JAKARTA - Harga pupuk melonjak di tengah perang Iran, saat petani di Belahan Bumi Utara masuk musim pemupukan dan petani di Belahan Bumi Selatan sibuk menyelesaikan panen. CNBC yang dikutip Kamis, 26 Maret, melaporkan, gangguan di Selat Hormuz kini tak hanya mengguncang minyak dan gas, tetapi juga menekan pasokan pupuk global dan memicu ancaman baru bagi ketahanan pangan.
Sekitar sepertiga perdagangan pupuk dunia yang diangkut lewat laut melintasi Selat Hormuz. Jalur vital di perbatasan selatan Iran itu terganggu berat sejak perang dimulai. Lalu lintas kapal nyaris berhenti, bahkan beberapa kapal dilaporkan terkena proyektil di sekitar perairan tersebut.
Dampaknya langsung terasa pada harga. Seperti ditulis CNBC, sejak Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari, harga pupuk yang banyak diproduksi di Timur Tengah melonjak tajam. Harga FOB urea granular di Mesir, salah satu acuan pupuk nitrogen, disebut naik ke sekitar 700 dolar AS per ton metrik, dari sebelumnya 400 hingga 490 dolar AS. Oxford Economics mencatat harga urea naik sekitar 50 persen dan amonia 20 persen sejak perang pecah. Pupuk lain seperti potas dan sulfur juga ikut naik.
Tekanan pasar membesar karena yang terganggu bukan satu-dua pemasok. Menurut CRU, sekitar 30 persen pemasok ekspor pupuk dunia kini praktis tidak tersedia di pasar, termasuk dari Arab Saudi, Qatar, Bahrain, dan Iran. Iran sendiri merupakan produsen penting pupuk nitrogen dan salah satu eksportir besar dunia. Untuk sulfur, hampir 50 persen perdagangan global berasal dari kawasan itu. Untuk urea sekitar sepertiga, sedangkan amonia mendekati 25 persen.
BACA JUGA:
Masalah paling rawan ada pada nitrogen. Pupuk ini tidak bisa ditunda pemakaiannya. Petani masih bisa melewatkan satu musim potas atau fosfat, tetapi tidak untuk nitrogen. Urea dipakai luas untuk tanaman utama seperti jagung, gandum, kanola, serta sejumlah buah dan sayuran. Jika pasokan terganggu saat musim pemupukan berjalan, hasil panen berisiko turun.
Produksi pupuk juga ikut terpukul. CNBC menulis, tekanan tidak hanya datang dari distribusi yang tersendat, tetapi juga dari terbatasnya fasilitas penyimpanan untuk produk yang gagal dikirim dan penghentian sebagian fasilitas energi di Timur Tengah. QatarEnergy bahkan menghentikan produksi hilir urea setelah menutup produksi gas alam cair. Di saat yang sama, China, salah satu eksportir pupuk besar dunia, membatasi ekspor untuk melindungi pasar dalam negerinya.
Meski begitu, pasar pangan global masih memiliki stok penyangga pada awal 2026. Bantalan ini bisa menahan sebagian tekanan pada jagung, gandum, kedelai, dan beras. Namun para analis kepada CNBC, memperingatkan, penurunan hasil pertanian 5 persen saja sudah cukup memicu inflasi pangan, terutama di negara-negara berkembang.
Risiko terbesar diperkirakan menghantam India dan kawasan Afrika Timur. Amerika Serikat juga tidak sepenuhnya aman karena sekitar sepertiga pupuk nitrogen, fosfat, dan potas yang digunakan di negara itu masih berasal dari impor. Tekanan itu sudah terasa. Sebanyak 54 kelompok pertanian di AS mengirim surat kepada Presiden Donald Trump untuk meminta keringanan pasar di tengah lonjakan harga bahan bakar dan pupuk.