JAKARTA - Maskapai-maskapai Thailand mulai mendesak pemerintah memangkas pajak bahan bakar pesawat setelah harga minyak dunia melonjak tajam. Mereka menilai biaya operasional sudah makin berat dan sulit terus ditanggung sendiri.
Laporan Emirates 24/7 yang dikutip Selasa, 17 Maret, menyebut Asosiasi Maskapai Thailand pada Senin memperingatkan bahwa industri penerbangan sedang menghadapi tekanan besar akibat kenaikan harga energi yang dipicu perang di Timur Tengah. Bagi Thailand, persoalan ini sensitif karena sektor penerbangan menjadi salah satu penopang utama ekonomi dan pariwisata.
Presiden asosiasi itu yang juga CEO Bangkok Airways, Pudthipong Prasarttong-Osoth, mengatakan campur tangan pemerintah dibutuhkan untuk menahan guncangan. Menurutnya, keringanan pajak avtur perlu diberikan agar aktivitas perjalanan tetap bergerak ketika ongkos bahan bakar terus naik.
BACA JUGA:
Desakan itu muncul saat minyak mentah Brent bergerak di sekitar US$105 per barel dalam perdagangan Senin. Reuters dan Associated Press juga mencatat Brent berada di kisaran itu setelah melonjak lebih dari 40 persen sejak perang meletus pada 28 Februari. Meski sempat turun tipis dari puncak intrahari, harganya tetap tinggi dan pasar masih belum tenang.
Bagi maskapai, kenaikan harga minyak seperti ini langsung terasa. Avtur adalah salah satu biaya terbesar dalam operasional penerbangan. Saat ongkos bahan bakar naik, ruang gerak maskapai ikut menyempit. Itu kenapa permintaan pemotongan pajak menjadi cara paling cepat yang mereka dorong ke pemerintah.