JAKARTA - Resapan air yang masuk ke dalam rongga tanah diduga menjadi penyebab awal longsoran tebing di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh.
Aliran air tersebut membuat rongga di bawah permukaan tanah melebar dan memicu pergerakan tanah secara progresif.
Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo pun telah meninjau langsung perkembangan penanganan longsoran tersebut pada Senin, 9 Maret.
Peninjauan dilakukan sebagai tindak lanjut dari kunjungan sebelumnya pada Februari 2026, sekaligus menindaklanjuti arahan Presiden Prabowo Subianto agar penanganan bencana dilakukan secara komprehensif dan terintegrasi.
Berdasarkan pemantauan di lapangan, panjang badan jalan terdampak longsoran kini mencapai sekitar 175 meter.
Longsoran sebelumnya sempat berkembang secara progresif hingga sekitar empat meter per hari akibat adanya aliran air masuk ke rongga tanah di bawah permukaan.
"Awalnya ada resapan air di bawah yang membuat lubang melebar. Bahkan sebelumnya sempat berkembang sampai sekitar empat meter per hari. Sekarang kami lihat sudah jauh berkurang karena saluran menuju ke lubang sudah mulai kering," ujar Dody dikutip dari keterangan tertulis, Rabu, 11 Maret.
Menurut Dody, pemerintah terus melakukan langkah-langkah teknis untuk menghentikan perkembangan longsoran dengan mengendalikan aliran air yang menjadi salah satu penyebab utama runtuhan.
"Sudah ada beberapa pekerjaan dikerjakan oleh teman-teman berdasarkan kajian teknis bersama tim pakar dari ITB dan Unsyiah. Tadi juga ada masukan dari Pak Bupati Bener Meriah yang kami minta tim untuk mengkaji lagi, salah satunya adalah kemungkinan pembangunan embung," katanya.
Seiring perkembangan longsoran, persimpangan menuju jalan detour pertama telah tergerus, sehingga jalur tersebut tidak lagi dapat digunakan.
Saat ini mobilitas masyarakat dialihkan melalui dua jalur alternatif lainnya, yaitu detour kedua sepanjang sekitar 2,2 kilometer dan detour ketiga sepanjang sekitar 5,3 kilometer.
Pada kedua jalur itu telah dilakukan penanganan sementara berupa perapihan badan jalan dan perkerasan menggunakan material sirtu, sehingga dapat dilalui kendaraan roda dua maupun empat.
Untuk memperkuat kajian teknis, Kementerian PU juga melakukan berbagai pengambilan data lapangan, antara lain survei Lidar, pengeboran borelog di dua titik, survei geolistrik pada lima lintasan, georadar serta pengamatan visual guna memetakan kondisi geologi kawasan secara lebih detail.
Selain itu, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh bersama Satuan Tugas Percepatan Penanganan Bencana Alam Provinsi Aceh Kementerian PU juga berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Tengah dan Pemkab Bener Meriah untuk melakukan relokasi saluran irigasi agar menjauh dari area longsoran.
Dody menegaskan, keselamatan menjadi prioritas utama dalam penanganan longsoran tebing tersebut.
BACA JUGA:
Karena itu, Kementerian PU saat ini memfokuskan upaya pada stabilisasi kondisi di sekitar lokasi sebelum dilakukan penguatan permanen.
"Paling penting sekarang adalah memastikan kondisi di sekitar longsoran benar-benar stabil dan aman. Kami tidak bisa memaksakan pekerjaan di titik lubang kalau masih ada potensi pergerakan. Karena itu, fokus kami saat ini adalah mengurangi aliran air dan melakukan penguatan lereng terlebih dahulu, baru kemudian dilakukan penanganan permanen supaya longsoran tidak melebar lagi," imbuhnya.