JAKARTA - Harga minyak turun dan bursa saham dunia menguat di tengah harapan meredanya konflik di Timur Tengah. The Guardian yang dikutip Kamis, 26 Maret, melaporkan, sentimen pasar terdorong oleh kabar bahwa Amerika Serikat mengirim kerangka damai 15 poin kepada Iran.
Penguatan pasar juga dipicu pernyataan Iran yang mengizinkan kapal “tidak bermusuhan” melintas di Selat Hormuz. Jalur sempit ini sangat vital karena dilalui sekitar 20 persen pasokan energi dunia. Karena itu, setiap sinyal pelonggaran langsung dibaca pasar sebagai peluang meredanya tekanan pasokan.
Pada Rabu, 25 Maret dini hari, harga minyak Brent sempat turun 4 persen hingga di bawah US$100 per barel. Namun, harga kemudian naik tipis dan bertahan di kisaran US$100 sepanjang hari. Pasar bergerak cepat, tetapi kepastian politik belum benar-benar ada.
Teheran membantah telah menggelar pembicaraan dengan Washington sejak perang pecah. Itu sebabnya penguatan pasar lebih banyak bertumpu pada harapan damai, bukan hasil negosiasi yang sudah pasti.
BACA JUGA:
Meski begitu, bursa global tetap menghijau. Nikkei Jepang ditutup naik 2,9 persen dan Hang Seng Hong Kong bertambah sedikit di atas 1 persen. Di Eropa, FTSE 100 London menguat 1,4 persen, DAX Jerman naik 1,3 persen, dan CAC 40 Prancis bertambah sekitar 1,3 persen. Di Amerika Serikat, Nasdaq naik 0,7 persen, sementara S&P 500 dan Dow Jones masing-masing menguat sekitar 0,6 persen.
Gangguan di Hormuz sendiri belum reda. Badan Energi Internasional menyebut penutupan de facto oleh Iran sebagai gangguan pasokan minyak terbesar yang pernah terjadi. Data S&P Global yang dikutip The Guardian menunjukkan hanya empat kapal tercatat melintas pada Selasa, 24 Maret, jauh di bawah rata-rata harian 138 kapal sebelum perang.
Dampaknya juga menjalar ke pangan. Sepertiga pasokan pupuk dunia melewati Selat Hormuz. WTO memperingatkan gangguan pasokan pupuk bisa menekan produksi pangan global, memangkas hasil panen, dan mendorong harga naik.
Gejolak pasar turut menekan emas yang selama ini dianggap aset aman. Dilansir dari The Guardian, setelah sempat bertahan pada hari-hari awal perang, harga emas turun sekitar 13 persen ke level US$4.550 per ons, setelah sebelumnya menembus US$5.000 per ons pada Januari. Di saat yang sama, CEO BlackRock Larry Fink memperingatkan konflik berkepanjangan bisa mendorong harga minyak ke US$150 per barel dan memicu resesi global.