JAKARTA - PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) optimistis kinerja perseroan di tahun ini tetap mampu tumbuh di tengah tantangan geopolitik global saat ini.
Direktur Utama Sido Muncul Dr. (H.C.) Irwan Hidayat Irwan Hidayat mengatakan tetap mewaspadai sejumlah tantangan eksternal, termasuk dinamika geopolitik global yang mendorong kenaikan harga bahan kemasan atau packaging. Meski demikian, kondisi tersebut dinilai masih dapat dikelola dengan mengandalkan sekitar 90 persen bahan baku berasal dari dalam negeri, sehingga dampak fluktuasi nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah relatif terbatas.
“Dengan 90 persen bahan baku berasal dari dalam negeri, dampak fluktuasi nilai tukar dolar AS terhadap rupiah relatif terbatas,” ujarnya belum lama ini.
Secara jangka panjang SIDO berstrategi untuk memperkuat investasi pada sektor hulu herbal nasional. Perseroan memperkuat riset untuk meningkatkan kualitas tanaman rempah sebagai bahan baku utama produk herbal.
Tidak hanya itu, perusahaan juga mengembangkan penelitian tanaman obat untuk berbagai penyakit seperti kanker, diabetes mellitus, hingga peningkatan daya tahan tubuh. Beberapa produk juga tengah memasuki tahap uji praklinis.
Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, Sido Muncul meluncurkan platform edukasi digital HerbalPedia untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pengobatan berbasis herbal sekaligus memperkuat penetrasi produk suplemen herbal. Ekspansi pasar internasional juga terus didorong. Tahun ini, perusahaan membidik masuk ke pasar Arab Saudi serta memperluas penetrasi di kawasan Asean dan Afrika melalui jalur pasar mainstream.
“Kami juga tetap menjaga kualitas produk secara konsisten di seluruh lini bisnis serta mengoptimalkan efisiensi biaya melalui optimalisasi produksi, kemasan, pengelolaan pemasok, iklan promosi, serta rantai pasok,” lanjutnya.
Berdasarkan laporan keuangan hingga 31 Maret 2026, Sido Muncul mencatat pendapatan sebesar Rp640,5 miliar atau turun sekitar 19 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp789,1 miliar. Namun, Irwan menjelaskan penurunan tersebut disebut bukan disebabkan melemahnya permintaan konsumen, melainkan akibat normalisasi persediaan di tingkat distributor.
BACA JUGA:
Akumulasi stok tersebut dipengaruhi oleh pola penjualan berjenjang dan pembelian distributor dengan harga lama pada akhir tahun 2025. Menurutnya persediaan barang yang terlalu tinggi di tingkat distributor berpotensi menimbulkan inefisiensi dan merusak harga produk.
Meski demikian, permintaan pasar di tingkat ritel disebut masih kuat, terutama di wilayah Pulau Jawa dan Sumatra. Produk-produk herbal Sido Muncul seperti Tolak Angin, Kuku Bima Ener-G!, Esemag, dan Tolak Linu masih mendominasi pasar herbal nasional.
Bahkan, Tolak Angin disebut menguasai sekitar 72 persen pangsa pasar. Sejauh ini dia menilai industri herbal masih memiliki prospek cerah seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan gaya hidup alami.