Bagikan:

JAKARTA - Menteri Kelautan dan Perikanan (KP) Sakti Wahyu Trenggono membeberkan, sejumlah dampak konflik timur tengah terhadap sektor perikanan di Tanah Air. Sedikitnya, ada tiga dampak baik secara langsung maupun tidak langsung akibat dinamika geopolitik di Timur Tengah tersebut.

Antara lain, ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) bagi nelayan menjadi terbatas, ketidakstabilan logistik dan rantai pasok serta gangguan ketersediaan pasokan bahan baku pakan ikan.

Hal itu diungkap Trenggono dalam Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 7 April.

"Saya kira semua sudah tahu bahwa dinamika geopolitik global sangat berdampak, salah satunya di KKP juga sangat berdampak, di antaranya adalah soal penggunaan bahan bakar minyak untuk para nelayan yang 100 persen hingga saat ini masih menggunakan BBM," ujar Trenggono.

Lalu, kata Trenggono, dinamika geopolitik di Timur Tengah juga menyebabkan ketidakstabilan logistik dan rantai pasok. "Kemudian, harga-harga akibat dari distribusi juga masih terpengaruh, sehingga rantai pasok dari hasil perikanan juga berpotensi mengakibatkan penurunan volume ekspor hingga penurunan daya saing produk perikanan Indonesia di pasar global," kata dia.

Kemudian, dampak ketiga yakni adanya gangguan ketersediaan pasokan bahan baku pakan ikan. Terganggunya pasokan bahan baku yang dibutuhkan untuk produksi pakan ikan dapat berdampak pada produktivitas pembudidaya ikan.

Tak hanya konflik di Timur Tengah, sektor perikanan nasional juga turut menghadapi tekanan dari dalam, yakni adanya fenomena El Nino 'Godzilla'. Berdasarkan kajian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Trenggono bilang, Indonesia diperkirakan akan menghadapi fenomena El Nino 'Godzilla' yang ditandai dengan anomali iklim ekstrem pada periode April hingga Oktober 2026.

Menurut Trenggono, situasi tersebut menghadirkan dua sisi tidak dapat dipisahkan, yaitu tantangan harus diwaspadai sekaligus peluang yang perlu dimanfaatkan secara cermat. Dari perspektif risiko, lanjut dia, fenomena tersebut berpotensi memicu tekanan ras serius di wilayah daratan, pesisir maupun lautan.

"Termasuk peningkatan kerentanan terhadap ekosistem pesisir dan laut, tingginya tingkat evaporasi dapat menyebabkan lonjakan salinitas berimplikasi pada meningkatnya risiko wabah penyakit pada komoditas budi daya serta berpotensi mempercepat degradasi sistem karbon biru yang pada akhirnya dapat meningkatkan emisi karbon secara signifikan," jelasnya.