JAKARTA — Calon Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) Anthony Leong, kembali mengungkapkan bahwa arah pembangunan ekonomi nasional harus melalui penguatan desa, hilirisasi industri, serta inovasi generasi muda melalui gagasan “Soemitronomics”.
Pernyataan tersebut disampaikan saat ia menjadi pembicara utama dalam Kuliah Umum di Institut Pertanian Bogor, dengan tema “Peran Generasi Muda dalam Membangun Ekosistem Desa Berbasis Inovasi dan Hilirisasi sebagai Mesin Pertumbuhan Baru”.
Anthony menilai Indonesia memerlukan pendekatan pembangunan ekonomi yang tidak lagi berpusat di kota besar, melainkan memberi peran lebih besar kepada desa sebagai motor pertumbuhan baru.
Ia menyebut gagasan tersebut memiliki irisan dengan pemikiran ekonom Soemitro Djojohadikusumo yang menekankan industrialisasi, penguatan sektor produktif, dan keberpihakan pada ekonomi kerakyatan.
Ia menegaskan bahwa konsep “Soemitronomics” perlu diimplementasikan secara kontekstual, di mana daerah tidak hanya berfungsi sebagai pemasok bahan baku, tetapi juga menjadi pusat inovasi, hilirisasi, dan penciptaan wirausaha muda.
“Gagasan Soemitronomics harus dibumikan kembali dalam konteks kekinian. Daerah tidak boleh hanya menjadi objek pembangunan, tetapi harus menjadi pusat inovasi, hilirisasi, dan penciptaan pengusaha muda baru,” ujarnya dalam keterangannya, dikutip Senin, 25 Mei.
Ia menjelaskan bahwa kekuatan ekonomi Indonesia di masa depan akan sangat ditentukan oleh kemampuan generasi muda mengelola potensi daerah melalui teknologi, digitalisasi, dan industrialisasi berbasis sumber daya lokal.
BACA JUGA:
Menurutnya dalam hal ini, HIPMI dipandang memiliki peran penting sebagai penghubung antara kampus, industri, pemerintah, dan masyarakat desa.
Anthony juga menyoroti sektor pertanian dan pangan sebagai salah satu fokus hilirisasi yang dinilai masih belum optimal dalam memberikan nilai tambah ekonomi di daerah.
Menurutnya, keterlibatan anak muda dalam sektor riil seperti pertanian modern, industri pangan, dan ekonomi digital desa menjadi kunci penguatan ekonomi nasional.
“Anak muda harus masuk ke sektor riil, masuk ke pertanian modern, industri pangan, ekonomi digital desa, dan membangun rantai nilai yang kuat. Kalau desa naik kelas, ekonomi nasional akan jauh lebih kokoh,” katanya.
Selain itu, ia mendorong kolaborasi antara Himpunan Pengusaha Muda Indonesia dan perguruan tinggi dalam melahirkan pengusaha muda berbasis riset dan teknologi, sehingga kampus, memiliki peran strategis dalam menciptakan inovasi yang dapat diterapkan di sektor riil.