Rizal bilang berbeda-beda, mulai dari yang tipe kecil dengan kapasitas 1.000 hingga 7.000 ton.

Lebih lanjut, Rizal mengatakan nantinya akan dilihat apakah daerah yang dibangun gudang baru tersebut merupakan penghasil beras dan jagung terbanyak atau tidak.

“Proyeksinya dia sumber lumbung pangan atau tidak. Kalau mereka lumbung pangan besar berarti kita bikinkan gudang yang besar, tapi kalau dia tidak punya lumbung pangan, ya mohon maaf nanti hanya gudang kecil saja,” jelasnya.


The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+