Bagikan:

JAKARTA - Akses menuju Ibu Kota Nusantara (IKN) dari Balikpapan akan semakin singkat seiring progres pembangunan Jalan Tol IKN Seksi 3A–2 yang kini telah mencapai tahap fungsional.

Ruas tol yang menjadi bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) tersebut ditargetkan selesai pada akhir 2026 dan mulai beroperasi penuh pada Januari 2027.

Kehadiran tol tersebut akan memangkas waktu tempuh dari Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman menuju IKN menjadi sekitar 60 menit.

Pembangunan ruas Tol IKN Seksi 3A–2 yang dimulai sejak 21 Desember 2023 telah difungsikan secara terbatas pada periode Natal dan Tahun Baru 2025/2026 pada 20 Desember 2025.

Status fungsional memungkinkan ruas tol digunakan untuk mendukung kelancaran lalu lintas pada periode tertentu meski proses konstruksi masih berjalan.

Selanjutnya, ruas itu kembali difungsikan saat arus mudik dan balik Lebaran 2026 mulai 13 Maret 2026 atau setelah 813 hari pelaksanaan proyek.

Secara keseluruhan, penyelesaian proyek ditargetkan pada 31 Desember 2026 dan akan mulai dioperasikan penuh pada Januari 2027 setelah melalui uji kelayakan oleh otoritas terkait.

Ruas Tol IKN Seksi 3A–2 menjadi penghubung antara Jalan Tol Balikpapan–Samarinda dengan kawasan IKN dan Penajam Paser Utara (PPU).

Dengan panjang akses sekitar 70 kilometer, jalan tol tersebut diklaim mampu memangkas waktu perjalanan hingga 90 menit dibandingkan kondisi sebelumnya.

Lingkup pekerjaan proyek meliputi pembangunan jalan at-grade sepanjang 2,34 kilometer, struktur elevated pile slab sepanjang 1,745 kilometer, jembatan, Simpang Susun Karangjoang hingga exit tol.

Jalan dirancang memiliki dua lajur dan lebar 11,25 meter menggunakan kombinasi struktur at-grade dan slab on pile yang disesuaikan dengan kondisi tanah di Kalimantan Timur.

Saat ini, sejumlah pekerjaan lanjutan masih berlangsung, antara lain penyelesaian ramp, struktur slab on pile, erection steel box girders pada beberapa titik, perkerasan jalan serta proteksi lereng dan beautifikasi di sejumlah segmen.

Proyek tersebut dikerjakan melalui skema Integrated Joint Operation yang melibatkan sejumlah BUMN, yakni PT Hutama Karya (Persero), PT Adhi Karya (Persero) Tbk, PT Nindya Karya (Persero) dan PT Brantas Abipraya (Persero).

Dalam proses konstruksi, proyek menghadapi tantangan berupa kondisi tanah labil jenis clay shale yang mudah bergeser serta curah hujan tinggi yang memengaruhi stabilitas lereng dan produktivitas pekerjaan.

Untuk mengatasinya, digunakan sejumlah teknologi konstruksi, seperti Building Information Modeling (BIM), Light Detection and Ranging (LiDAR), drone photogrammetry serta sistem manajemen proyek berbasis digital.

Penerapan teknologi itu disebut mampu meningkatkan keselamatan kerja, kualitas konstruksi serta efisiensi waktu pelaksanaan dibandingkan metode konvensional berbasis darat.

Sebanyak 527 tenaga kerja terlibat dalam proyek tersebut dengan sekitar 15 persen merupakan tenaga lokal Kalimantan Timur. Hutama Karya juga melakukan pelatihan teknis dan sertifikasi profesi guna meningkatkan kompetensi pekerja.

Pelaksana Tugas (Plt) Executive Vice President (EVP) Sekretaris Hutama Karya Hamdani menuturkan, pencapaian tahap fungsional tersebut menunjukkan kesiapan perseroan dalam menangani proyek strategis dengan kompleksitas tinggi.

"Fungsionalnya ruas ini menunjukkan kesiapan Hutama Karya dalam mengerjakan proyek strategis dengan kompleksitas tinggi, baik dari sisi teknis maupun kondisi geografis serta mendukung percepatan konektivitas menuju IKN," ujar Hamdani dikutip dari keterangan tertulis, Kamis, 7 Mei.