Bagikan:

JAKARTA - Biaya bahan bakar maskapai Amerika Serikat melonjak tajam pada Maret. Tagihannya naik 56,4 persen dibanding bulan sebelumnya, di tengah kenaikan harga minyak yang menekan industri penerbangan.

Dilansir Anadolu Agency, Kamis, 7 Mei, data Biro Statistik Transportasi atau BTS di bawah Departemen Transportasi AS menunjukkan total belanja bahan bakar maskapai berjadwal naik menjadi 5,06 miliar dolar AS pada Maret. Pada Februari, angkanya masih 3,23 miliar dolar AS.

Dibanding Maret 2025, belanja bahan bakar itu juga naik 30,4 persen dari 3,88 miliar dolar AS.

Maskapai AS menggunakan 1,615 miliar galon bahan bakar pada Maret. Angka itu naik 19,5 persen dari Februari dan sedikit lebih tinggi dibanding periode sama tahun lalu.

Tekanan terbesar datang dari harga per galon. Rata-rata biaya bahan bakar naik menjadi 3,13 dolar AS per galon pada Maret, dari 2,39 dolar AS pada Februari. Artinya, naik 30,9 persen hanya dalam sebulan.

BTS menyatakan data tersebut menggunakan harga berlaku dan belum disesuaikan secara musiman. Biaya bahan bakar maskapai juga bisa dipengaruhi kontrak lindung nilai untuk membatasi risiko perubahan harga.

Kenaikan harga bahan bakar ini langsung memukul maskapai berbiaya rendah. Spirit Airlines pada 2 Mei mengumumkan mulai menghentikan operasi secara tertib dan membatalkan seluruh penerbangan.

Perusahaan menyebut kenaikan harga minyak dan tekanan bisnis lain telah merusak prospek keuangannya. Spirit juga tidak lagi memiliki pendanaan tambahan.

CEO Spirit Dave Davis mengatakan perusahaan sebenarnya telah mencapai kesepakatan restrukturisasi dengan pemegang obligasi pada Maret. Rencana itu semula diharapkan membuat Spirit tetap beroperasi. Namun, kenaikan harga bahan bakar yang tiba-tiba dan berkelanjutan membuat perusahaan tidak punya pilihan selain menghentikan operasi.

Departemen Transportasi AS kemudian menyiapkan langkah bersama maskapai lain untuk membantu pemegang tiket Spirit dan karyawan yang terdampak.