Bagikan:

JAKARTA - Dunia berada di ambang gelembung finansial terbesar sejak booming industri perkeretaapian pada abad ke-19, yang dipicu oleh valuasi berlebih terhadap teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Hal tersebut disampaikan oleh Igor Sechin, CEO Rosneft sekaligus Sekretaris Eksekutif Komisi Kepresidenan Rusia untuk Pengembangan Strategis Sektor Bahan Bakar dan Energi serta Keamanan Lingkungan, dalam Panel Energi St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2026.

St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) merupakan salah satu forum ekonomi tahunan utama di Rusia yang mempertemukan pembuat kebijakan, pemimpin bisnis, akademisi, dan tokoh publik untuk membahas isu-isu strategis dalam ekonomi global. SPIEF 2026 digelar di St. Petersburg pada 3-6 Juni 2026 dan membahas ekonomi global, teknologi masa depan, stabilitas pasar, serta kerja sama internasional.

Rosneft sendiri merupakan salah satu perusahaan minyak terbesar di dunia. Dalam laporannya yang berjudul “The Beginning of the End or the End of the Beginning: What Remains at the Bottom of Pandora’s Box?”, Sechin memberikan perhatian khusus pada berbagai tantangan yang dihadapi sektor energi, perkembangan kecerdasan buatan, serta perubahan struktural dalam ekonomi global yang menyertainya.

Menurut Sechin, industri energi saat ini sedang menghadapi kondisi kekurangan investasi yang kronis. Ilusi mengenai transisi energi yang dapat berlangsung secara cepat, serta kurangnya perhatian terhadap aspek ketahanan energi, telah menyebabkan berkurangnya investasi pada energi konvensional dan memunculkan ketidakseimbangan sistemik.

Pandangan tersebut menjadi penting bagi negara-negara dengan kebutuhan energi yang terus meningkat, termasuk Indonesia. Di tengah pertumbuhan ekonomi digital, perluasan infrastruktur pusat data, adopsi cloud, e-commerce, fintech, dan mulai meningkatnya penggunaan AI, isu ketahanan energi tidak lagi hanya berkaitan dengan industri berat atau rumah tangga, tetapi juga menjadi bagian penting dari daya saing ekonomi digital. Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat Indonesia saat ini memiliki 185 pusat data dengan kapasitas 274 MW, dan kapasitas tersebut ditargetkan meningkat menjadi lebih dari 2.000 MW pada 2029.

Sechin juga menyoroti meningkatnya militerisasi dalam ekonomi global. Belanja militer dunia telah meningkat selama 11 tahun berturut-turut, sementara sebagian besar modal mengalir ke tiga sektor yang saling terhubung erat, yaitu kompleks industri militer, perusahaan teknologi tinggi, dan sektor keuangan. Dalam pandangannya, Jerman secara efektif telah mulai mengarahkan ekonominya ke arah ekonomi berbasis perang.

Saat membahas kecerdasan buatan, Sechin mengatakan bahwa dunia sedang berada di ambang gelembung finansial terbesar sejak booming perkeretaapian pada abad ke-19. Perusahaan-perusahaan yang terkait dengan AI terus menarik porsi modal investasi global yang semakin besar, sementara manfaatnya terhadap peningkatan produktivitas belum sepenuhnya terbukti dalam data statistik.

Sechin juga mengingatkan kembali pada paradoks Robert Solow. Menurutnya, sekitar 70 persen perusahaan saat ini telah menggunakan kecerdasan buatan, tetapi dalam 90 persen kasus selama tiga tahun terakhir, penggunaan tersebut belum menghasilkan peningkatan produktivitas tenaga kerja. Pada saat yang sama, teknologi baru ini membutuhkan perluasan infrastruktur energi dalam skala besar.

Di Indonesia, adopsi AI semakin pesat, baik di tingkat pekerja maupun pelaku usaha. Laporan Microsoft dan LinkedIn Work Trend Index 2024 mencatat 92 persen knowledge workers di Indonesia telah menggunakan AI generatif di tempat kerja, lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata global sebesar 75 persen dan Asia Pasifik sebesar 83 persen. Di sisi bisnis, riset AWS dan Strand Partners pada 2025 menyebutkan 18 juta bisnis di Indonesia, atau sekitar 28 persen dari total bisnis, telah mengadopsi solusi AI, dengan pertumbuhan adopsi mencapai 47 persen secara tahunan.

Namun, tingginya penggunaan AI belum selalu berarti transformasi yang matang. Riset yang sama mencatat 76 persen bisnis di Indonesia masih menggunakan AI terutama untuk kebutuhan dasar seperti efisiensi dan penyederhanaan proses, sementara hanya 10 persen yang telah mencapai tahap integrasi AI yang lebih transformatif dalam pengembangan produk, pengambilan keputusan, dan model bisnis. Temuan IBM pada 2025 juga menunjukkan bahwa meski 93 persen pelaku bisnis Indonesia percaya diri dalam menerapkan AI dan 85 persen melaporkan manfaat operasional, tantangan infrastruktur, keamanan siber, tata kelola etika, dan talenta masih menjadi pekerjaan rumah utama.

Menurut Sechin, dunia kini memasuki fase pertumbuhan struktural dalam konsumsi listrik. Pusat data saat ini telah mengonsumsi sekitar 500 TWh listrik per tahun, dan pada 2035 angka tersebut dapat meningkat menjadi 1.200 TWh, atau setara dengan tingkat konsumsi listrik Rusia saat ini.

Di Indonesia, keterkaitan antara digitalisasi dan kebutuhan listrik juga mulai semakin terlihat. RUPTL PLN 2025–2034 menargetkan tambahan kapasitas pembangkit listrik sebesar 69,5 GW, dengan komposisi 42,6 GW energi baru terbarukan, 10,3 GW sistem penyimpanan energi, dan 16,6 GW pembangkit berbasis fosil. Rencana ini menunjukkan bahwa peningkatan permintaan listrik, termasuk dari sektor industri dan infrastruktur digital, perlu diimbangi dengan investasi energi yang memadai, modernisasi jaringan, serta perencanaan transisi energi yang tetap memperhatikan keamanan pasokan.

Bagi Indonesia, pertumbuhan ekonomi digital membutuhkan bukan hanya talenta, regulasi, dan infrastruktur konektivitas, tetapi juga sistem energi yang cukup kuat untuk menopang peningkatan konsumsi listrik dari teknologi-teknologi baru.