JAKARTA - Maskapai Eropa kembali masuk masa sulit. Harga avtur yang melonjak akibat konflik Timur Tengah membuat biaya penerbangan membengkak dan tarif tiket berpotensi makin mahal.
Dilansir Xinhua, Kamis, 7 Mei, sektor penerbangan Eropa kini menghadapi krisis paling berat sejak pandemi 2020. Harga bahan bakar pesawat naik ke level tertinggi dalam beberapa tahun dan memaksa sejumlah maskapai besar mengubah strategi.
Lufthansa menjadi salah satu yang paling terdampak. Dalam laporan kuartal I yang dirilis Rabu, maskapai Jerman itu menyebut telah melakukan lindung nilai sekitar 80 persen kebutuhan avturnya. Namun, biaya bahan bakar pada 2026 tetap diperkirakan naik 1,7 miliar euro atau sekitar 2 miliar dolar AS. Angka itu hampir 24 persen lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.
Lufthansa berencana menutup beban tambahan itu lewat kenaikan pendapatan tiket, penataan jaringan penerbangan, dan pemangkasan biaya.
“Krisis yang sedang berlangsung di Timur Tengah, ditambah kenaikan biaya bahan bakar dan kendala operasional, menimbulkan tantangan sangat besar bagi ekonomi global, industri penerbangan, dan perusahaan kami,” kata CEO Lufthansa Carsten Spohr dikutip Xinhua.
BACA JUGA:
Asosiasi Transportasi Udara Internasional atau IATA mencatat harga avtur melonjak 106,6 persen secara tahunan pada Maret. Di Eropa, harganya naik ke level tertinggi sejak 2022.
Direktur Jenderal IATA Willie Walsh mengatakan industri penerbangan memang lebih kuat dibanding saat lockdown pandemi 2020. Namun, krisis bahan bakar saat ini menjadi guncangan paling tajam bagi penerbangan global sejak COVID-19.
Masalahnya, Eropa tidak sepenuhnya mandiri soal bahan bakar pesawat. Studi Allianz Trade menyebut kawasan itu hanya memproduksi separuh kebutuhan kerosin domestik. Sisanya bergantung pada impor.
Dampaknya mulai terasa ke penumpang. Air France-KLM berencana mengenakan biaya tambahan hingga 50 euro untuk penerbangan jarak jauh. EasyJet dan Ryanair juga memperingatkan harga tiket bisa naik lagi jika pasokan bahan bakar tetap ketat. Lufthansa sudah lebih dulu menaikkan harga tiket.
Analis Allianz Trade memperkirakan tarif penerbangan internasional telah naik 5 persen hingga 15 persen.
Lufthansa bahkan mengevaluasi opsi persinggahan untuk rute jarak jauh ke Asia dan Afrika. Langkah itu disiapkan jika terjadi gangguan pengisian bahan bakar di bandara tujuan.
Spohr menggambarkan situasinya dengan kalimat pendek, tetapi telak: “Kami hanya bisa terbang jika memiliki bahan bakar.”