JAKARTA — Calon Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI), Anthony Leong, memperkenalkan gagasan pembentukan Youth Development Bank dalam debat calon ketua umum BPP HIPMI.
Anthony menilai HIPMI perlu mendorong hadirnya institusi keuangan baru yang secara khusus berfokus pada pembiayaan produktif bagi generasi muda yang ingin membangun usaha.
“Kami akan mengusulkan kepada pemerintah untuk dibentuk bank baru yang berfokus kepada skema pembiayaan produktif bisnis baru berbasis feasibility study dengan kurasi yang ketat oleh pemerintah dan asosiasi pengusaha,” ujarnya dalam keterangannya, Senin, 25 Mei.
Menurut Anthony, konsep Youth Development Bank bukan hanya menyediakan pinjaman berbunga rendah, tetapi juga membangun sistem pembiayaan yang benar-benar mendukung lahirnya pengusaha baru di Indonesia.
Ia menjelaskan bahwa pembiayaan nantinya diberikan berdasarkan kelayakan usaha dan prospek bisnis, bukan semata-mata berdasarkan aset atau agunan yang dimiliki calon pengusaha.
Anthony menilai banyak anak muda memiliki ide bisnis yang inovatif dan potensial, namun kesulitan berkembang akibat sistem pembiayaan konvensional yang belum ramah terhadap pelaku usaha pemula.
“Yang kita perjuangkan bukan sekadar bunga yang murah, melainkan jaminan akses pembiayaan yang nyata bagi lahirnya pengusaha-pengusaha muda baru,” tegasnya.
Dalam skema yang diusulkan, Youth Development Bank akan menerapkan bunga kompetitif sekitar 2 hingga 3 persen di atas BI Rate agar tetap sehat secara bisnis sekaligus tetap terjangkau bagi pelaku usaha muda.
Anthony juga menekankan pentingnya proses kurasi agar pembiayaan tepat sasaran dan diberikan kepada usaha yang memiliki prospek serta dampak ekonomi nyata.
Ia menambahkan proses tersebut akan melibatkan pemerintah dan asosiasi pengusaha guna memastikan kualitas dan keberlanjutan bisnis yang didanai.
Selain itu, Anthony menyoroti masih adanya kesenjangan akses modal antara pengusaha di kota besar dan daerah, lantaran, banyak pengusaha muda di daerah memiliki potensi besar, tetapi belum mendapatkan dukungan pembiayaan yang memadai.
BACA JUGA:
Melalui gagasan ini, ia berharap HIPMI mampu menjadi motor penggerak lahirnya pusat-pusat ekonomi baru di berbagai daerah sekaligus mempercepat regenerasi pengusaha nasional.
Anthony menilai Indonesia membutuhkan lebih banyak pengusaha muda produktif untuk menghadapi tantangan ekonomi global, bonus demografi, hingga percepatan digitalisasi ekonomi.
“Kalau akses pembiayaan hanya dinikmati kelompok tertentu, maka pengusaha baru akan sulit lahir. Padahal Indonesia membutuhkan lebih banyak entrepreneur muda untuk menciptakan lapangan kerja dan memperkuat ekonomi nasional,” ujarnya.